RUTE MENANTANG JURANG MENEMBUS TOLIKARA

Tim MER-C di Wamena, siap melakukan perjalanan darat menuju Tolikara, senin 27 Juli, dengan Mitsubishi Strada. (Foto: Nur Ikhwan Abadi)

Tim MER-C di Wamena, siap melakukan perjalanan darat menuju Tolikara, senin 27 Juli, dengan Mitsubishi Strada. (Foto: Nur Ikhwan Abadi)

Oleh: Rudi Hendrik dan Nur Ikhwan Abadi

Ahad malam, 26 Juli 2015, lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketua oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.

Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Papua.

Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara), dan Jalur Gaza, serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini.

“Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Ahad malam (26/7).

Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak Februari 2006 melalui Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong.

Perjalanan menantang jurang

Nur Ikhwan memaparkan kisah perjalanannya pada Senin 27 Juli 2015 untuk mencapai Tolikara, sebagaimana yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA) sebagai berikut:

Pukul 12.20 WIT, kami bergerak dari Wamena menuju Tolikara menggunakan mobil Mitsubishi Strada. Alhamdulillah, meskipun hari sudah siang, kami masih bisa mendapat tempat duduk di dalam (bukan di bak belakang mobil), berkat bantuan Sertu Prayogi, teman Pak Abdullah (relawan MER-C yang turut dalam Tim) di Wamena.

Sertu Prayogi mengantar hanya sebatas di Wamena saja.

Satu mobil mengangkut 16 orang, yaitu dua di depan, empat di tengah (termasuk kami), dan sepuluh di luar. Ongkos pun berbeda, untuk di dalam harganya Rp 250.000 per penumpang dan untuk di luar harganya Rp 150.000 per penumpang.

Sebelum berangkat, sopir mencari solar terlebih dahulu untuk cadangan bahan bakar. Harga solar per liter Rp 22.000, sedangkan bensin Rp 20.000 per liter.

Setelah bahan bakar penuh, kami mulai berangkat keluar dari Wamena, namun sebelumnya penumpang dihentikan di sebuah rumah makan membeli perbekalan untuk selama perjalanan.

Adapun Tim tidak membeli perbekalan, karena seorang sedang shaum (puasa) dan bekal dari Jakarta masih ada.

Kemudian kendaraan berpenumpang 16 orang ini mulai bergerak menyusuri jalan pegunungan yang track-nya menantang. Jalan berkelok dan menanjak, ditambah lagi tidak sepenuhnya mulus atau banyak berlubang. Di kanan dan kiri adalah jurang, jika selip sedikit saja, jurang di kanan dan kiri siap menyambut.

Diperkirakan, jika perjalanan lancar, akan memakan waktu 4-5 jam.

Terjebak di tengah hutan tanpa sinyal

Setelah tiga jam perjalanan, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah. Awalnya sopir menduga solar yang dipakai dicampur air oleh penjualnya, sehingga kendaraan tidak ada tenaga untuk menanjak. Namun setelah beberapa kali dicoba, ternyata kampas kopling Mitsubishi Strada ini rusak, sehingga kendaraan tidak bisa bergerak, meskipun sudah coba diperbaiki.

Kendaraan dihentikan di tengah hutan pegunungan, kami mulai waspada, terlebih tidak adanya sinyal sedikit pun ditengah hutan seperti itu.

Khawatir dengan situasi ini, kami terus tingkatkan kewaspadaan, mengingat ada peringatan dari Sertu Prayogi bahwa sering terjadi para penumpang dibawa ke tengah hutan oleh orang-orang OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Kendaraan terpaksa balik arah untuk mencari tempat yang ada sinyalnya. Namun sebelum mendapat sinyal, kendaraan sudah tidak dapat bergerak dan berhenti total.

Sopir pun meminta semua penumpang turun dan dia akan berjalan kaki menuju ke sebuah tempat untuk menghubungi rekannya agar mengirim kendaraan cadangan.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Hilux Double Cabin dengan bak belakang kosong melintas.

Sopir Mitsubishi Strada langsung hentikan kendaraan tersebut dan meminta agar memberikan tumpangan kepada kami untuk ke Tolikara yang jaraknya masih tiga jam lagi.

Setelah negosiasi, akhirnya kami dizinkan naik Toyota Hilux tadi, tapi di bak belakang karena di dalam sudah penuh.

Sopir Strada memberi uang Rp 400.000 kepada sopir Hilux sebagai kompensasi untuk empat orang yang ikut di mobilnya.

Kemudian ketika akan berangkat, empat orang penumpang Strada ikut juga naik ke kendaraan bersama kami.

Dengan sopir orang lokal, kami pun mulai bergerak lagi, track yang kami lalui ternyata jauh lebih menantang dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui sebelumnya ternyata belum apa-apa dari jalan yang kami lalui setelahnya.

Mobil terus lanjutkan perjalanan yang terus menanjak, mobil berkali-kali berhenti untuk ambil ancang-ancang ketika akan menanjak. Jalan menanjak, berkelok, bebatuan campur tanah, jika hujan licin dan rawan longsor, kemiringan 45 derajat bahkan lebih.

Ketika mobil akan menanjak ke puncak, si sopir berhenti dan meminta empat orang yang tadi naik tanpa persetujuan pemilik kendaraan untuk turun. Alasannya karena daerah tanjakan membuat mobil tidak kuat, dan juga karena mereka tidak bayar seperti kami berempat.

Alhamdulillah, dengan izin Allah,  kami akhirnya tiba di Tolikara.

Setelah melapor ke Koramil setempat, kami diarahkan untuk menginap di penginapan di belakang kantor Koramil, dekat pasar dan masjid yang dibakar.

Keesokannya kami di minta melapor ke posko kemanusiaan yang dipusatkan di kantor bupati lama. (L/P001/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Leave a Reply