ISMAIL HANIYAH: SUDAH WAKTUNYA AKHIRI PERPECAHAN

Gaza City, 21 Rabi’ul Awwal 1435/23 Januari 2014 (MINA) – Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyah mengatakan, sudah waktunya untuk mengakhiri perpecahan internal dan mengubahnya menjadi sejarah masa lalu.

Haniyah berbicara pada pertemuan dengan delegasi pengusaha dari Tepi Barat di kantornya, Gaza City, Rabu, media Palestina Palestine Information Center (PIC) melaporkan sebagaimana dikutp Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Petinggi Hamas itu juga mengatakan bahwa pembicaraan sedang berlangsung antara pihaknya dengan gerakan Fatah mengenai solusi untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional Palestina.

“Kami tertarik untuk mencapai rekonsiliasi dan mengakhiri perpecahan. Kami mengerahkan upaya besar dalam hal ini,” tegas Haniyah.

Komitmen Haniyah itu sudah dinyatakan sebelumnya dalam pidato dua pekan lalu di Gaza dengan menyatakan, 2014 akan menjadi tahun rekonsiliasi dan menjaga stabilitas Palestina dengan fihaknya siap untuk mengakhiri perpecahan dengan Fatah.

Dalam pidato tahun baru itu, Haniyah mengumumkan, seluruh anggota Fatah, kecuali mereka yang dituduh membunuh warga Palestina selama pecahnya kekerasan faksi  pada tahun 2007, untuk kembali ke Jalur Gaza ” tanpa prasyarat “, termasuk pembebasan anggota Fatah dari penjara di Jalur Gaza.

Keputusan itu dibuktikan dengan membebaskan  tujuh anggota Fatah dari penjara pada Rabu (8/1) lalu sebagai isyarat kemauan baik untuk rekonsiliasi.

Serta kunjungan tiga pejabat Fatah di Gaza selama sepuluh hari sejak Selasa lalu untuk melakukan konsolidasi sebagai respon atas inisiatif Haniyah untuk melanjutkan upaya mewujudkan persatuan Palestina.

Perpecahan antara Fatah dan Hamas dimulai pada tahun 2006, saat Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina. Pada tahun berikutnya, bentrokan meletus antara dua faksi besar Palestina itu, Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengendalikan wilayah Tepi Barat.

Faksi-faksi Palestina telah berupaya mencapai rekonsiliasi nasional selama bertahun-tahun, tetapi selalu gagal. Barulah pada tahun 2012, kedua fihak mencapai persetujuan dengan menandatangani dua perjanjian -satu di Kairo, Mesir (Februari 2009) dan berikutnya di Doha, Qatar (Februari 2012)-.

Namun demikian, kedua perjanjian itu belum pernah sepenuhnya diimplementasikan sampai belakangan ini timbul keinginan kedua fihak untuk lebih serius mengusahakan persatuan nasional.  (T/P02/E1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Leave a Reply