KONDISI PENGUNGSI DI KAMP YARMOUK MEMPRIHATINKAN

Maryam Muhamad, bayi berumur 50 hari, meninggal pada Jum’at (10/1) menyusul kondisi pengungsi di kamp yang kelaparan sampai meninggal

Beirut, 9 Rabi’ul Awwal 1435/11 Januari 2014 (MINA) – Maryam Muhamad, bayi berumur 50 hari meninggal dunia Jum’at (10/1) menyusul sejumlah kematian warga lainnya  akibat kelaparan yang terjadi di kamp pengungsi Yarmouk, Damaskus,  setelah aksi blokade diberlakukan setahun yang lalu.

Badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengungkapkan, pengungsi Palestina di kamp  Yarmouk,  Damaskus mengalami beban penderitaan yang makin ekstrim  sejak pecahnya perang saudara di Suriah selama hampir tiga tahun, demikian llaporan  harian Arab Rai Al-Youm yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Sabtu.

Pejuang oposisi  menguasai sebagian besar wilayah kamp Yarmouk, dan selama setahun terakhir, pasukan rezim pemerintah menempatkan pengungsi Palestina di kamp dengan penjagaan ketat.  Menurut laporan media pemantau Timteng MEMO, UNRWA  belum bisa memasuki area tersebut untuk memberikan bantuan sejak September lalu, dan setidaknya 15 orang meninggal dunia karena kelaparan.

Menurut laporan Rai Al-Youm, minggu ini konvoi bantuan berusaha memasuki kamp untuk memberi bantuan kepada hampir 20.000 pengungsi di kamp tersebut, namun sejauh ini dilaporkan, belum mencapai tujuan, setelah mereka ditembaki di tengah jalan oleh sekelompok orang bersenjata yang tidak diketahui. 

“Geng teroris di kamp pengungsi Yarmouk menembaki  konvoi yang membawa lima ribu Kg jatah bantuan bagi pengungsi yang terjebak di kamp untuk  mencegah konvoi mencapai lokasi,” lapor Televisi nasional Suriah yang belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Sementara itu, Juru bicara UNRWA Chris Gunness mengimbau kedua belah pihak yang berseteru di Suriah dan pihak terkait lain untuk mengizinkan dan memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan yang aman ke kamp Yarmouk yang kondisinya  semakin kritis.

Gunness menjelaskan, penderitaan warga sipil di Yarmouk semakin berat, akibat kekurangan gizi dan tidak adanya layanan  medis, termasuk bagi mereka yang mengalami luka-luka  akibat perang, juga perempuan yang baru melahirkan, dengan konsekuensi yang fatal terhadap mereka.

“Warga, termasuk bayi dan anak-anak, telah hidup lama  dengan memperoleh asupan makanan  yang  tidak layak  seperti sayuran basi, pakan ternak dan bumbu masak yang dilarutkan dalam air,” kata Gunness dengan prihatin, menambahkan, warga di kamp, baik Palestina dan Suriah, mengalami penderitaan ekstrim dan hidup secara primitif.

 Gunness sebelumnya mengungkapkan pada Agence France Presse (AFP) bahwa setidaknya 15 warga  Palestina di kamp pengungsi yang terkepung meninggal karena mengalami gizi buruk sejak September 2013.

Kamp Yarmouk biasanya menampung sekitar 170 000 pengungsi, tapi sejak perang saudara pecah, puluhan ribu orang meninggalkan kamp  untuk ikut berperang. Daily Star mencatat dari hampir 500.000 orang Palestina yang dulu tinggal di Suriah, hampir setengah dari mereka harus menjadi pengungsi dan terlantar untuk kedua kalinya sejak konflik meletus.(T/P03/E02/Mi’raj News Agency)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply