PENGAMAT: JIKA INDONESIA KONSISTEN DUKUNG PALESTINA, TIDAK ADA VISA BAGI WARGA ISRAEL

Hamdan Basyar ( foto: mirajnews.com)

Peneliti politik Timur Tengah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hamdan Basyar.(Foto: mirajnews.com)

Jakarta, 26 Syawwal 1436/12 Agustus 2015 (MINA) – Peneliti politik Timur Tengah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hamdan Basyar, mengatakan, sebagai negara yang konsisten mendukung perjuangan Palestina meraih kemerdekaannya, Indonesia tak seharusnya memberikan izin visa bagi Warga Negara Israel.

Menurutnya, menjalin hubungan diplomatik dengan Israel akan melukai rakyat Indonesia yang mayoritas penduduknya umat Islam.

Selain itu, Israel adalah penjajah. Selama Israel masih menjajah Palestina dan Al-Aqsha, maka hubungan diplomatik mustahil dilakukan.

“Jika kita konsisten untuk bantu Palestina, semestinya tidak perlu ada atlet Israel di Indonesia. Artinya, tidak perlu ada visa untuk Warga Israel, selama masalah Palestina belum selesai, belum merdeka,” tegas Direktur Eksekutif Indonesian Society of Middle East Studies (ISMES) itu kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (11/8) malam.

Komite Olimpiade Israel OCI (The Olympic Committee of Israel) menyatakan pada Senin (11/8), Misha Zilberman (26) atlet bulutangkis Israel telah mendapatkan visa untuk masuk ke Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, setelah berulang kali ditolak.

Keputusan pemberian izin visa kepada pemain bulu tangkis asal Israel, Misha Zilberman, itu untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis, di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 10-16 Agustus 2015.

“Indonesia akhirnya memberikan visa atlet Israel, setelah menunggu sekitar dua pekan di Singapura, untuk ke Jakarta mengikuti kejuaraan dunia bulutangkis,” bunyi pernyataan pada media Algemeiner.

Sekjen OCI, Gili Lustig mengatakan, Zilberman telah menunggu di Singapura selama dua pekan setelah membuat aplikasi visa awal enam bulan lalu.

Tidak Punya Hubungan Diplomatik

Masalah hubungan diplomatik RI-Israel pernah dibahas saat kepemimpinan Presiden Gus Dur (1999-2001). Waktu itu Gus Dur ingin membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Akibatnya, rencana itu menuai reaksi masyarakat dan duta besar negara-negara Arab di Jakarta.

Padahal jauh sebelumnya, tahun 1957 lalu, tim nasional Indonesia lolos di zona Asia dan tinggal berhadapan dengan Israel untuk bisa ikut ke Piala Dunia tahun 1958 di Swedia. Namun, Indonesia menolak untuk bertanding di Jakarta atau Tel Aviv.

Indonesia akhirnya mengundurkan diri setelah permintaannya untuk bertanding di tempat netral ditolak oleh FIFA. Presiden Soekarno juga pernah menolak keikutsertaan Israel dalam Asian Games tahun 1962 di Jakarta.

Indonesia, negara mayoritas Muslim yang paling padat penduduknya di dunia, dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik formal.

Warga Negara Israel yang ingin mengunjungi negara Asia Tenggara harus mendapatkan visa khusus di Bangkok atau Singapura, setelah mendapatkan surat sponsor dari pejabat Indonesia.

Seperti yang diketahui, Israel secara sepihak telah mendirikan negaranya tahun 1948. Israel menjajah Al-Quds (Yerusalem) Timur dan seluruh Tepi Barat, Palestina, sejak 1967. Israel lalu mengambil alih sebagian Tepi Barat dan mengklaimnya sebagai wilayah Israel. (L/R05/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Leave a Reply