JIC DEDIKASIKAN RUANGAN-RUANGAN DENGAN NAMA-NAMA ULAMA BETAWI

(Foto: Youtube)

Kompleks Jakarta Islamic Centre (JIC), Kramat Tunggak, Tanjung Priok.(Foto: Youtube)

Jakarta, 26 Syawwal 1436/12 Agustus 2015 (MINA) – Jakarta Islamic Centre (JIC) di Jakarta Utara, mendedikasikan beberapa ruangan yang ada di komplek JIC itu dengan nama-nama Ulama Betawi.

Kepala Pimpinan JIC, A. Shodri  mengatakan, selain sebagai tanda terima kasih JIC kepada para ulama Jakarta, tujuan mendidedikasikan beberapa ruangan komplek JIC dengan nama-nama Ulama Betawi itu adalah untuk menularkan motivasi dan semangat para ulama dalam  penggerakan dan perubahan masyarakat Islam kepada generasi muda.

“Juga sebagai mengenang perjuangan para Ulama Jakarta. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalas seluruh curahan pikiran dan daya juang para ulama dengan balasan yang berlipat, ujar A. Sodri kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) usai Halaqah Ulama Ibu Kota Jakarta di Gedung Convention Hall Jakarta Islamic Centre (JIC), Rabu (12/8).

Menurutnya, di era perjuangan melawan penjajah, ulama telah banyak berperan untuk kemerdekaan negeri ini. Lahirnya Jakarta yang dulunya bernama Jayakarta juga tidak lepas dari kontribusi Ulama dalam perjuangan membebaskan Sunda Kelapa yang dipimpin oleh Fatahillah.

Dalam kondisi negeri ini terjajah ratusan tahun, para ulama di tanah Betawi itu tetap berperan besar dalam mendidik dan membangun Jakarta dengan iman dan ilmu yang mereka miliki. Ada enam Guru Betawi yang sangat terkemuka dan telah melahirkan banyak ulama dan karya-karya intelektualnya.

Mereka adalah Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Marzuki Bin Mirshod Cipinang Muara, Guru Abdul Madjid Pekojan, Guru Mahmud Romli Menteng, Guru Mughni Kuningan, dan Guru Kholid Gondangdia.

Dalam fase mengisi kemerdekaan, tersebar banyak ulama-ulama dan guru-guru Betawi yang mengajarkan Islam.

“Kita kenal KH. Muhajirin Amsar Ad Dary, KH. Tohir Rohili, Muallim Radjiun, KH. Abdul Rozak Ma’mun, Guru Naim Cipete, KH. Abdul Hanan, KH. Noer Alie, Sang Singa Podium KH. Abdullah Syafii dan lain-lain.”

“Mereka-lah yang menjaga Jakarta ini dengan mendidik dan mengajarkan Islam dan kebaikan-kebaikan dengan petuah dan fakwa-fatwa mereka,” demikian pmpinan JIC.

 Pusat Pengkaderan Ulama

Dikatakan selanjutnya, Al-Ulama Warasatul Anbiy, Ulama adalah pewaris Nabi. Sebuah predikat terbaik bagi ahli ilmu dan sebaik-baik makhluk. Ulama merupakan orang-orang yang paling takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena ilmu dan kefahaman yang dimilikinya serta senantiasa mendidik dan mengajarkan umat dengan kebaikan.

Sejak dulu hingga sekarang, Ulama selalu menjadi faktor penting dalam penggerakan dan perubahan masyarakat. Ulama selalu menjadi benteng sekaligus garda terdepan mengarahkan umat menuju kebaikan dengan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, karena mereka paling dekat dengan umat dan umat masih mendengarkan petuah dan fatwa mereka.

Begitu pula dengan sejarah Jakarta Islamic Centre. Sejak lokalisasi Kramat Tunggak masih berdiri hingga penutupan dan berdirinya JIC, para ulama telah berkontribusi besar sehingga akhirnya bisa seperti ini, Dari haram jadah menjadi sajadah.

“Tidak terkecuali juga di era kepemimpinan JIC sebelum saya, tentunya telah banyak para Kiai dan Asatidz yang setia ikut dalam program dan kegiatan yang dilaksanakan JIC,” ujar A. Sodri.

JIC hari ini adalah JIC yang sudah semakin kuat dan semakin ideal. Dalam aspek payung hukum, sejak tahun 2014 lalu JIC sudah memiliki Perda.

Master Plan bangunan JIC juga sudah selesai pembangunannya dan siap dioperasionalkan. Aspek Manajemen Organisasi semakin rapi dan terorganisir.

Soal Anggaran, mulai tahun depan JIC akan menerapkan penganggaran seperti pola SKPD, dengan sistem e-budgeting, tidak lagi bentuk hibah. Dan yang terpenting, yakni adanya dukungan yang sangat kuat dari Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama untuk kemajuan JIC ke depan.

Dia juga mengatakan, perlu peran serta para ulama dan Asatidz untuk bersama-sama memaksimalkan program-program pembangunan keumatan di Ibu kota melalui JIC ini, salah satunya dengan mengerahkan santri-santri terbaiknya untuk bisa masuk Boarding School JIC karena seluruh biayanya akan ditanggung Pemda Prov. DKI Jakarta.

“Semoga nantinya akan lahir ulama-ulama baru dan intelektual muslim yang hebat dari tanah bekas lokalisasi Kramat Tunggak ini,” tambahnya.(L/P010/R05-P2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Leave a Reply