PEMUDA INDONESIA, MENGUKIR CINTA DI BUMI PARA NABI

Keluarga Husein saat menjemput kedatangan ia dan istrinya Jinan di Bandara Soekarno Hatta (18/6)

Keluarga Husein saat menjemput kedatangan ia dan istrinya Jinan di Bandara Soekarno Hatta (18/6)

Oleh: Shobariyah Jamilah dan Imtenan Ibrahim/ Wartawati Mi’raj Islamic news Agency (MINA)

Hari itu, langit Gaza seolah berat melepas kepulangan relawan asal Indonesia yang sudah lebih dari empat tahun menetap di Gaza Palestina itu. Baginya, mengemban amanah besar rakyat Indonesia untuk berbagi kepada saudara seiman di Gaza bukanlah hal yang mudah. Suka duka selalu saja menyertainya, terlebih lagi saat perang menerpa Gaza.

Bagi Husein, nama pemuda asal Indonesia itu, membantu saudara seiman di Gaza adalah hal utama yang harus dilakukan. “Karena Muslim itu satu tubuh, maka saat bagian tubuh yang lain sakit, bagian tubuh yang lain pun merasakan sakitnya,” katanya mengutip sabda Nabi SAW.

Tahun 2010 adalah saksi awal bagi pemuda kelahiran Cileungsi Bogor itu menapak jejak ke Jalur Gaza melalui solidaritas Konvoi to Gaza yang diikuti beberapa negara asia termasuk Indonesia salah satunya. Saat itu, ia dan keempat temannya tergabung dalam lembaga internasional peduli Al Aqsha, Aqsa Working Group (AWG) berpusat di Jakarta.

AWG, memilih lima orang untuk mengikuti konvoi itu. Tujuan utamanya, selain solidaritas Palestina dan Pembebasan Masjid Al Aqsha juga dalam rangka membantu relawan dari lembaga medis MER-C yang sudah lebih dulu berada di Gaza pada pertengahan 2010; Nur Ikhwan Abadi untuk memulai proyek pembangunan RS Indonesia Gaza.

Saat itu, Husein sedang mengajar ngaji anak-anak di rumahnya, kemudian ayahnya menghampiri dan menawarkannya pergi ke Gaza. Dengan tegas dan tanpa pikir panjang, penuh semangat Husein menjawab “Ya, insya Allah saya siap”.

Bagi Husein, membantu saudara sesama Muslim di Gaza adalah adalah amanah dan tanggung jawab dari rakyat Indonesia yang harus disampaikan. “Apapun halangan dan tantangannya ini merupakan sebuah jihad yang harus kita tempuh sebagai bukti cinta rakyat Indonesia untuk Gaza,” terangnya.

Awal Keberangkatan tepat 5 Desember 2010 lima orang dari lembaga Aqsha Working Group (AWG) berangkat dari bandara Soekarno Hatta, Jakarta menuju Iran. Di Iran, selama seminggu Husein dan teman-temannya serta berbagai lembaga dari Iran dan aktivis-aktivis lain mengadakan kampanye menyuarakan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al Aqsha. “Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Turki selama empat hari dengan kegiatan yang sama setelah itu menuju ke Suriah. Dari Suriah menuju Libanon diwakili oleh rekan kami Ir. Edi Wahyudi,” jelasnya.

Menurut pemuda yang fasih berbahasa Inggris itu, sebagian aktivis melakukan perjalanan dari Suriah ke Mesir, dimana kelompok itu terbagi menjadi dua; pertama dari Bandara Damaskus ke Bandara Al Arish. Lalu tujuh orang lainnya termasuk dirinya berlayar menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Lataqiya menuju Pelabuhan Al Arish untuk mengawal barang bantuan kemanusiaan yang akan masuk ke Gaza.

Tak disangka, di tengah laut mereka dikepung oleh militer Israel yang meminta rombongan berhenti. Husein berbisik dalam hati, jangan-jangan tragedi Mavi Marmara akan terulang kembali. Selama empat hari ia dan rombongan berlayar di tengah laut. “Alhamdulillah karena pertolongan dan tawakal kepada-Nya semata, kami sampai di pelabuhan Al Arish,” ucapnya penuh syukur.

