IDUL FITRI, FITRAH, DAN KEHARMONIAN UMAT

(Foto: )

(Foto: Sigit Kamseno, Kontributor media-media Islam online)

Oleh: Sigit Kamseno, Kontributor media-media Islam online

Namanya adalah Idul Fitri, berasal dari dua kata: ied yang berarti ‘hari raya’, dan fithr yang bermakna ‘makan.’ Sebagian kalangan sedikit rancu memaknai dua kata ini. ‘Ied diartikan ‘kembali,’ dan fithr diartikan Fitrah. Jadilah, Idul Fitri dimaknai ‘Kembali ke Fitrah.’

Padahal, ‘kembali’ dalam Bahasa Arab bisa ditelusuri dari kata ‘aadaya’uudu‘audatan. Maka ‘kembali’ semestinya ‘audah.’ Sedangkan ‘ied (jamak: a’yad) bermakna hari raya. Itu sebabnya kita seringkali mendengar frasa ‘idul wathan’ (hari raya kemerdekaan), ‘idul milad (hari raya kelahiran-Natal), dan seterusnya.

Sementara itu, Fithr dengan Fithrah memang hanya berselisih satu huruf ta’ marbuthah, tapi maknanya tetap jauh berbeda. Fitrah bermakna kesucian, sementara fithr artinya makan. Seakar dengan kata ini adalah fathur dan ifthar yang keduanya berhubungan dengan makanan.

Jadi Idul Fitri secara harfiah bisa disebut “Hari Raya Makan,” dalam pengertian, pada hari Idul Fitri, kita wajib makan dan diharamkan berpuasa, sekali pun tak sedikit di antara kita menginginkan Ramadhan terus menerus sepanjang tahun.

Tapi kita tak perlu membahas itu terlalu jauh. Sekali pun kesalahan pemaknaan ini terlanjur ‘dibenarkan’ secara umum, keinginan umat Islam untuk kembali kepada  fitrah selepas Ramadhan adalah semangat yang perlu kita junjung.

Menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya setelah 30 hari dididik dalam madrasah Ramadhan. Fitrah adalah ketundukan, kepatuhan, kerelaan, untuk senantiasa menghadapkan wajah kita secara lurus kepada Allah (QS. al-Rûm:30).

Fitrah manusia adalah untuk taat dan berdekat-dekat dengan Tuhan. Ketenteraman, kedamaian, kelapangan hati akan ditemukan bersama fitrah. Hati yang jauh dari fitrah akan terus berada dalam keresahan, diliputi rasa gelisah, kekhawatiran yang menyiksa, dan kekecewaan.

Salah satu jalan menuju ketenangan dan kelapangan  itu adalah mengarahkan hati agar tetap berdzikir kepada-Nya dalam segala waktu ( QS. al-Ra’d:28).

Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan, baik dzikir lisan, dzikir pikiran, dzikir perasaan, dzikir keyakinan, maupun dzikir perbuatan.

Bahkan, dalam masterpice-nya, al-Hikam, Syaikh Ibn Atha’illah al-Sakandary mengingatkan, sekiranya dzikir kita hanya sebatas lisan tanpa kehadiran hati, teruslah berdzikir.

“Janganlah kau tinggalkan dzikir hanya karena tidak hadirnya hati pada Allah saat berdzikir. Sebab lupa pada Allah dengan tidak berdzikir itu lebih buruk daripada lupa pada Allah saat berdzikir. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelengahan hati menuju dzikir yang disertai kesadaran hati, kemudian mengangkatmu dari dzikir yang disertai dengan kehadiran hati, menuju dzikir yang disertai dengan hilangnya segala sesuatu selain Yang Diingat (al-Madzkur, Allah). Dan hal itu bukanlah hal yang berat bagi Allah.”

Hati yang lapang, seperti dimiliki para ulama, akan melihat perbedaan furu’iyah di tengah umat sebagai perkara yang kecil. Perbedaan tidak akan dihadapi dengan amarah, tapi dengan hikmah.

Jika dalil sudah bertemu dalil, maka yang diperlukan adalah saling menghormati. Jika Hujjah sudah bertemu hujjah yang diperlukan adalah toleransi.

Para ulama dengan kelapangan hatinya telah memberi contoh bagaimana perbedaan di tengah umat tak menjadikan mereka berpecah.

Kisah yang sangat masyhur antara KH. Idham Chalid dengan Buya Hamka saat bertemu di atas kapal ketika hendak pergi berhaji adalah contoh bagaimana perbedaan tak mesti lahirkan kebencian.

Saat KH. Idham Chalid, Ketua Umum Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU), mengimami shalat Shubuh di atas kapal dan Buya Hamka menjadi makmumnya pada pagi hari itu, rupanya KH. Idham Chalid saat itu tidak membaca qunut karena tak mau memaksa Buya Hamka, yang tak lain adalah pimpinan Muhammadiyah, untuk ber-qunut.

Pun sebaliknya saat Buya Hamka menjadi imam keesokan harinya, pimpinan Muhammadiyah itu membaca qunut pada rakaat kedua untuk menghormati KH. Idham Chalid.

Jamaah berkaca-kaca dan menangis melihat keindahan toleransi antar dua ulama besar itu. Demikianlah jika ulama bertemu ulama, hanya orang besar yang bisa menghargai orang besar.

Oleh karena itu, seyogyanya selepas Idul Fitri ini, ketenteraman hati sebagai hasil dari dzikir yang sesuai fitrah, menjadikan kita semakin matang dalam melihat keragaman. Bahwa perbedaan adalah keniscayaan, dan perpecahan itu dilarang.

Barangkali itu sebabnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, wa lâ tafarraqû, ‘Janganlah kalian berpecahbelah,’ bukan wa lâ takhtalifû ‘Janganlah kalian berbeda.’ Sebab beda adalah niscaya.

Menerima keragaman melahirkan keharmonian dalam kehidupan, sedangkan pemaksaan kehendak melahirkan perpecahan. Perpecahan tidak sesuai denganfitrah. Bukankah puasa mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa cinta pada sesama?

Semoga, kita semua kembali menjadi manusia-manusia yang fitrah.(R05/R03)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sumber: bimasislam.kemenag

Tags:

Related Posts

Leave a Reply