PEJABAT FATAH: PERUNDINGAN DAMAI DENGAN ISRAEL HANYA BUANG-BUANG WAKTU

Gaza City, 21 Rabi’ul Awwal 1435/23 Januari 2014 (MINA) – Anggota Dewan Revolusioner Fatah Sufian Abu Zaidah mengatakan, perundingan damai antara Otoritas Palestina dan Israel dinilai hanya membuang-buang waktu.

Dia mengatakan dalam sebuah wawancara di stasiun TV Palestina berbasis di Jalur Gaza Al-Aqsa TV sebagaimana dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Kamis, rakyat Palestina tidak akan menerima saran-saran Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry.

“Proyek Kerry adalah salah satu proyek yang terburuk dalam sejarah permasalahan Palestina,” tegas pejabat Fatah itu, dengan menunjukkan bahwa proyek Kerry itu mencakup sebuah negara Palestina tanpa batas darat, air, dan udara.

Ia menegaskan bahwa masalah Palestina berada dalam kondisi tersebar. Hal itu diperlukan untuk mencapai rekonsiliasi Palestina sesuai kesepakatan yang ditengahi Kairo untuk mengakhiri setiap konflik internal.

Pernyataan Abu Zaidah itu juga ditegaskan Presiden Palestina Mahmoud Abbas saat konferensi pers yang diadakan bersama-sama dengan tamunya, Presiden Rumania Traian Basescu, Selasa lalu, mengisyaratkan bahwa ia menolak perpanjangan perundingan perdamaian antara Otoritas Palestina dan Israel yang disponsori Amerika Serikat dan sudah berlangsung sembilan bulan.

Ketika perundingan dilanjutkan pada Juli 2013 lalu setelah terhenti selama tiga tahun, menurut Abbas, perundingan ditetapkan berjalan selama sembilan bulan dan tidak ada pembicaraan tentang memperpanjangnya. 

Abu Zaidah bersama dua anggota Dewan Legislatif Palestina dari Fatah, Majid Abu Shamala dan Ala Yaghi sedang berada di Gaza untuk melakukan konsolidasi sebagai respon atas inisiatif petinggi Hamas Ismail Haniyah untuk melanjutkan upaya mewujudkan persatuan Palestina.

Kunjungan tiga pejabat Fatah selama sepuluh hari itu merupakan pertama kalinya sejak konflik internal antara kelompok Fatah dan Hamas pada 2007  dan setelah beberapa tahun menetap di Tepi Barat.

Ismail Haniyah menyatakan dalam pidato dua pekan lalu di Gaza, 2014 akan menjadi tahun rekonsiliasi dan menjaga stabilitas Palestina dengan fihaknya siap untuk mengakhiri perpecahan dengan Fatah.

Dalam pidato tahun baru itu, Haniyah mengumumkan, seluruh anggota Fatah, kecuali mereka yang dituduh membunuh warga Palestina selama pecahnya kekerasan faksi pada tahun 2007, untuk kembali ke Jalur Gaza ” tanpa prasyarat “, termasuk pembebasan anggota Fatah dari penjara di Jalur Gaza.

Keputusan itu dibuktikan dengan membebaskan  tujuh anggota Fatah dari penjara pada Rabu (8/1) lalu sebagai isyarat kemauan baik untuk Fatah.

Haniyah menyatakan bahwa keputusan tersebut akan memperkuat barisan dalam Palestina dan membuka jalan bagi terwujudnya rekonsiliasi. Abu Zaidah menyambut keputusan Haniyah menegaskan bahwa kedua pihak (Hamas dan Fatah) dalam” langkah ke arah yang benar”.

Abu Zaidah menyerukan para anggota dan pimpinan Fatah agar tidak menyia-nyiakan kesempatan, menyangkut  ijin yang diberikan Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza itu bagi kader Fatah yang telah keluar dari Gaza paska kasus Juni 2007 untuk kembali.

Dia juga menyerukan pimpinan Fatah mengambil kesempatan untuk mendapatkan kembali kepercayaan yang hilang antara dua faksi terbesar Palestina itu.

Taher Al-Nono, Penasihat Perdana Menteri Ismail Haniyah urusan Media, mengatakan “mencapai rekonsiliasi adalah kepentingan nasional Palestina sementara perpecahan dianggap sebagai dosa besar.”

Sebelumnya faksi-faksi Palestina memperbaharui penolakan mereka terhadap diadakannya kembali proses menuju negosiasi damai dengan Israel yang saat ini sedang berlangsung.

Dalam seminar yang digelar Majelis Rakyat Tolak Negosiasi di kantor Persatuan Insinyur di Gaza City pekan lalu, seluruh Faksi Palestina menyimpulkan, negosiasi yang diprakarsai AS pada saat ini bertujuan untuk membubarkan Palestina dan menutupi kejahatan penjajah Israel. (T/P02/E1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Leave a Reply