Lama perjalanan itu satu bulan. Husein dan rekan lainnya dari berbagai aktivis serta lembaga lain telah melakukan perjalanan konvoi Asia to Gaza dengan berbagai macam ujian yang ditemui. Namun semua ujian itu bisa dilalui dengan lancar. Tepat pada 7 Januari 2011 ia dan rombongan tiba di Gaza.

Menurut pengakuannya, banyak sekali kendala yang ia hadapi saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi jihad Palestina. Kendala-kendala itu antara lain; adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda dari Indonesia pun ia temui disana. Kesulitan menggunakan bahasa pun pernah ia alami. Sebab menurutnya, bahasa Arab yang digunakannya berbeda dengan yang ia pelajari selama ini walaupun ia sudah mahir membaca Kitab Kuning (tulisan berbahasa Arab tanpa harokat).

Waktu terus berlalu. Setelah sekian tahun, akhirnya ia mulai biasa dan bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru, belajar mengenali karakter masyarakat di lapangan hingga terus beradaptasi dengan warga Muslim setempat terutama saat-saat melaksanakan shalat di masjid-masjid. “Kami perwakilan dari rakyat Indonesia membawa amanah misi kemanusiaan. Kami bersama saudara sekalian senantiasa mendukung perjuangan untuk merebut kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al Aqsha,” demikian bunyi dari spanduk yang harus ia dan teman-temannya sosialisasikan.

Melanjutkan Kuliah

Perjuangan pemuda Indonesia itu belum selesai dan tidak sampai di situ saja. Setelah tiga atau empat bulan di Gaza, ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Islam Gaza mengambil jurusan Syariah Islamiyah. Selama berada di Jalur Gaza, pemuda yang juga sempat menuntut ilmu di Al Fatah Meranggen, Jawa tengah tersebut harus pandai membagi waktu kuliahnya. Pasalnya, selain belajar di kampus, ia juga diamanahi sebagai relawan, penerjemah, humas dan amanah lainnya bersama rekan seperjuangannya Muqarrobin Al Fikri dan Nur Ikhwan Abadi.

Satu hal yang membuatnya begitu terkejut adalah saat pecah perang di Gaza. Mulanya ia benar-benar panik, sebab di Indonesia ia tidak pernah melihat apalagi mengalami seperti yang ia saksikan langsung di Gaza. “Saya sangat kaget sekali ketika tiba-tiba terdengar suara ledakan bom. Tapi saya melihat teman-teman lain tidak panik dan tidak kaget seperti saya. Mereka biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa dan mereka memang sudah terbiasa mengalami kondisi seperti itu,” kenangnya.

Cinta Merekah di Tengah Perang

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Pemuda bercambang itu menemukan cintanya di tanah Palestina. Relawan Medical Emergency Rescue Comitee (MER-C) itu menikahi seorang gadis warga asli Gaza, Jinan Ar Raqb (19) namanya. Pernikahan mereka berlangsung di tengah situasi peang yang mencekam antara Palestina dengan Israel. Pernikahan keduanya dilangsungkan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kota Gaza pada Ahad, 17 Agustus 2014, saat Hamas dan Israel menjalani kesepakatan gencatan senjata. Pada hari itu juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 69 Republik Indonesia (RI).

Menurut Husein, bisa menikahi muslimah Gaza merupakan impiannya sejak tahun 2008 silam saat ia masih mengenyam pendidikannya di Al Fatah Meranggen Semarang Jawa Tengah. “Ketika saya masih sekolah di Meranggen dulu, saya pernah browsing internet dan melihat beberapa gadis Palestina memagang senjata dengan tangguh menunjukkan keberaniannya. Saat itu, terbetik di hati saya kekaguman atas para wanita pemberani itu. Terselip doa di hati saya agar Allah memberinya jodoh wanita Gaza,” kata pemuda berusia 27 tahun itu.

