MESIR BUKA PERLINTASAN RAFAH HINGGA BESOK

Rafah, 6 Rabi’ul Awwal 1435/8 Januari 2014 (MINA) –  Pemerintah Mesir akhirnya Rabu dan Kamis membuka perlintasan Rafah setelah ditutup selama hampir dua pekan.

Pusat Informasi Palestina melaporkan, gerbang Rafah kembali dibuka Rabu (8/1) pagi, sejumlah kendaraan dari Jalur Gaza segera mulai bergerak menuju Mesir.

Direktorat Jenderal Perlintasan Batas Palestina meminta para mahasiswa dan orang yang mempunyai surat izin tinggal di Mesir segera bergerak menuju perlintasan untuk segera keluar dari Jalur Gaza.

Mesir menutup penyeberangan antara Jalur Gaza (Palestina) dan Rafah (Mesir) itu sejak 27 Desember 2013, dan selama itu hanya  dibuka khusus untuk delegasi kemanusiaan dari Italia untuk masuk ke Jalur Gaza, Rabu (1/1) lalu.

Pemerintah Mesir  akhirnya memutuskan membuka gerbang perlintasan Rafah dengan Jalur Gaza pada Rabu (8/1) ini dan Kamis (9/1) besok, pukul 9 pagi hingga 3 sore.

Jumlah orang Palestina yang terdaftar di Kementerian Dalam Negeri Palestina untuk pergi ke Mesir dibatasi sampai  5.000 orang saja, sehingga tak semua peminat mendapat izin.

Seorang peneliti dari Pusat Hak Asasi Manusia (HAM) Palestina, Fadel Almzainy mengatakan, kondisi di Jalur Gaza sangat sulit karena itu pemerintah Mesir diimbau untuk  mempertimbangkan kembali kebijakan pembukaan perbatasan Rafah atas pertimbangan kemanusiaan, mengingat penderitaan yang terjadi di Gaza akibat blokade sewenang-wenang Israel.

“Israel harus bertanggung jawab atas blokade ini,” ujar Almzainy.

“Tidak semua orang yang ingin melakukan perjalanan di perlintasan Rafah dapat melakukan perjalanan, karena Mesir membatasi sampai 5.000 orang saja” tambahnya sebagaimana dikutip Media Palestina Palestine News Network.

Sejak militer menggulingkan Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang dipilih secara sah, militer Mesir telah memperketat kontrol atas perbatasan dengan Jalur Gaza.

Perlintasan Rafah adalah satu-satunya pintu untuk  sekitar 1,8 juta penduduk Gaza buat memasuki dunia luar akibat blokade Israel yang telah berlangsung selama  tujuh tahun  terhadap daerah kantong Palestina itu dan terus berlanjut hingga sekarang.

Keadaan ini diperparah lagi dengan larangan rezim militer Mesir yang mengakibatkan ribuan orang yang akan keluar/masuk Jalur Gaza-Mesir terlantar di perbatasan kedua negara itu (Palestina-Mesir).

Blokade Israel dan kebijakan penutupan Rafah oleh Mesir telah membatasi impor dan ekspor dari/ke  Jalur Gaza dan telah menyebabkan krisis kemanusiaan dan kesulitan memperoleh bahan pokok, bahan bakar dan kehidupan yang layak bagi warga Gaza.Penutupan total Rafah telah menjadikan Jalur Gaza sebagai “penjara terbesar di dunia”. (T/P02/IR)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Leave a Reply