KEMENAG: GURU PAI UJUNG TOMBAK PENEGAKKAN MORAL BANGSA

(Dok. Kemenag)

(Dok. Kemenag)

Bukittinggi, 11 Ramadhan 1436/28 Juni 2015 (MINA) – Kepala Subdit PAI pada SMP Kementerian Agama RI Dr. H. Nifasri, M.Pd mengatakan, Guru Pendidikan Agana Islam (GPAI) merupakan ujung tombak dalam rangka menegakkan moralitas Bangsa Indonesia.

“Selama ini PAI tidak efektif dalam membentuk karakter bangsa, dan masih menyisakan problem. Sejak era reformasi, terjadi banyak hal yang tidak sesuai dengan norma agama, di mana PAI seharusnya menjadi ujung tombak pembentukan karakter bangsa yang berakhlak mulia,” katanya saat mengisi acara Kegiatan Bimtek Kurikulum PAI 2013 SMP, 24 – 26 Juni 2015 di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Hadir dalam acara pembukaan antara lain Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Salman, MM, Kabid Pakis Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat, Kepala Kantor Kemenag Kota Bukittinggi, dan Kasi Pais Kantor Kemenag Kota Bukittingi.

Ketidakefektifan PAI dalam membentuk karakter bangsa, menurutnya, salah satunya dikarenakan gurunya tidak bermutu, baik secara akademik maupun kompetensinya, demikian laman resmi Kemenag yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Oleh sebab itu, tegasnya, Kementerian Agama harus mengadakan evaluasi kenapa PAI selama ini tidak efektif. Faktor internal yang mempengaruhi antara lain; Pertama, guru PAI tidak memiliki kualifikasi akademik S1 PAI, dan bahkan banyak pula guru PAI sarjana yang tidak berlatarbelakang S1 PAI.

“Mustahil dihasilkan mutu PAI yang baik apabila GPAI kualifikasinya kurang memadai,” ujarnya.

Kedua, GPAI jarang mengikuti kegiatan kompetensi guru. Ketiga, di samping itu, menurutnya yang juga penting untuk diketahui adalah bahwa PAI selama ini nyaris tidak terdengar.

“Artinya bahwa PAI dipandang sebelah mata, baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Ini akibatnya banyak regulasi yang diterbitkan pemerintah tidak berpihak kepada PAI,” imbuhnya.

Padahal, katanya, peranan pemerintah sangat determinan di dalam membantu meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia.

“PAI dianggap tidak efektif karena dulu PAI didzalimi, nyaris tak terdengar, dan kurang diperhatikan. Masih banyak guru PAI yang belum mendapatkan kesempatan untuk dilatih dalam pengembangan kurikulum, dan sebagainya. Masih banyak sekolah yang belum memiliki sarana ibadah dan sarana pendukung PAI lainnya. GPAI sekarang posisinya strategis, diperebutkan di mana-mana. Kalau mau bangsa ini maju, perhatikan guru PAI.” paparnya. (T/P011/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Leave a Reply