PAKISTAN: KORBAN AKSI TERORISME DAN PERANG AS MELAWAN TERORISME

Oleh: Nanang Sunarto

“Setelah jatuh, tertimpa tangga pula” agaknya pas untuk menggambarkan kondisi Pakistan, karena menjadi korban aksi-aksi terorisme dan ekstrimisme, juga jatuhnya sejumlah korban warga sipil akibat serangan “drone” AS, ditambah lagi akibat  gencarnya pemberitaan  terutama  yang bersumber dari media Barat yang ikut menciptakan persepsi negatif  mengenai situasi keamanan di negara itu.

      Aksi-aksi terorisme dan kekerasan memang tidak  lepas dari Pakistan di tengah  gunjang-ganjing politik di dalam negeri dan  perang berkepanjangan yang berlangsung di negara tetangganya, Afganistan sejak lebih dari tiga dekade lalu.

      Pakistan harus menanggung beban untuk menampung jutaan  pengungsi yang berusaha menghindari dari ancaman kematian, aksi-aksi kekerasan  dan kelaparan dari Afganistan yang mengalir  dari jalur-jalur masuk di berbagai titik di sepanjang 2.560 Km tapal batas dengan Afganistan. Pengungsi, berbaur dengan kelompok militan Taliban,  melintas dari berbagai jalur di sepanjang wilayah semi  otonomi (Federally Administrated Tribal Area – FATA)  di perbatasan  yang dihuni oleh suku-suku lokal yang juga tidak lepas dari konflik di antara mereka sendiri, dan hanya kompak saat menghadapi ancaman dari luar.                                                                                                                               

      Dari  wilayah otonomi Khyiber Pakthunkhwa saja ada 128 jalur masuk (satu jalur resmi,  16 diantaranya yang jalur sering digunakan) pelintas batas termasuk kelompok militan.Sekitar 1.290 kendaraan dan 6.800 orang melintasi jalur-jalur tersebut setiap hari. Belum lagi dari Wilayah Baluchistan, terdapat 234 rute masuk (satu jalur resmi danempat 4 jalur yang sering digunakan )  yang diliwati 12.000 kendaraan dan 31.000 orang setiap hari .

      Selain kondisi alam berupa pegunungan  tandus diselang-selingi  jurang , lembah dan ngarai yang curam serta sungai-sungai, pencegahan masuknya pengungsi dan kelompok militan dari tapal batas dengan Afganistan juga terjadi akibat longgarnya penegakan hukum  termasuk hukum adat setempat (Pakhtunwali), saling ketergantungan ekonomi antar wilayah dan  budaya setempat.  

      Di wilayah Pakistan, para pengungsi ditampung di kamp-kamp  pengungsian tersebar di sejumlah wilayah perbatasan yang dibangun oleh pemerintah dan bantuan lembaga-lembaga internasional.                  

      Belum lagi, beban manusia yang diderita Pakistan, dengan hilangnya nyawa sekitar 10.000 anggota tentara dan polisi dalam berbagai operasi dan kampanye untuk memerangi  teroris serta 30.000 warga sipil. Perang melawan teroris sangat melelahkan militer dan aparat keamanan  Pakistan mengingat keberadaan mereka yang berbaur dengan warga di pemukiman  suku-suku setempat. Bahkan menurut data statistik, selama 2009, tercatat 10 anggota tentara Pakistan tewas setiap hari.

     Selain nyawa dan korban luka-luka, baik sipil maupun militer, pemerintah  Pakistan juga harus mengeruk kocek anggaran belanja pemerintah   lebih dalam untuk menggelar 150.000 pasukannya, merehabilitasi atau membangun kembali sarana  dan prasarana umum yang dirusak, belum lagi kerugian akibat hilangnya potensi pemasukan devisa dari sektor pariwisata atau investasi asing akibat situasi keamanan yang kurang kondusif .    

     Menteri Perekonomian  Pakistan Hina Rabbani (sekarang Menlu) pernah mengungkapkan, dalam kurun waktu tiga tahun saja (2007 – 2009) negaranya kehilangan 35 milyar dolar AS akibat peperangan dan aksi-aksi teroris.      

     Selain melancarkan 986 kali operasi militer sejak 2003, 251 kali diantaranya operasi berskala besar dan 735 operasi militer kecil-kecilan, militer Pakistan juga mendirikan 821 pos pengamatan, melakukan patroli, memberlakukan jam malam, membangun pagar dan pengawasan dengan biometric dalam upaya mencegah infiltrasi pelintas batas yang sering juga disusupi anggota Taliban.  

     Strategi yang diterapkan Pakistan adalah untuk membasmi aksi teroris dan mencegah agar wilayah negara itu tidak dijadikan tempat berlindung mereka dengan cara yang efektif melibatkan militer dan kekuatan politik serta melaksanakan  pembangunan kembali.

