MUSLIM GUINEA DAN SENEGAL BERDAMAI

Muslim Guinea dan Senegal shalat Jumat bersama di masjid di ibukota Conakry, berdamai kembali setelah bersengketa tentang imam masjid. (Foto: doak. Tamtamguinee.com)

Muslim Guinea dan Senegal shalat Jumat bersama di masjid di ibukota Conakry, berdamai kembali setelah bersengketa tentang imam masjid. (Foto: doak. Tamtamguinee.com)

Conakry, Guinea, 21 Ramadhan 1436/8 Juli 2015 (MINA) – Setelah terjadi ketegangan antara Muslim Guinea dan Senegal di ibukota Conakry, kedua pihak akhirnya berdamai selama menjalani ibadah puasa.

Selama bulan suci Ramadhan, ribuan Muslim Guinea dan Senegal berduyun-duyun ke salah satu masjid paling populer di Conakry setiap pekan untuk menunaikan shalat Jumat.

Jumat lalu, lebih 2.000 jamaah hadir -termasuk Presiden Guinea Alpha Conde- meskipun kapasitas masjid hanya 750 orang.

Pada Maret lalu, pemerintah Guinea telah memerintahkan masjid itu ditutup setelah Muslim Senegal lokal yang mengontrol masjid, menolak penunjukan imam baru berkewarganegaraan Guinea, yaitu Youssouf Camara.

Menurut kesepakatan yang ditandatangani tahun lalu, shalat di masjid itu harus dipimpin oleh imam Guinea, dibantu oleh wakil imam dari masyarakat Senegal.

“Ini disesalkan bahwa ada perselisihan antara dua komunitas bersaudara karena masjid ini,” kata Conde saat shalat Jumat.

“Tapi sekarang saya berjanji, saya akan memastikan kedua komunitas saling berhubungan baik,” tambahnya.

Menyusul pembicaraan terakhir antara kedua belah pihak, sengketa tampaknya telah diselesaikan, di mana imam masjid tetap penduduk asli Guinea.

Masyarakat Senegal di Conakry yang membangun masjid sejak awal abad lalu, menyambut pernyataan presiden tersebut.

“Kami terhibur bahwa Presiden datang ke sini untuk menyerukan perdamaian antara kedua masyarakat,” kata juru bicara komunitas Senegal Doudou Bangoura kepada Anadolu Agency yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

“Masjid ini melalui beberapa masa sulit karena pertengkaran tentang imamah yang telah mempengaruhi hubungan antara kedua komunitas,” katanya. “Setiap hari masjid penuh.”

“Muslim Senegal dan Guinea adalah dua paru-paru dalam satu tubuh,” tambahnya.

Masjid telah dibuka kembali dua pekan lalu, setelah kedua komunitas Muslim itu telah menghadiri shalat bersama-sama. (T/P001/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply