GIDI DOMINAN DI TOLIKARA PAPUA

Tim MER-C untuk Papua kembali dari peninjauan di Tolikara, Papua, tiba di Bandara Internasional Sekarno-Hatta, Tangerang, Senin 3 Agustus 2015. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Tim MER-C untuk Papua kembali dari peninjauan di Tolikara, Papua, tiba di Bandara Internasional Sekarno-Hatta, Tangerang, Senin 3 Agustus 2015. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Jakarta, 18 Syawal 1436/3 Agustus 2015 (MINA) – Isu tentang Kristen Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang berkuasa di Kabupaten Tolikara, Papua, dibenarkan oleh tim medis lembaga kemanusiaan MER-C yang baru saja mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

“Peran GIDI di Tolikara memang dominan. Bisa dikatakan, pemerintah Tolikara berada di bawah GIDI, karena memang beberapa keputusan harus mengacu kepada gereja-gereja GIDI yang ada di sana,” kata Ketua Tim MER-C untuk Papua, Nur Ikhwan Abadi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di bandara, Senin (3/8).

Nur Ikhwan adalah insinyur yang bersama timnya melakukan peninjauan awal di Tolikara selama sepekan, di mana MER-C awalnya berencana siap membantu pembangunan masjid Tolikara yang terbakar dalam kerusuhan Jumat, 17 Juli.

Menurut data yang diperoleh, ada sekitar 1.200 orang Muslim di Karubaga, dan 500-600 di antaranya adalah Muslim yang datang dan pergi dari Tolikara karena bekerja di daerah lain.

“Kaum Muslimin sendiri pada saat akan merayakan Idul Fitri, selain harus meminta izin dari pemerintah setempat, seperti Polres, Bupati dan Koramil untuk melaksanakan shalat di tempat terbuka, mereka juga harus meminta izin kepada pihak GIDI,” ujar insinyur yang belum lama kembali dari Jalur Gaza, Palestina, setelah menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di sana yang diprakarsai oleh MER-C.

Namun menurut pantauan terakhir tim MER-C di sana, secara umum situasi di Kecamatan Karubaga, Tolikara, sudah kondusif. Hanya warga Muslim yang rumah dan rukonya terbakar masih ada puluhan yang tinggal di pengungsian dan membutuhkan bantuan.

Pasca kerusuhan, GIDI berkontribusi untuk mengkondusifkan situasi dengan melakukan rekonsiliasi di Jayapura yang diinisiasi oleh pemerintah.

“Salah satu strategi mereka untuk menenangkan kaum Muslimin adalah menyumbangkan jenset untuk mushalah/masjid,” kata Nur Ikhwan.

Relawan yang pernah berada di tengah-tengah perang Gaza sebanyak dua masa itu mengungkapkan, kerusuhan itu adalah yang pertama terjadi di Tolikara antara Muslim dan Kristen.

“Sebelumnya tidak pernah terjadi. Memang diprovokatori oleh mahasiswa yang ikut seminar dari pribumi dan berbagai daerah, bahkan ada yang dari Australia dan Papua Nugini,” katanya. (L/P001/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply