MENGAMBIL IBROH DARI KEPEMIMPINAN ABU BAKAR

Oleh Bahron Ansori*

Suatu umat akan disebut sebagai umat yang maju, manakala memiliki peradaban yang tinggi dan akhlak yang mulia, meskipun dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi masih sangat sederhana. Sedangkan pada umat yang menjalani kehidupannya dengan teknologi yang modern dan canggih, tapi tidak memiliki akhlak yang mulia, maka umat itu disebut sebagai umat yang terbelakang dan tidak menggapai kemajuan.

Abu Bakar dilahirkan pada tahun 573 M dari pasangan suku Quraisy Abu Quhafa dan Ummul Khair Salama. Nama asli Abu Bakar adalah Abdullah bin Abi Quhafa At Atamimi. Sebelum masuk Islam, namanya Abdul Kakbah.

Nama Abu Bakar adalah pemberian dari Rasulullah Saw karena dia termasuk orang yang segera masuk Islam. Dia termasuk dalam golongan assabiqunal awwalun, artinya golongan orang yang pertama kali masuk Islam. Sedangkan gelar As Siddiq artinya yang amat membenarkan, diberikan oleh Rasulullah Saw karena dia selalu membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah terutama dalam kaitan dengan peristiwa isra’ mi’raj. Banyak yang tak langsung percaya kala itu.

Abu Bakar berasal dari bani suku Quraisy bani Tamim yang sangat dihormati. Sejak muda dia rajin beribadah kepada Allah tapi tidak pernah menyembah berhala, tidak pula bermabuk-mabukan dan tidak melakukan perbuatan maksiat, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat ketika itu.

Ia adalah seorang pedagang yang sukses. Kejujurannya membuat dia selalu berhasil dalam berdagang. Dalam masyarakat Quraisy, dia terkenal sebagai sosok hartawan yang dermawan.

Setelah Islam datang dibawa Rasulullah, Abu Bakar segera menerimanya dan masuk Islam. Seluruh kekayaannya diserahkan untuk kepentingan penyebaran agama Islam. Dia pun gigih berdakwah untuk mengajak masyarakat memeluk agama Islam.

Perjuangannya  di Masa Rasulullah

Membebaskan kaum yang tertindas. Dia seorang bangsawan namun perhatiannya terhadap kaum yang lemah sangat tinggi. Dia menggunakan hartanya untuk membebaskan para budak yang masuk Islam dan membebaskan budak yang disiksa majikannya.

Di antara budak yang dibebaskan Abu Bakar adalah Bilal bin Rabbah.

Membela dan melindungi Rasulullah: Menghentikan perbuatan Uqbah bin Abi Muaith yang akan menjerat leher Rasulullah saat salat, menemani Rasulullah saat hijrah ke Madinah, Membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj, Mengobarkan semangat umat Islam dalam perang Badar.

Khalifah pengganti Rasulullah

Abu Bakar dipilih sebagai Khalifah berdasarkan musyawarah antara kaum Ansar dan kaum Muhajirin setelah Rasulullah wafat. Alasannya adalah karena beliau sudah banyak membantu dakwah Islam. Selain itu karena Abu Bakar adalah pengganti Rasulullah menjadi imam salat ketika Rasulullah Saw sakit.

Langkah-langkah yang dilakukan Khalifah Abu Bakar setelah menjadi khalifah adalah:  Pertama, perbaikan sosial. menumpas pemberontakan, memerangi kaum murtad (keluar dari islam), memerangi golongan yang tidak mau membayar zakat, memerangi nabi palsu seperti Musailamah Al Kazzab dan Tulaihah bin Khuwailid, Saj’ah Tamimiyah dan Aswad al Unsi. Yang membunuh Musailamah adalah Wahsyi.

Kedua, pengumpulan ayat-ayat Al Quran. Awalnya dDalam memerangi Musailamah dan kaum riddah (murtad), tewas sahabat yang hafal Al Quran sebanyak 70 orang. Sedangkan Al Quran ketika itu hanya ditulis di kayu, daun, tulang, batu, kulit binatang, sehingga dikhawatirkan mudah rusak dan hilang. Maka Umar bin Khattab mengusulkan  pada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat itu dan menuliskannya. Abu Bakar setuju dan menyuruh Zaid bin Sabit untuk menulisnya.

Ketiga, wilayah Islam meluas hingga ke Syria, Irak, Romawi, Persia dan Palestina. Dalam perluasan wilayah ini, umat Islam dipimpin oleh panglima-panglima Khalid bin walid, Amr bin Ash dan Usamah bin Zaid.

Pidato yang menginspirasi

Pidato pelantikan Khalifah Abu Bakar yang luar biasa, terus diulang dan jadi bahan pembelajaran pemimpin sampai sekarang, “Wahai sekalian manusia, kalian telah sepakat memilihku sebagai khalifah untuk memimpinmu. Aku ini bukanlah yang terbaik diantara kamu, maka bila aku berlaku baik dalam melaksanakan tugasku, bantulah aku, tetapi bila aku bertindak salah, betulkanlah. Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat. Siapa saja yang lemah di antaramu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, Insya Allah. Siapa  saja yang kuat di antaramu akan lemah berhadapan denganku, sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, Insya Allah. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat kepadaku.”

