KALIMAT “ALLAHU AKBAR” LAMBANG SYIAR UMAT ISLAM

Ketua Sekolah Tinggi Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas'ud Online (SQABM), Dudin Shobaruddin,MA saat memberikan sambutan pada Tabligh Akbar Jama'ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung di Masjid At-Taqwa Komplek Ma'had Al-Fatah, Muhajirun, Lampung. Photo : Hadis/MINA

Ketua Sekolah Tinggi Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud Online (SQABM), Dudin Shobaruddin,MA. (Foto : Hadis/MINA)

Oleh : Dudin Shobaruddin, Lc.,MA., Ketua Sekolah Tinggi Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud (SQABM) Online

Kalimat Takbir “Allahu Akbar” merupakan shigat mubalagah, yang artinya tiada lagi yang paling besar melainkan Allah, menjadi hal yang amat sinonim bagi sekalian umat Islam di berbagai belahan bumi ini, dari timur ke barat, utara dan selatan mengucapkan kalimat “ALLAHU AKBAR”.

Pernyataan dan ikrar ini dilakukan di berbagai hal. Ketika Hari Raya Ied, Shalat, Haji, Peperangan, naik kendaraan, dan lain-lainnya.

Takbir Idul Fitri

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, bagi-Nya segala puji.”

Kalimat Takbir di atas, senantiasa diungkapkan ketika umat Islam melaksanakan ibadah Id, baik itu saat Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adlha.

Takbir Idul Fitri dilaungkan dan dikumandangkan saat umat Islam selesai melaksanakan Ibadah puasa sebulan lamanya di bulan Ramadhan. Takbir ini melambangkan kegembiraan atas kemenangan dan lulusnya menunaikan ibadah yang difardukan itu. Dalam surat Al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman:

[وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.[البقرة: 185…

Artinya: “..Agar kamu membesarkan Allah karena mendapat petunjuk-Nya dan supaya kamu bersyukur .”

Bertakbir pada hari raya sebenarnya bukan saja sebagai ungkapan membesarkan Allah tapi juga  sebagai rentetan dari kesukuran terhadap-Nya dengan lulusnya mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan dan ibadah yang lainnya. Dengan rasa kesyukuran itu sudah menjadi tradisi bagi umat Islam, sebagai lambang kesyukuran juga dengan riang gembira, saling  merapatkan shilah, membagi hadiah, memberi sodaqoh kepada karib kerabat, kenalan dan juga fakir miskin serta anak yatim.

Di wilayah  Asia Tenggara terutama Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina, Takbir, dengan alunan yang cukup merdu, intonasinya yang tersendiri, merupakan lagu yang menyedihkan bagi sebagian yang tidak dapat pulang kampung. Ini karena, hari raya identik dengan istilah mudik dan pulang kampung halaman bagi umat Islam yang ada di perantauan.

Laungan Takbir bagi umat Islam pada Hari raya Idul Fitri, bukan saja membuktikan kegembiraan terhadap kemenangan setelah diuji dengan haus dan dahaga sejak terbit pajar sampai terbenam matahari, tapi juga adalah membuktikan kebesaran dan keagungan Allah yang hak dan wajib disembah.

Sebagai pengakuan akan kodrat dan iradat-Nya, bahwa selain-Nya adalah kecil apa pun statusnya, tiada pangkat dan tiada martabat, pemimpin dan rakyat, besar kecil, kaya dan miskin, kedudukannya sama di sisi Allah, yang paling mulia adalah yang paling taqwanya.

Takbir Idul Adha; ketika umat Islam berada di musim haji, tepatnya 10 Dzulhijjah, umat Islam sekali lagi memiliki hari besarnya yang disebut Iedul Adha karena pada hari ini umat Islam bagi yang berada di luar Makkah selain sholat Iedul Adha, juga disyariatkan  adanya penyembelihan Qurban sesuai dengan Sunnah Nabi di atas sembelihannya Nabi Ibrahim yang diperintah menyembelih anaknya Ismail.

Bagaimana pun Allah ganti dengan seekor kibas (lihat surat Ash-Shaffat ayat 102-107). Bagi umat Islam yang menjadi tamu Allah dengan mendapat panggilan haji ketika itu, merupakan kemenangan besar atas selesai menunaikan segala syarat dan rukun haji.

Karena itu, gema Takbir merupakan satu lagi ungkapan yang dihadirkan di muka bumi ini menandakan akan kebesaran Allah, bahkan pada hari raya Idul Adlha ini, umat Islam disunnah menggemakannya sampai pada Hari Tasyriq yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.