Dengan izin dan takdir Allah, ternyata pada 2010 ia mendapat peluang ke Gaza. Empat tahun di Gaza, tepat tanggal 17 Agustus 2010 Allah menjawab doanya dengan menghadiahkannya seorang wanita muda asli Gaza, Palestina. Wanita yang menjadi istrinya itu tak hanya berparas ayu, tapi juga sudah hafal Al Qur’an 30 juz. “Ini anugerah terindah dari Allah dalam hidup saya,” katanya penuh syukur.

Husein berkisah tentang awal mula ia beristrikan gadis Gaza. Menurutnya, selama bertahun-tahun di Gaza ia banyak kenal dengan teman-teman sekampus termasuk beberapa orang dibagian staf administrasi Universitas Islam Gaza (UIG). Salah satu staf di universitas itu bernama Fauzy Arraqb (48) tahun atau biasa disapa Abu Mukhlis. Pria itulah yang kini menjadi ayah mertuanya. “Ketika melihat dan bertemu saya, beliau (bapaknya) langsung bilang kamu tamu kami,” kata pemuda kelahiran Bogor tersebut.

Suatu ketika Husein ditemani rekan sesama relawan, Darusman Abu Hafidz untuk silaturrahim ke rumah Abu Mukhlis beralamat di sebelah selatan Jalur Gaza. Saat mereka sedang berada di rumah Abu Mukhlis, tanpa sengaja Husein melihat anak gadis pria paruh baya itu; kulitnya putih, hidung mancung, badan tinggi besar dengan balutan jilbab dan gamis hitam sedang membawa sebuah ember. “Subhanallah, cantik sekali gadis ini. Tidak hanya cantik, tapi dia rajin membantu ibunya di rumah,” bisik Husein dalam hatinya.

Dari pertemuan pertama di hari itu, Husein menjadi akrab dengan keluarga Abu Mukhlis. Abu Mukhlis mempunyai anak sembilan orang. Jinan Arraqb adalah puteri ke empat Abu Mukhlis. Selain hafidz 30 juz, ia juga hafal ratusan hadis, dan berprestasi di sekolah.

Selang beberapa lama, Husein memberanikan diri untuk meminang Jinan. Mulanya, ayah si wanita menolak menjadikan Husein sebagai calon menantunya sebab menganggapnya orang asing. Selain itu, di Gaza tak lazim orang tua menikahkan anak gadisnya dengan warga asing kecuali kepada kerabat-kerabat dekat mereka saja. Bukan hanya karena dua alasan tadi saja Abu Mukhlis menolak, tapi juga karena Jinan belum lulus sekolah.

Husein dan ayah dari wanita Gaza (Jinan) yang ia nikahi saat melakukan proses akad nikah

Husein dan ayah dari wanita Gaza (Jinan) yang ia nikahi saat melakukan proses akad nikah

Waktu terus berjalan, Husein hanya memasrahkan dirinya kepada Allah yang Maha berkehendak dan meyakini bahwa jodoh sudah diatur dan ada dalam genggaman Allah. Setelah sekian lama melihat akhlak dan aktivitas Husein sehari-hari yang positif, akhirnya Abu Mukhlis menerima lamarannya, tapi dengan syarat harus menunggu Jinan lulus sekolah dulu. Bukan main senangnya hati Husein saat ia diterima untuk menikahi Jinan.

Sebelumnya, pernikahan mereka sempat tertunda selama 20 hari sebab situasi belum aman karena perang masih terus berlanjut di Gaza. Baru setelah ada gencatan senjata lima hari, keduanya melangsungkan pernikahan. Waktu itu, Juli 2014, Jinan lulus sekolah dan Husein langsung menagih janji kepada Abu Mukhlis untuk menikahkan ia dengan anaknya. “Alhamdulillah saya diterima, kemudian saya menghubungi orang tua di Indonesia untuk meminta doa restu. Kita sudah menentukan waktu dan maharnya, walaupun dengan harga yang sangat tinggi bagi seorang relawan seperti saya,” ucapnya senang.