     Operasi-operasi  militer dilancarkan berdasarkan pertimbangan,  dapat diterima oleh publik, mendapat dukungan politik, dilakukan seperlunya dengan mempertimbangkan letak geografis, sejarah dan budaya setempat dan untuk membangun kepercayaan masyrakat.

     Tahapan operasi, dimulai dari pembersihan wilayah dari elemen teroris (clear), kemudian terus mempertahankan  situasi keamanan (hold), membangun kembali sarana dan prasarana umum yang rusak (build) dan tahap terakhir menyerahkan kembali (transfer) administrasi kewilayahan pada pemerintah dan aparat keamanan  lokal.

                                                                      Program deradikalisasi

     Khusus di wilayah wisata Swat, Propinsi Punjab yang semula dijadikan basis kelompok militan  Taliban melancarkan aksi-aksinya, militer Pakistan juga melakukan program deradikalisasi dalam upaya mencegah bangkitnya kembali aksi-aksi kelompok militan dan ekstrim di wilayah itu.

     Pertama kali, operasi militer dilancarkan pada untuk membersihkan wilayah lembah tersebut dari anasir-anasir militan Taliban setelah mereka melancarkan aksi kekerasan, pembunuhan dan  penyerangan terhadap kantor-kantor polisi, perusakan bangunan sekolah, rumah sakit, jembatan dan prasarana umum lainnya.

     Kemudian, dilakukan pengosongan wilayah  itu termasuk seluruh warga, dan dalam waktu sekitar tiga bulan, setelah administrasi pemerintahan lokal dibentuk dan bersih dari anasir kelompok Taliban, warga dipulangkan kembali.

     Program deradikalisasi bagi mantan kombatan Taliban dilakukan dengan menempatkan mereka pada pusat deradikalisasi yang berlokasi di wilayah Swat, ditangani oleh Divisi ke-19 Angkatan Darat Pakistan.

     Selain mengikuti training di bidang pilihan masing-masing seperti memelihara lebah, mengoperasikan komputer, menenun, memperbaiki alat elektronika , bengkel otomotif, para  ex-kombatan Taliban juga mendapatkan siraman rohani, misalnya mempraktekkan ajaran Islam secara  benar yakni haram untuk membunuh orang tidak berdosa atau melancarkan bom bunuh diri.

     Seusai program yang berlangsung tiga bulan tersebut,  para mantan pengikut Taliban dilepas kembali di tengah masyrakat setelah sebelumnya melalui tes kejiwaan. Mereka mendapatkan kemudahan bagi yang ingin melanjutkan pendidikan dan juga modal kerja bagi yang ingin berusaha.

     Program yang diselenggarakan mulai  Agustus 2010 itu saat ini sudah memasuki angkatan ke-9 dengan  total  lulusan sebanyak  l.066 peserta. Sekitar separuh dari  seluruhnya  63 peserta  Angkatan ke-9  buta aksara  atau  mereka yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah, dengan  usia rata-rata  antara  20 sampai 51 tahun.

      Salah seorang peserta Angkatan ke-9 Abdul Rahmen Ghani yang sedang berlatih memperbaiki alat elektronika mengaku ia hanya iku-ikutan menjadi anggota Taliban karena dibujuk seorang, dan sekarang ia sudah sadar untuk tidak mengulangi agi perbuatannya. Sementara peserta lainnya Moh. Natsir yang sedang mengikuti tes kejiwaan mengaku nyaman dan senang mengikuti program tersebut karena masa depannya terbuka kembali.

      Dalam kunjungan wartawan Indonesia ke markas besar Divisi 19 di baru-baru ini,  Panglima Divisi 19 Mayjen Ghulam Qamar merasa yakin bahwa para kombatan tersebut sudah tobat dan tidak ada ruang atau kesempatan bagi mereka bangkit kembali.

      “Bagaimana mereka bisa bangkit, jika rakyat tidak ada yang mau menerima mereka, “ tuturnya seraya menambakan seluruh rakyat akan menentang kehadiran Taliban karena trauma terhadap aki-aksi kelompok militan tersebut  yang hanya menciptakan kesengsaraan dan penderitaan.

      Namun demikian, tentu saja,siapapun atau negara manapun, katanya, akan mengalami kesulitan untuk mencegah aksi-aksi individual  yang dilakukan dengan berbagai motif dan secara tiba-tiba.

                                                                      Suasana Siaga

      Secara militer, seperti yang dinyatakan Dirjen Layanan Humas (DG-ISPR) Mayjen Asim Saleem Bajwa pada rombongan wartawan Indonesia, berkat operasi-operasi militer yang dilakukan, juga akibat serangan oleh pesawat tak berawak (drone) yang dilancarkan AS, secara militer, kekuatan Taliban sudah tidak berarti.

