Kyai Hasyim Muzadi: Tokoh Pemersatu Bangsa

Almarhum Kyai Hasyim Muzadi.

Oleh: Rendy Setiawan*

Salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Kyai Hasyim Muzadi Kamis (16/3) pagi pulang ke rahmatullah, akibat sakit. Kabar meninggalnya Kyai Hasyim pertama kali disebarkan oleh salah satu pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kyai Musthofa Bisri (Gus Mus), dan juga Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitternya.

Meninggalnya Kyai Hasyim adalah kehilangan bagi umat Islam dan masyrakat Indonesia. Kita patut bersyukur dilahirkan di zaman Kyai Hasyim hidup, meski hanya sebentar. Sebagai seorang pemuda, adalah sebuah keharusan ikut meneruskan perjuangan Kyai Hasyim yang lebih menitikberatkan pada persatuan umat Islam Indonesia.

Mengawali tulisan singkat ini, penulis haturkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Kyai Hasyim Muzadi. Penulis sendiri, atau bahkan kita semua sebagai masyarakat Indonesia merasa kehilangan dan sedih atas wafatnya Kyai Hasyim.

Kesedihan itu bukan saja dirasakan oleh Keluarga Besar PBNU, tetapi juga dari berbagai pihak, termasuk muslim moderat, Muhammadiyah, Salafiyah, dan berbagai golongan lainnya, bahkan dari tokoh selain NU sekalipun.

Pikiran dan gagasan Kyai Hasyim selama menjabat Rais Aam PBNU hingga mendampingi Presiden RI Joko Widodo sejak 2015 lalu sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, sangat teduh dan mencerahkan setiap kali melontarkan pandangan. Hal ini berdasarkan penuturan beberapa tokoh nasional, seperti Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin dan beberapa tokoh nasional.

Jusuf Kalla yang menjadi inspektur ucapara militer sebagai penghormatan terakhir bagi sang kyai pun tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Dari cara bicaranya saat memberikan sambutan, terlihat mata Jusuf Kalla terlihat berkaca-kaca. Dalam sambutannya, Jusuf Kalla tidak henti-hentinya memuji sosok Kyai Hasyim yang tak kenal lelah untuk tetap membawa Islam Indonesia sebagai umat paling toleran di dunia.

Apa yang diperlihatkan oleh Jusuf Kalla juga diperlihatkan oleh tokoh Muhammadiyyah dan MUI, Prof. Din Syamsuddin. Din mengungkapkan kekagumannya terhadap Kyai Hasyim. Bahkan Din tak malu menyebut Kyai Hasyim sebagai guru yang membimbingnya untuk menjadi pribadi yang arif dan bijaksana dalam menerima perbedaan.

Hari ini kita kehilangan sosok yang sangat berwibawa, sosok pemikir yang selalu mencoba mempersatukan semua golongan Islam. Saya bersama beliau bukan saja sama-sama alumni Gontor, tetapi kami juga sangat dekat ketika saya menjabat Ketua Umum Muhammadiyah, dan beliau menjabat Ketua Umum PBNU. Kita bisa lihat betapa dekatnya hubungan NU dan Muhammadiyah,” kata Din mengenang kisahnya tentang Kyai Hasyim di Komplek Pesantren Al-Hikam, Depok, Kamis (16/3).

Din melanjutkan kisahnya, Kyai Hasyim adalah putra bangsa yang patut disyukuri keberadaannya. Din mengaku selama ini, ia bersama Kyai Hasyim selalu berusaha menjadikan umat Islam Indonesia sebagai cerminan Muslim dunia.

“Hingga menjelang wafatnya, saya sempat menjenguk Kyai Hasyim. Ada dua pesan yang beliau sampaikan kepada saya. Pertama beliau mengingatkan saya untuk mensyukuri nikmatnya sehat. Kedua, beliau mengingatkan saya untuk tetap arif dalam menyelesaikan persoalan umat dan bangsa, khususnya persoalan yang bersifat internal,” kata Din.

Juga pengakuan yang disampaikan oleh Staf Kepresidenan Teten Masduki, dengan tutur kata lirih di tengah kerumunan wartawan saat mengahadiri pemakaman, Teten bercerita tentang bagaimana sosok Kyai Hasyim yang selama ini sangat dikagumi olehnya. Teten menyebut Kyai Hasyim adalah tokoh penuh integritas, luwes, dan memiliki banyak ilmu. Sehingga tak mengherankan masyarakat Indonesia cinta kepadanya.

Ini menunjukkan betapa Kyai Hasyim adalah sosok yang bisa diterima oleh semua golongan, berawal dari peran beliau yang menghargai perbedaan, bersikap arif dan tetap santun terhadap orang yang mengkritiknya, dan perjuangan Kyai Hasyim melebarkan persamaan antara sesama umat Islam, bukan menebalkan tembok perbedaan.

Penulis teringat betul bagaimana Kyai Hasyim menghadiri Konferensi Media Islam (ICIM – International Conference of Islamic Media) di Auditorium Adhiyana, Gedung Antara, Jakarta pada pertengahan tahun lalu dalam keadaan kurang sehat, tetap menghadiri dan menghormati undangan dari acara yang diselenggarakan oleh Jamaah Muslimin (Hizbullah), Kantor Berita Islam MINA, LKBN Antara, dan Republika.

Ini menjadi nilai tersendiri dari penulis untuk Kyai Hasyim.

Di tengah persoalan umat Islam Indonesia saat ini, Kyai Hasyim tetap istiqomah mengarahkan umat Islam untuk memilih pemimpin muslim. Bahkan di Masjid Nuruttaqwa Malang saat mengisi acara Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Sabtu (3/12/2016), Kyai Hasyim tak ragu menyebut Aksi Super Damai 212 di Monas pada akhir tahun lalu seperti peristiwa Badar di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

“Saya menduga, (aksi) 212 dihadiri malaikat. Buktinya, minta teduh dikasih teduh, minta hujan dikasih hujan, tujuh juta umat berkumpul dan bubar tanpa musibah, Jam empat sore Monas dan sekitarnya bersih lagi seperti sediakala. Peristiwa Badar Surat Al-Anfal ayat 9 terjadi lagi di Monas.”

Apa maknanya? Ini menunjukkan kekaguman beliau terhadap persatuan umat Islam Indonesia pada peristiwa tersebut. Sehingga beliau berani menganalogikan Aksi Super Damai 212 seperti peristiwa Badar. Kita tau peristiwa Badar adalah peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam, peristiwa paling menentukkan keberadaan Islam saat itu.

Di sisi lain, Kyai Hasyim tetap legowo dan tidak keras terhadap sesama muslim yang mendukung non muslim. Namun, apakah sikapnya yang legowo mengubah pendiriannya mengarahkan umat memilih pemimpin muslim? Tidak.

Keluwesan Kyai Hasyim terhadap sesama muslim, ketegasan Kyai Hasyim terhadap non muslim patut ditiru oleh setiap kader yang mengaku dirinya sebagai kader NU.

Seorang ulama kenamaan pernah mengatakan bahwa jika ingin melihat jiwa seseorang, apakah ia seorang yang baik ataukah ia seorang yang buruk, maka lihatlah bagaimana pandangan orang-orang ketika ia sudah meninggal. (R06/RS-2)

*Penulis, Jurnalis MINA dan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.