Takbir ketika Shalat

Adalah sudah menjadi kaidah dan kewajiban bahwa Sholat hanya Sah apabila diawali dengan Takbir dan diakhri dengan salam. Bahkan sejak datangnya waktu solat tersebut diawali dengan panggilan untuk sholat yaitu Adzan yang tidak lepas dari gema Takbir diulang-ulang.

Takbir dalam sholat yang sehari semalam lima waktu dengan 17 rakaat dan setiap rakaat minimalnya lima kali takbir, maka minimal kita ucapkan 85 kali takbir, belum ditambah sholat sunat rowatib badiyah dan qabliyah dan ditambah lagi 33 kali setelah sholat, maka jumlahnya begitu banyak kita ucapkan takbir setiap harinya.

Ringan kita ucapkan tapi cukup berat timbangannya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (maksud hadits).

Namun, apakah takbir yang kita ulang-ulang itu sudah memberi kesan positif pada diri kita sesuai dengan maksud dari takbir itu sendiri. Tentu hanya diri kita masing-masing yang dapat menjawabnya.

Sebenarnya Shalat itu melatih kita untuk menjadi jiwa kerdil di sisi Allah, tawadu, rendah diri, artinya tidak boleh sombong, takabur, tidak dzalim sesama manusia dan giat menunaikan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Takbir dalam Peperangan

Dalam Islam, perang merupakan kemuncak segala jihad untuk membela agama Allah yang mendapat halangan dan rintangan dari orang yang mengingkarinya. Bagaimana pun, dalam sejarah Islam tercatat bahwa peperangan terjadi sifatnya defensif, membela dari serangan pihak musuh. Dalam pelaksanaannya, bagi orang beriman hanya ada dua pilihan; menang dengan gemilang atau syahid.

Dalam keyakinan bagi orang beriman bahwa tiada daya dan upaya kecuali hanya pertolongan Allah. Karena itu, dalam setiap langkahnya ketika menghadapi musuh mereka senantiasa bertakbir menunjukan kebesaran Allah, selainnya adalah kecil, sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Dalam Perang Badar Kubra umpamanya, di mana umat Islam menghadapi serangan kaum kuffar Quraisy, peperangan langsung dipimpin oleh baginda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Apabila baginda Takbir, maka serentak semua bertakbir sambil maju ke depan, persis gemanya seperti takbir dalam sholat. Begitu takbir lagi terus diikuti gema itu dengan terus maju.

Minimalnya ada dua manfaat dalam laungan Takbir tersebut; Pertama, memberikan semangat juang yang tinggi menuju syahid atau menang. Sehingga tidak melihat lagi siapa di depannya. Sebab dengan gema  kalimat Allah itu maka bertambahlah Imannya, Kukuhlah ketauhidanya, bertambah yakinlah jiwanya, bahwa semua diatur oleh Yang  Maha Kuasa; Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedua, menggentarkan musuh Allah dan memberikan katakutan kepada mereka. Bahwa dengan gema takbir tersebut, orang-orang yang tidak memercayai dan memusuhi Allah merasa gemetar, hilang keyakinan diri, sehingga mereka tahu kekuatan orang-orang yang beriman memiliki ruhul jihad yang tinggi: Dalam surat Al-Muanfiqun ayat ke-8, Allah berfirman yang maksudnya; .. Kemuliaan dan kekuatan hanya bagi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman..”.

Kesimpulan

Bahwa Takbir yang dilaungkan, diucapkan orang-orang beriman di mana pun berada, baik itu di Masjid, di jalan, di pasar, di sekolah, di warung, di kebun, di sawah, atau pun di man saja berada, ketika mukim dan bepergian, merupakan ungkapan untuk membuktikan keagungan Sang Pencipta Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai syiar bagi umat Islam bahwa kebesaran, keagungan hanya milik Allah. Mereka mengucapkan dengan tidak merasa segan, ringan mengucapkannya tapi berat timbangannya di sisi Allah.

Allah telah memilih kalimat “ALLAHU AKBAR” ini dengan memiliki segala keistimewaan dan kelebihannya dibandingkan dengan kalimat yang lainnya. Kalimat agung ini terus berkumandang dengan tidak mengenal waktu dan tempat yang disyariatkan secara individu, berjama’ah, ketika aman dan ketika perang,  untuk mendatangkan kekuatan jasmani dan rohani, untuk membentuk percaya diri, dan bahkan untuk menolak syaithan yang berbentuk jin dan manusia. Yang jelas, Takbir adalah syiar umat Islam yang selalu digemakan saat adzan, sholat, di hari raya, peperangan dan acara lainnya. Wallahu ’Alam. (K05/R05/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Leave a Reply