Muhasabah Awal Tahun Baru Islam

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

Muhasabah berasal dari kata hasiba-yahsabu-hisaban, yang artinya melakukan perhitungan. Secara istilah muhasabah adalah sebuah upaya perhitungan atau evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya.

Hal yang dievaluasi adalah yang bersifat vertikal, hubungan manusia hamba dengan Allah dan hubungan horisontal, hubungan manusia dengan sesama manusia yang lainnya.

Muhasabah merupakan salah satu sarana yang dapat mengantarkan manusia mencapai tingkat kesempurnaan sebagai hamba Allah.

Maka, siapa pun, bahkan organisasi, perusahaan dan lembaga apapun jika ingin maju dan berkembang, unsur manajemen perl;u terus melakukan muhasabah, evaluasi.

Dalam Teori Evaluasi Pendidikan Bloom (1971) disebutkan, evaluasi, adalah pengumpulan fakta secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Evaluasi ini penting untuk menyusun alternatif keputusan berikutnya.

Pada sebuah perusahaan atau organisasi, evaluasi kinerja adalah suatu proses penilaian dalam pelaksanaan tugas staf atau unit-unit kerja sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. Tujuannya adalah untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan serta juga untuk mengetahui posisi perusahaan dalam persaingan dengan yang lain. Melalui evaluasi ini akan dapat diketahui bila terjadi pelambatan atau penyimpangan, untuk segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan dapatr tercapai.

Hasil evaluasi kinerja individu dapat dimanfaatkan untuk banyak penggunaan, di antaranya untuk : peningkatan kinerja, pengembangan SDM, pemberian kompensasi/imabalan, peningkatan produktivitas, kepegawaian dan menghindari perlakuan diskriminasi/ketidakadilan.

Kaitannya dengan berakhirnya Tahun serta awal Tahun Baru Islam / Hijriyah, maka bagi individu Muslim, muhasabah dapat dimaknai sebagai melakukan evaluasi atas amal dan dosa yang telah diperbuat, untuk dapat diperbaiki, sehingga dapat mencapai tujuan sebagai orang yang bertakwa kepada Allah.

Perintah Muhasabah

Perintah untuk melakukan muhasabah bagi setiap hamba Allah mukmin, di antaranya tertera di dalam ayat:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19) لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr [59] : 18-20).

Dalam hal ini, Allah menyeru orang-orang beriman agar senantiasa memelihara hubungan taqwa dengan Allah Sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta beserta seisinya. Serta melakukan muhasabah, evaluasi, koreksi dan introspeksi diri, sejauh mana persiapannya untuk menghadapi Hari Esok. Dalam kalimat, “…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.…”.

Hari esok adalah hari akhirat. Hidup tidaklah akan disudahi hingga di dunia ini saja. Dunia hanyalah semata-mata masa untuk menanam benih. Adapun hasilnya akan dipetik adalah di hari akhirat. Maka, beriman kepada hari akhirat menyebabkan rezeki yang Allah karuniakan di dunia memang telah Allah sediakan terlebih dahulu sebagai persediaan hari esok.

Itulah konsekwensi kita ber-Islam, karena hanya Islamlah satu-satunya agama yang tidak memisahkan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi. Sehingga ada ungkapan ahli hikmah yang berbunyi, “ad-dunya mazra‘atu al-akhirah” (artinya dunia adalah tempat bercocok tanam untuk kepentingan akhirat).

Oleh sebab itu, seyogyanyalah kita selaku orang-orang yang telah mengaku beriman memupuk imannya dengan takwa, lalu merenungkan hari esokya, apa gerangan yang akan kita ­bawa untuk menghadap Allah. Marilah kita masing-masing menghitung terlebih dahulu laba rugi hidup sendiri sebelum dihitung kelak.

Di dalam sebuah hadits dari Syadad bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu disebutkan, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa Nabi bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَالْعَاجِزُ ، مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ، ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Orang yang pandai adalah yang mampu mengadakan muhasabah (mengevaluasi, menghitung) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.. (HR At-Turmudzi).

Umar bin Khattab menyebutkan di dalam khutbahnya:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا

Artinya: “Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung (di hari kiamat), dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di hari kiamat)”.

Sementara Maimun bin Mihran mengatakan, “Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa, hingga ia menghitung dirinya sebagaimana dihitungnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya”.

Bagi Maimun, salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi jauh ke depan hingga ke akhirat, semata untuk mendapatkan ridha Allah.

Tahun 1437 Hijriyah telah berlalu, disambut Tahun Barus Islam 1 Muharram 1438. Saatnya melakukan muhasabah untuk kebaikan kita masing-masing, dan kebaikan semua kaum Muslimin dalam perjuangan berjama’ah. Dan muhasabah itu tentu bukan hanya setahun sekali, tetapi berkali-kali. Dan muhasabah terbaik adalah dengan mencocokkannya segala amal, program dan kegiatan dengan standar Al-Quran dan As-Sunnah. (P4/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.