ISRAEL PERKETAT KEAMANAN DI TEPI BARAT DAN AL-QUDS

Antrian panjang para Muslimah Palestina yang ingin memasuki Masjid Al-Aqsha, Kota Al-Quds, terjadi di Checkpoint 300 di Bethlehem, Tepi Barat yang diduduki,10 Juli 2015. (Foto: MaanImages/ Mohammad Sbeih)

Antrian panjang para Muslimah Palestina yang ingin memasuki Masjid Al-Aqsha, Kota Al-Quds, terjadi di Checkpoint 300 di Bethlehem, Tepi Barat yang diduduki,10 Juli 2015. (Foto: MaanImages/ Mohammad Sbeih)

Bethlehem, 23 Ramadhan 1436/10 Juli 2015 (MINA) – Jelang akhir Ramadhan, Otoritas Pendudukan Israel memperketat keamanan dan pembatasan izin perjalanan bagi warga Palestina di Al-Quds dan Tepi Barat.

Otoritas Israel mengerahkan ratusan pasukan keamanan di pos pemeriksaan militer di berbagai kota Palestina di Tepi Barat, demikian Ma’an News Agency melaporkan sebagaimana dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat (10/7).

Bahkan pasukan keamanan Israel dikerahkan di sebuah pos pemeriksaan utama di Betlehem utara di Tepi Barat yang diduduki, mencegah ratusan warga Palestina menyeberang menuju Al-Quds, sejak Jumat (10/7) pagi, karena adanya aturan pembatasan masuk yang diberlakukan berdasarkan usia baru-baru ini.

Antrian panjang di Checkpoint 300 Bethlehem terjadi saat Otoritas Pendudukan Israel mengumumkan Kamis (9/7) beberapa pembatasan masuknya jamaah Muslimin Palestina ke Masjid Al-Aqsha di Al-Quds Timur.

Jamaah Muslimin Palestina di Tepi Barat dan Gaza harus tunduk pada aturan pembatasan bergerak yang ketat  menuju Al-Quds Timur, bagian dari wilayah Palestina yang diduduki. Israel secara historis membuat pembatasan bagi warga Palestina untuk bepergian menjelang dan selama Ramadhan, tapi mengurangi sebagian pembatasan pada awal bulan suci tahun ini pada pertengahan Juni.

Polisi Israel hanya memperbolehkan Muslimin di atas usia 50 tahun serta Muslimah di atas 30 tahun untuk masuk tanpa izin.

Otoritas Israel sebelumnya mengumumkan Kamis (9/7) malam, pemberlakuan pembatasan terhadap masuknya jamaah muslim dari Tepi Barat menuju Kota Al-Quds untuk menunaikan shalat Jumat berjamaah keempat Ramadhan ini di Masjid Al-Aqsha.

Menurut pernyataan yang dibuat polisi Israel, Muslimah yang berusia antara 16 hingga 30 tahun harus mendapatkan izin terlebih dahulu untuk dapat menunaikan shalat berjamaah di Haram al-Sharif pada Jumat, dan peraturan itu berlaku juga untuk kaum Muslimin antara usia 30 hingga 50 tahun.

Sementara anak-anak di bawah usia 12 tahun diizinkan untuk menemani orang tua mereka tanpa izin, seperti Muslimin di atas 50 tahun dan Muslimah lebih tua dari 30 tahun.

Pernyataan itu menambahkan, anak-anak Muslimah di bawah usia 16 akan diizinkan untuk memasuki Al-Quds tanpa izin, sedangkan anak Muslimin dari usia 12-30 tahun tidak akan diizinkan masuk sama sekali.

Perlu diketahui, pemegang kartu identitas biru tidak akan terpengaruh oleh pembatasan tersebut.

Pernyataan Polisi Israel menegaskan, ribuan tentara telah dikerahkan di Al-Quds Timur dengan dalih ‘mengamankan pelaksanaan shalat’.

“Kami akan terus menempatkan tindakan tegas terhadap setiap orang yang mencoba untuk membahayakan keselamatan publik dari orang lain,” kata Polisi Israel dalam pernyataan tersebut.

Meskipun demikian, Otoritas Pendudukan Israel menerapkan kebijakan pembatasan baru pekan lalu, diduga dalam menanggapi serangan yang menargetkan militer dan pemukim ilegal Israel, mencabut izin masuk dari ratusan warga Palestina untuk bepergian.

Kekerasan di Pos Pemeriksaan

Pos pemeriksaan militer Israel telah menjadi lokasi kekerasan yang sering terjadi sejak awal Ramadhan. Dua orang Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel di pos pemeriksaan dan beberapa orang mengalami luka-luka.

Pada Juni lalu, seorang tentara perempuan Israel ditikam dan mengalami luka ringan di pos pemeriksaan Betlehem dan seorang polisi perbatasan ditikam dan terluka parah di Gerbang Damaskus, Kota Tua Al-Quds.

Jumat lalu Muhammad Al-Kasbah, 17, ditembak dan dibunuh dengan dua peluru di kepala dan dada oleh seorang komandan Israel, setelah pemuda itu diduga melemparkan batu pada kendaraan militer dekat pos pemeriksaan Qalandiya, selatan Ramallah.

Dia adalah korban warga Palestina kelima belas yang dibunuh pasukan Israel sejak awal 2015, tiga di antaranya tewas pada bulan Juni lalu. (T/R05/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Tags:

Related Posts

Leave a Reply