      Menurut dia, saat ini hanya tersisa sekitar lima persen kantong-kantong wilayah yang masih dikuasai Taliban di kawasan Wajiristan Utara, selebihya sudah berada di bawah pengawasan pemerintah atau di menjadi  wilayah otonomi .                                                                                                                                                     

     Sebagian pengamat juga menyebutkan, kelompok militan yang sudah hadir di sepanjang tapal batas  Afganistan untuk memerangi Soviet di era  ’80-an,mulai  mengalihkan medan perang ke Afrika dan Timur Tengah, dan jumlah mereka terus merosot karena keterbatasan ruang gerak akibat operasi-operasi militer yang dilancarkan Pakistan serta serangan pesawat-pesawat  tak berawak  (drone)  AS.

      Ratusan misi serangan udara menggunakan “drone”  dengan target para tokoh militan kelompok Taliban dan Al-Qaeda dilancarkan oleh AS sejak 2004, walaupun dikecam sejumlah kalangan karena dinilai menimbulkan kerusakan secara kolateral.  Walaupun memiliki presisi tinggi, bisa saja orang  tidak berdosa juga menjadi korban, misalnya jika target yang dikejar berbaur dalam satu bangunan dengan anggota keluarganya atau orang lain.

     Walau secara militer, agaknya tidak ada kesempatan bagi kelompok militan bangkit, namun Pakistan masih tetap menghadapi aksi-aksi teroris seperti yang terjadi di tiga tempat pekan lalu.  Sikap siaga tercermin antara lain dari penjagaan yang dilakukan aparat keamanan di sejumlah bangunan penting dan jalan-jalan seputar kota dan kota-kota besar di Pakistan.

      Di ibukota, Islamabad, misalnya, mulai dari Bandara Benazir Bhutto, tampak kendaraan militer taktis dilengkapi senapan mesin kaliber 12,7 berjaga-jaga, sementara di ruas-ruas jalan tampak aparat keamanan rata-rata dilengkapi senjata laras panjang AK-47 atau G-3 berjaga-jaga, begitu pula di hotel-hotel, rumah makan atau tempat kerumunan warga . Di sejumlah ruas jalan di alam kota juga tampak barikade-barikade terbuat dari beton, termasuk di jalan menuju diplomatic enclave di kawasan Ramna, lokasi Wisma Indonesia.

     Suasana keamanan di Lahore – kota terbesar kedua di Pakistan – juga diwarnai sikap siaga oleh aparat  keamanan. Petugas keamanan   mengawal  wartawan yang menyebar melihat-lihat di pusat belanja Liberty di kawasan Gulberg, Lahore sementara  alat detektor logam juga dipasang di pintu masuk kawasan wisata kuliner malam di dekat Mesjid Badshashi dan Benteng Lahore di kawasan kota tua Lahore.

Bahkan dengan sigapnya, pasukan bersenjata lengkap, mengenakan  helm dan jaket anti peluru, meloncat turun dan mengawal dalam formasi tempur saat kendaraan berisi rombongan wartawan terjebak macet di Pasar Mingora dalam perjalanan menuju Markas Besar Divisi l9 – kesatuan AD Pakistan yangmenangani program deradikaisasi –  di Khwaza Khaila , Propinsi Punjab.

      Pakistan, negeri dengan sekitar 170-juta penduduknya dikenal  kaya  dengan obyek wisata seperti peninggalan sejarah termasuk kota-kota tua  dengan bangunan-bangunan peninggalan dinasti kerajaan Hindu, Islam atau era  penjajahan Inggeris  seperti kuil, mesjid, benteng, museum  dan bangunan besejarah lainnya.

      Negeri  ini yang berbatasan dengan Afganistan, China, India dan Iran  juga dikenal dengan produk kerajinan seperti karpet, tenun, seni pahat, seni patung , bordir dan batu pualam dengan berbagai corak tergantung asal daerahnya . Lembah Swat yang subur dengan pemandangan indah atau upacara penurunan bendera di tapal batas India-Pakistan antara lain obyek wisata yang dikenal dunia.

      Namun situasi keamanan yang kurang kondusif akibat rangkaian aksi terror berkepanjangan dan menelan ribuan korban jiwa serta persepsi negatif akibat pemberitannya membuat para pelancong berfikir beberapa kali untuk berkunjung ke negeri ini.

      “Ya cuma kalian saja, “ kata Gubernur Punjab Makhdoom Ahmed Mehmood berseloroh di depan rombongan wartawan Indonesia saat ditanyakan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke wilayahnya.

     Jadi wajar saja jika para pejabat, cendekiawan, ilmiawan ataupara  wartawan Pakistan, bahkan pihak asing  menilai, Pakistan merupakan negeri yang menjadi korban aksi-aksi terorisme. Bahkan seorang pajabat Deplu AS, Philip J. Crowley mengakui: ” Tidak ada negeri yang lebih menderita akibat aksi-aksi teroris selain Pakistan”.  (T/E2/E1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Leave a Reply