PEJABAT FATAH TIBA DI GAZA SELASA

Gaza City, 18 Rabi’ul Awwal 1435/20 Januari 2014 (MINA) – Dua anggota faksi Fatah dari Dewan Legislatif Palestina akan tiba di Jalur Gaza Selasa sebagai tanggapan terhadap pengumuman pembukaan tahun 2014 sebagai tahun rekonsiliasi oleh Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah.

Anggota parlemen Majed Abu Shalamah dan Alaa Yaghi kepada media Palestina Al-resalah yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Senin, dilaporkan akan tiba di Jalur Gaza dalam kunjungan pertama mereka sejak 2007 dengan tujuan untuk  mendukung rekonsiliasi antar faksi Palestina.

Kunjungan direncanakan akan memakan waktu sepuluh hari, kata Abu Shamalah. “Kami berharap kunjungan ini akan menjembatani kesenjangan antara kedua pihak (Hamas dan Fatah),” tegas pejabat Fatah itu.

Dimulainya kembali upaya rekonsiliasi terjadi setelah Ismail Haniyah menyatakan dalam pidato tahun baru di Gaza, 2014 akan menjadi tahun rekonsiliasi dan menjaga stabilitas Palestina dengan fihaknya siap untuk mengakhiri perpecahan dengan Fatah.

Ia juga membebaskan  tujuh anggota Fatah dari penjara pada Rabu (8/1) lalu sebagai isyarat kemauan baik untuk Fatah.

Sumber-sumber di Ramallah mengatakan, upaya itu juga dimaksudkan memberikan sinyal kepada Amerika Serikat bahwa rekonsiliasi Fatah dengan Hamas tetap menjadi pilihan Otoritas Palestina meski usaha mediasi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry untuk mengadakan perundingan damai Palestina dan Israel belum berhasil. 

John Kerry baru saja mengakhiri misi empat harinya untuk menyusun kerangka bagi perundingan damai Palestina-Israel, tapi misi Kerry yang sudah kesepuluh kalinya tersebut masih belum berhasil menjembatani sikap-sikap mendasar kedua fihak. 

Perpecahan antara Fatah dan Hamas dimulai pada 2006, saat Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina. Pada tahun berikutnya, bentrokan meletus antara dua faksi besar Palestina itu, Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengendalikan wilayah Tepi Barat.

Faksi-faksi Palestina telah berupaya mencapai rekonsiliasi nasional selama bertahun-tahun, tetapi selalu gagal. Barulah pada tahun 2012, kedua fihak mencapai persetujuan dengan menandatangani dua perjanjian -satu di Kairo, Mesir (Februari 2009) dan berikutnya di Doha, Qatar (Februari 2012)-.

Namun demikian, kedua perjanjian itu belum pernah sepenuhnya dilaksanakan sampai belakangan ini timbul keinginan kedua fihak untuk lebih serius mengusahakan persatuan nasional.(T/P02/EO2/mirajnews.com)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Rate this article!

Leave a Reply