PULUHAN EKSTRIMIS YAHUDI DAN INTELIJEN ISRAEL SERBU AL-AQSHA

Rabbi Yehuda Glick memimpin kelompok ekstrimis Yahudi melakukan tur provokatif di kompleks Masjid Al-Aqsha, Senin (20/1). (Foto Eksklusif: Al-Aqsa Foundation)

Al-Quds (Yerusalem), 18 Rabi’ul Awwal 1435/20 Januari 2014 (MINA) – Puluhan pemukim ilegal ekstrimis Yahudi, anggota intelijen dan polisi Israel menyerbu Masjid Al-Aqsha melalui Gerbang Mugharibah dan Silsilah.

Anas Ghanayim, Juru Bicara  Yayasan Al-Aqsha untuk  Wakaf dan Warisan Islam seperti dilaporkan Al -Ray yang dikutip Mi’raj News (MINA) Senin mengatakan, sebanyak 17 pemukim ekstremis Yahudi dipimpin Rabbi Yehuda Glick menyerbu Masjid Al-Aqsha ws dan melakukan tur provokatif di sekitar halaman kompleks masjid tersebut.

“Para pemukim kolonial menerima penjelasan tentang kuil yang mereka klaim dengan fitur-fitur dan lokasinya di masa depan,” ungkap Anas Ghanayim menunjukkan bahwa serangan itu berbarengan dengan penyerbuan 20 anggota petugas intelijen pasukan pendudukan Israel.

Anas Ghanayim mengatakan sejumlah 27 polisi dan petugas keamanan Israel juga menyerbu kompleks Al-Aqsha dan berkeliaran di sekitar bangunan tersebut. 

Sebelumnya sejumlah media Israel mengungkapkan tentang persiapan-persiapan yang dilakukan kelompok ekstrimis Yahudi untuk membangun apa yang mereka sebut sebagai Haikal (kuil penyembahan yahudi) yang mereka klaim di atas bangunan kiblat pertama umat Islam itu.

Televisi Israel Channel 10 mengutip pernyataan dari salah seorang anggota kelompok ekstrimis yahudi, Yuni Tasduq, Sabtu (18/1) lalu,  ia telah pergi ke wilayah Laut Mati untuk mengumpulkan batu-batu yang paling pertama ada dalam sejarah untuk membangun altar pengorbanan yang berada persis di atas Kubah Batu (Qubbatush Shakhrah) saat ini berada di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha.

Departemen Dokumentasi dan Pemantauan Wakaf Islam di Al-Quds Palestina melaporkan lebih dari 9050 pemukim ilegal ekstrimis Yahudi Israel, termasuk para menteri, anggota Knesset, pejabat intelijen, dan tentara serta polisi penjaga turis asing telah menyerbu Masjid Al-Aqsha selama setahun terakhir.

Fenomena itu terjadi akibat panggilan tertulis dari parlemen Israel Knesset untuk membagi masjid Al-Aqsha antara Muslim dan Yahudi, sebagaimana terjadi pada Masjid Ibrahimi di Al-Khalil (Hebron), selatan Tepi Barat, pada tahun 1994.

Masjid Al-Aqsha dengan luas sekitar 144 ribu meter persegi, merupakan 1/6 dari seluruh luas area yang dikelilingi tembok kota tua Al-Quds, baik di atas dan di bawah area adalah milik umat Islam. Yahudi mengklaim secara sepihak kawasan Al-Aqsha sebagai sinagog mitos mereka Haikal (Temple Mount), tempat dua sinagog Yahudi terbesar di zaman kuno.

Dalam mitos Yahudi dikatakan, juru selamat mereka tidak akan turun ke bumi sebelum sebuah sinagog Yahudi terbesar ketiga dibangun di atas lokasi Masjid Al-Aqsha. Namun dalam keyakinan umat Islam, Masjid Al-Aqsha merupakan tempat paling suci ketiga. Al-Aqsha merupakan tempat ibadah utama, kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu’ Alaihi Wa Salam.

Yayasan tersebut juga menegaskan, peyerbuan pemukim ilegal ekstrimis Yahudi berkelanjutan terhadap Masjid Al-Aqsha hanya mencoba untuk memaksakan eksistensi Yahudi di Masjid Al-Aqsha sesuai mimpi dan mitos mereka.(T/P02/EO2/mirajnews.com)

 

Miraj Islamic News Agency (MINA)

 

 

Leave a Reply