Keesokan harinya, Husein mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Gaza, namun sesampainya di KUA ternyata kantornya tutup. Tanpa rasa putus asa Husein menanyakannya ke penjaga kantor KUA apa yang menyebabkan kantor tersebut tutup. Penjaga KUA itu mengatakan kantornya belum bisa beroperasi lagi, karena suasana mencekam akibat perang. Tak puas atas jawaban penjaga kantor KUA itu, Husein langsung mendatangi kepala KUA di rumahnya. Namun sayang, saat itu kepala KUA menolak dan berkata, “Jangan di rumah, nanti saja diselesaikan di kantor ya urusannya.”

Husein akhirnya sedikit memaksa agar berkas nikah yang ia bawa segera ditangani. “Berkas ini sudah siap dan tinggal ditandatangani saja,” pinta Husein sedikit memaksa. “Baiklah jika seperti itu, besok datanglah kembali ke kantor, nanti akan saya urus semuanya,” ucap kepala KUA itu. Keesokan harinya dengan hati yang riang, Husein kembali mendatangi kantor KUA ditemani beberapa rekan relawan RS Indonesia. Sedangkan Jinan, calon istrinya ditemani oleh sang ayah. Akhirnya Husein dan Jinan mengikrarkan janji suci pada 17 Agustus 2014.

Meski sudah sah jadi suami istri, namun kedua belum diperkenankan tinggal satu rumah. Sebab menurut tradisi Muslim setempat, suami istri yang baru saja menikah, boleh tinggal satu atap bila sudah melangsungkan resepsi pernikahan dan mereka berdua masih dipisahkan jarak antara selatan dan utara Gaza.

Setelah perang reda, Husein dan Jinan mengadakan resepsi pernikahan dengan mahar yang tidak kecil; 3000 dolar atau sekitar 40 juta rupiah. “Alhamdulillah, Allah selalu memudahkan saya,” kenang Husein.

Pulang ke Indonesia

Menurut rencana awal, Husein dan istrinya akan kembali ke Indonesia setelah pernikahannya pada Desember 2014 lalu, sekaligus ia ingin memperkenalkan Jinan kepada keluarganya di Indonesia. “Namun pihak Mer-C masih menunda kepulangan kami pada Januari atau Februari dengan alasan agar bisa bersama-sama dengan relawan lainnya setelah pembukaan RS Indonesia di Gaza,” jelasnya.

Pada bulan Februari RS Indonesia Gaza belum juga dibuka dan disahkan. Husein pun hanya bisa bersabar. Sambil menunggu kepulangannya ke Indonesia, rupanya tak lama istrinya pun hamil. Saat ini, usia kandungan istrinya sudah enam bulan dan ia bertekad untuk pulang dengan berbagai macam pertimbangan. “Jika ditunda khawatir perbatasan pintu Rafah ditutup. Kami tidak bisa pulang,” katanya menjelaskan jika pintu Rafah ditutup.

“Jika saya harus pulang bersama dengan relawan lainnya, maka usia kandungan istri saya tujuh bulan. Masalahnya, jika wanita hamil kandungannya sudah berusia tujuh bulan, maka tidak boleh naik pesawat. Itu artinya terpaksa saya harus menunggu istri saya melahirkan dulu. Tapi, itu tidak mungkin karena passport saya akan habis September 2015 ini,” kata Husein.

Tepat pada 18 Juni 2014 Husein dan istrinya akhirnya bisa juga ke Indonesia. Mengetahui Husein akan pulang, keluarganya menyambut dengan penuh suka cita. Kini, Husein dan istrinya tinggal di Pesantren Al Fatah Cileungsi, Bogor, sambil menunggu kelahiran buah hati mereka dan memperpanjang passport. “Setelah urusan kami selesai semua, insya Allah kami akan kembali lagi ke Gaza untuk memulai kehidupan baru bersama anak dan istri. Selain itu, tentu saya akan melanjutkan kuliah yang belum selesai,” ucapnya. (L/P005/Imt/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Tags:

Related Posts

Leave a Reply