Dari pidato Khalifah Abu Bakar di atas, kita bisa menangkap keharusan seorang pemimpin untuk memiliki tujuh sifat sebagai bagian dari akhlak yang mulia.

Pertama, TAWADHU. Secara harfiyah tawadhu artinya rendah hati, lawannya adalah tinggi hati atau sombong. Dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar tidak merasa sebagai orang yang paling baik, apalagi menganggap sebagai satu-satunya orang yang baik. Sikap tawadhu bagi seorang pemimpin merupakan sesuatu yang sangat penting. Ini karena seorang pemimpin membutuhkan nasihat, masukan, saran, bahkan kritik.

Kalau pemimpin mempunyai sifat sombong, jangankan kritik, saran dan nasihatpun tidak mau diterimannya. Akibat selanjutnya, ia akan memimpin dengan hawa nafsunya sendiri dan ini sangat berbahaya. Karena itu kesombongan menjadi kendala utama bagi manusia untuk bisa masuk ke dalam surga. Karena itu, Allah Swt sangat murka kepada siapa saja yang berlaku sombong dalam hidupnya, apalagi para pemimpin. Sejarah telah menunjukkan bagaimana Fir’aun yang begitu berkuasa di mata rakyatnya, tapi berhasil ditumbangkan dengan penuh kehinaan melalui dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa dan Harun As.

Pertanyaannya, bagaimana dengan para pemimpin kita hari ini? Sudahkah bersikap tawadhu kepada umatnya? Atau malah sebaliknya merasa serba paling; paling pintar, paling kaya, paling banyak pengalaman, paling kuat, paling shaleh, paling banyak pengaruh dan sederet sifat paling lainnya. Jika pemimpin sudah tidak tawadhu, lalu bagaimana umat akan tawadhu kepada pemimpin.

Kedua, MENJALIN KERJASAMA. Dalam pidato Khalifah Abu Bakar di atas, tercermin juga akhlak seorang pemimpin yang harus dimiliki yakni siap, bahkan mengharapkan kerjasama dari semua pihak. Ia mengatakan,“Maka bila aku berlaku baik dalam melaksanakan tugasku, bantulah aku.”Ini berarti kerjasama yang harus dijalin antara pemimpin dengan umat.Menjalin kerjasama dalam kebaikan dan taqwa sebagaimana yang ditentukan Allah Swt dalam firmanNya, “Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa ,dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Qs. Almaidah :2).

Seorang pemimpin tentu tidak mungkin bisa menjalankan tugasnya sendirian, sehebat apapun dirinya, sebanyak apapun pengalamannya. Rasulullah Saw telah menunjukkan bagaimana menjalin kerjasama yang baik, mulai dari membangun masjid di Madinah hingga peperangan melawan orang-orang kafir, bahkan dalam suatu peperangan yang kemudian disebut dengan Perang Khandak, Rasulullah menerima dan melaksanakan pendapat Salman Al Farisi untuk mengatur strategi perang dengan cara menggali parit.

Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita hari ini ? Sudahkah ia terbuka mengajak umat untuk bekerjasama secara sukarela demi kemajuan dan kesejahteraan umatnya? Sudahkah pemimpin kita hari ini siap dan senang menerima atau melaksanakan masukan/ide/pendapat jika itu dirasa baik di mata Allah dan Rasul-Nya?

Ketiga, MENGHARAP KRITIK DAN SARAN. Seorang pemimpin, karena kedudukannya yang tinggi dan mulia dihadapan orang lain, ia pun mendapatkan penghormatan dari umatnya. Kemana pergi selalu mendapatkan pengawalan dan setiap ucapannya didengar umat. Dari sinilah banyak pemimpin sampai mengkultuskan dirinya sehingga ia tidak suka dengan kritik dan saran. Hal itu ternyata tidak berlaku bagi Khalifah Abu Bakar. Sejak awal kepemimpinannya, ia minta agar setiap orang mau memberikan kritik dan saran dengan membetulkan setiap kesalahan yang dilakukannya. Hal ini seperit diungkap dalam pidatonya, “Bila aku bertindak salah, betulkanlah.”

Sikap seperti ini dilanjutkan oleh Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah sehingga saat Umar mengeluarkan kebijakan yang meskipun baik maksudnya tapi menyalahi ketentuan yang ada, maka Umar mendapat kritik yang tajam dari seorang ibu yang sudah lanjut usia Ini membuat Umar  mencabut kembali kebijakan tersebut, yakni kebijakan larangan memberikan mahar atau mas kawin dalam jumlah yang banyak.

Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita hari ini? Sudahkah siap menerima kritik dan nasihat demi kebaikan dan keselamatan di akhirat?

