POLEMIK TUGAS KERJA FEMINIS DI ARAB SAUDI

(Sumber foto: Arabnews)

(Ilustrasi : Arab News)

Jeddah, 18 Syawal 1436/3 Agustus 2015 (MINA) – Para perempuan Arab Saudi memilih tutup mulut ketika harus bekerja melebihi batas waktu dan medan tugas. Sebab, mereka takut akan kehilangan pekerjaan yang menjadi motor pendukung penggerak ekonomi keluarga.

Namun, tindakan itu tidak direkomendasikan Kementerian Buruh. Pasalnya, karyawan perempuan memiliki hak perlindungan yang sama. Setiap keluhan dapat diadukan. Berdasarkan laporan Arabnews, pemilik toko di Madinah mempekerjakan sejumlah karyawan perempuannya secara rodi.

“Mereka harus membersihkan toko, mengangkut barang, dan mengisi rak gudang, kendati tugas itu tidak tercantum di dalam kontrak,” lapor Arabnews seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Senin (3/8).

Sejumlah karyawan perempuan juga mengaku manajer toko tidak membedakan kemampuan antara perempuan dan laki-laki. Alhasil, mereka menjalankan tugas sulit yang mengandalkan kekuatan fisik. “Kami meminta Kementerian Buruh memastikan para pemilik toko tidak menyalahi aturan kontrak,” kata mereka.

Permintaan itu dijawab positif juru bicara (jubir) Kementerian Buruh, Tayseer Al-Mofrej. Dia mengatakan feminisasi perempuan di Arab Saudi tidak ada kaitannya dengan pemberian tugas secara berlebihan. “Majikan, begitu pun karyawan, harus patuh pada peraturan negara,” ujar Al-Mofrej.

Beban ekstra tidak adil yang dititipkan pada para karyawan perempuan di sektor swasta bukanlah kasus baru. Banyak karyawan perempuan yang mengalami penderitaan serupa akibat dari kesewenangan itu. Apalagi, para majikan tidak pernah memberikan kompensasi.

Secara budaya, isu feminisasi perempuan di toko Arab Saudi masih menjadi wacana sensitif. Kementerian Buruh sadar akan hal itu dan berupaya bertanggung jawab mengawasi pelaksanaannya. Mereka juga mencoba memastikan kelancaran program pemerintah tersebut berjalan baik. (T/P020/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Leave a Reply