PARLEMEN AFRIKA TENGAH DIPANGGIL BERUNDING DI CHAD

N’Djamena, Chad, 8 Rabi’ul Awwal 1435/10 Januari 2014 (MINA) – Seluruh anggota parlemen Republik Afrika Tengah berada di N’Djamena, ibukota Chad, setelah dipanggil  para pemimpin 10 negara Afrika tergabung dalam ECCAS,  yang sedang mengadakan perundingan mencari solusi damai bagi negara  yang bergolak itu.

Sebanyak 135 anggota parlemen itu berada Chad, N’Djamena, untuk membahas nasib Presiden Michel Djotodia, yang dikecam karena gagal mencegah kekerasan sektarian antara Muslim dan mayoritas Kristen. Demikian berita yang dimonitor Mi’raj News Agency (MINA), Jumat.

Presiden Chad Idriss Deby adalah Presiden ECCAS saat ini.

Pertemuan para pemimpin regional Afrika tentang krisis di Afrika Tengah ditangguhkan sebelumnya, untuk menunggu kedatangan para anggota Parlemen, yang suaranya sangat penting untuk setiap perubahan dalam lembaga-lembaga pemerintahan transisi di Republik Afrika Tengah.

Para pemimpin ECCAS bertemu secara terpisah dengan para anggota parlemen, dan dengan sementara Presiden Djotodia. Saat bersamaan  Djotodia mengadakan pembicaraan dengan sekutunya dari mantan aliansi pejuang Seleka, yang merebut kekuasaan  Maret tahun lalu.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Tengah (ECCAS), Ahmat Allami, sebelumnya mengatakan pembicaraan didominasi oleh diskusi tentang nasib pemerintah sementara Afrika Tengah.

Perhatian utama para pemimpin Afrika adalah kegagalan pemerintah Bangui untuk membendung pertumpahan darah yang meluas.

“Solusinya harus berasal dari Afrika Tengah sendiri,” kata Ahmat. “Baik ECCAS maupun masyarakat internasional telah datang untuk mengubah rezim. Terserah mereka yang bertanggung jawab untuk menentukan nasib negara mereka.”

Kekuatan mediator

Presiden Chad Idriss Deby, yang memiliki pengaruh kuat bagi Afrika Tengah, membuka pertemuan untuk menghentikan kekerasan sektarian yang telah menewaskan lebih 1.000 orang pada bulan lalu.

Deby yang memimpin 10 negara ECCAS mengatakan, kelompok regional memiliki kewajiban menunjukkan solidaritas dan tekadnya untuk menarik Afrika Tengah kembali dari jurang.

Sementara Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius mengatakan, para pemimpin Afrika akan mengambil keputusan untuk masa depan Djotodia, saingan dari presiden terguling Francois Bozize yang digulingkan dalam kudeta Maret lalu. (T/P09/IR).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

 

 

 

Leave a Reply