Keempat, BERKATA DAN BERBUAT BENAR. Khalifah Abu Bakar juga sangat menekankan kejujuran atau kebenaran dalam berkata maupun berbuat, bahkan hal ini merupakan amanah dari Allah Swt. Hal ini karena manusia atau umat yang dipimpin kadangkala bahkan seringkali tidak tahu atau tidak menyadari kalau mereka sedang ditipu dan dikhianati oleh pemimpinnya. Dalam pidato saat pelantikannya sebagai khalifah, Abu Bakar menyatakan, “Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat.”

Manakala seorang pemimpin memiliki kejujuran, ia akan dapat memimpin dengan tenang, karena kebohongan akan membuat pelakunya menjadi tidak tenang sebab ia takut kebohongan itu diketahui orang lain sehingga akan merusak citra dirinya. Di samping itu, kejujuran akan membuat seorang pemimpin berusaha untuk terus mencerdaskan umatnya, sebab pemimpin yang tidak jujur, tidak ingin umatnya cerdas, karena kecerdasan membuat orang tidak bisa dibohongi.

Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita hari ini yang banyak mengumbar janji ? Sudahkah ia mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya menjadi orang-orang yang berkata baik dan berbuat benar ? Atau sebaliknya membiarkan umatnya tanpa bimbingan dan pembinaan yang terorganisir dengan baik sesuai anjuran Allah dan Rasul-Nya?

Kelima, MEMENUHI HAK-HAK UMAT. Setiap pemimpin harus mampu memenuhi hak-hak umat yang dipimpinnya, bahkan bila hak-hak mereka dirampas oleh orang lain, maka seorang pemimpin itu akan berusaha mengembalikan kepada mereka. Karena itu bagi Khalifah Abu Bakar, tuntutan terhadap hak-hak umat akan selalu diusahakannya meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah sehingga seolah-olah mereka itu adalah orang yang kuat, namun siapa saja yang memiliki kekuatan atau pengaruh yang besar bila mereka suka merampas hak orang lain, maka mereka dipandang sebagai orang yang lemah dihadapan Abu Bakar. Akhlak pemimpin seperti ini tercermin dalam pidato Khalifah Abu Bakar yang menyatakan, “Siapa saja yang lemah di antaramu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah.”

Akhlak yang seharusnya ada pada pemimpin tidak hanya menjadi kalimat-kalimat yang indah dalam pidato Khalifah Abu Bakar, tapi ia buktikan hal itu dalam kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya sebagai seorang pemimpin. Satu diantara kebijakannya adalah memerangi orang-orang kaya yang tidak mau bayar zakat, karena dari harta mereka terdapat hak-hak bagi orang yang miskin.

Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita hari ini? Sudahkah para pemimpin hari ini memenuhi hak-hak umatnya? Atau malah sebaliknya mempersulit kehidupan umat? Menjanjikan ini itu sehingga umatnya terbuai dengan janji-janji manis dan palsu itu?

Kelima, MEMBERANTAS KEZALIMAN. Kezaliman merupakan sikap dan tindakan yang merugikan umat dan meruntuhkan kekuatan Jama’ah. Karena itu, para pemimpin tidak boleh membiarkan kezaliman terus berlangsung. Ini artinya, seorang Khalifah dan pembantu-pembantunya bukan hanya tidak boleh bertindak zalim kepada rakyatnya, tapi justeru kezaliman yang dilakukan oleh orang lain kepada umatnya pun menjadi tanggungjawabnya untuk diberantas. Karenanya bagi Khalifah Abu Bakar, sekuat apapun atau sebesar apapun pengaruh pelaku kezaliman akan dianggap sebagai kecil dan lemah dihadapannya. Ini tercermin dalam pidatonya, “Siapa saja yang kuat diantaramu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah.”

Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita hari ini? Sudahkah berusaha memberantas kezaliman yang menimpa umatnya? Atau malah sebaliknya; menzalimi umat?

Keenam, MENUNJUKKAN KETAATAN KEPADA ALLAH. Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang mengarahkan umatnya untuk mentaati Allah Swt dan RasulNya. Karena itu, iapun harus menunjukkan ketaatan yang sesungguhnya. Namun bila seorang pemimpin tidak menunjukkan ketaatannya kepada kepada Allah dan RasulNya, maka umatpun tidak memiliki kewajiban untuk taat kepadanya. Dalam kaitan inilah, Khalifah Abu Bakar menyatakan dalam pidatonya, “Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Bila aku tidak taat lagi kepada Allah dan RasulNya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat kepadaku.”

Dengan demikian, ketaatan kepada pemimpin tidak bersifat mutlak sebagaimana mutlaknya ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Jnilah di antara isyarat yang bisa ditangkap dari firman Allah yang tidak menyebutkan kata taat saat menyebut ketataan kepada pemimpin (ulil amri) dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri diantara kamu.” (Qs. An Nisa : 59).

Subhanallah…Betapa mulia akhlak pemimpin seperti Khalifah Abu Bakar itu. Bagaimana dengan para pemimpin kita hari ini ? Adakah akhlaknya sama seperti Khalifah Abu Bakar itu dalam memimpin umat? (R2/IR).

**Redaktur Miraj News Agency (MINA)

 

Miraj News Agency

 

Leave a Reply