Malu, Sifat Mulia Seorang Muslimah

Ilustrasi

Oleh Risma Tri Utami, Wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Selama ini, seringkali orang salah mengartikan rasa malu. Mereka mengatakan, rasa malu identik dengan sifat pendiam atau mengurung diri di rumah. Kenyataannya tidak demikian.

Seorang muslim (muslimah) yang punya rasa malu akan berbuat baik dan menjauhkan perbuatan jahat (hal yang dilarang Allah). Sebaliknya, jika hal yang dilarang Allah itu dilakukan, maka selain rasa malunya kepada Allah tidak ada, juga merupakan kelemahan dan kehinaan bagi pelakunya.

Selain bertauhid, ciri seorang muslim adalah memiliki akhlak yang baik. Satu di antara sekian banyak akhlak mulia di dalam Islam adalah rasa malu. Di akhir jaman ini, rasa malu makin sulit ditemukan di tengah kehidupan kaum muslimin. Terkait rasa malu ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari kalam nubuwwah yang terdahulu adalah, “Bila kau tidak malu, maka lakukanlah semaumu.” (HR. Bukhari).

Imam Raghib al-Asfahani rahimahullah berkata, “Malu adalah menahan jiwa agar tidak mengerjakan sesuatu yang tercela. Malu, termasuk sifat istimewa yang dimiliki manusia. Malu adalah menahan diri dari perbuatan (buruk) yang diinginkan oleh hawa nafsunya, sehingga ia tidak menjadi seperti binatang.”

Dua Jenis Malu

Pertama, malu merupakan tabiat dan watak bawaan. Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia, diberikan Allah Ta’ala kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ

“Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” (HR. Bukhâri, Muslim)

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk bagian dari iman.

Al-Qurthubi rahimahullâh berkata, “Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah Ta’ala sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharîzah (tabiat). Tapi, tabiat akan membantu terlahirnya sifat malu yang diusahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki dua jenis malu ini, tetapi sifat beliau lebih malu dari gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi.”

Kedua, malu yang timbul karena adanya usaha, yaitu, malu yang didapatkan secara ma’rifatullâh (mengenal Allah) dengan mengenal segala keagungan-Nya, kedekatan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai bagian dari iman.

Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabiat maupun yang didapat dengan usaha, tidak ada sama sekali yang menahannya untuk jatuh dalam perbuatan keji dan maksiat sampai ia menjadi setan terkutuk yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia.

Dulu, orang-orang jahiliyah berada di atas kebodohannya merasa sangat berat untuk melakukan hal-hal buruk karena dicegah oleh rasa malunya. Di antara contohnya ialah apa yang dialami oleh Abu Sufyan saat bersama Heraklius ketika ia ditanya tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Abu Sufyan berkata,

فَوَ اللهِ ، لَوْ لاَ الْـحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوْا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَلَيْهِ

“Demi Allah Azza wa Jalla, kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong kepadanya (tentang Allah Azza wa Jalla).” (HR. Bukhari)

Malu, Mahkota Muslimah

Allah Ta’ala menceritakan salah satu anak perempuan dari seorang ayah suku Madyan. Allah berfirman,

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu. (Qs. Al-Qashash: 25)

Maksudnya, dia (gadis) itu datang dengan mengemban tugas dari ayahnya, berjalan dengan cara berjalannya seorang gadis yang suci dan terhormat ketika menemui kaum laki-laki, tidak seronok, tidak genit, tidak angkuh, tidak tebar pesona, tidak mudah terbawa perasaan (baper), dan tidak membuat lelaki bergairah kepadanya.

Namun, walau malu itu tampak dari cara berjalannya, dia tetap dapat menjelaskan maksudnya dengan jelas dan mendetil, tidak ragu dan terbata-bata. Semua itu timbul dari fitrahnya yang selamat, bersih, dan lurus. Gadis yang lurus akidah dan tauhidnya, merasa malu dengan fitrahnya ketika bertemu dengan kaum laki-laki yang berbicara dengannya, tetapi karena kesucian dan keistiqamahannya, ia tidak panik karena kepanikan sering kali menimbulkan dorongan, godaan, dan rangsangan. Dia bicara sesuai dengan yang dibutuhkan dan tidak lebih dari itu.

Dalam sebuah kisah, ‘Aisyah radhiyyallahu ‘anha pernah didatangi wanita-wanita dari Bani Tamim dengan pakaian tipis, kemudian ‘Aisyah berkata, “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Ayat yang disebut dengan ayat hijab ini memuat perintah Allah kepada Nabi-Nya agar menyuruh kaum perempuan secara umum dengan mendahulukan istri dan anak-anak perempuan beliau karena mereka menempati posisi yang lebih penting daripada perempuan yang lainnya, dan juga karena sudah semestinya orang yang menyuruh orang lain untuk mengerjakan suatu (kebaikan) mengawalinya dengan keluarganya sendiri sebelum menyuruh orang lain.”

Ummul Mukminin ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshâr,

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama.”

Para wanita Anshâr radhiyallâhu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.

Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak malu terhadap kebenaran, apakah seorang wanita wajib mandi bila ia mimpi (berjimâ’)?” Rasulullah menjawab, “Apabila ia melihat air.”

Wajib bagi seorang muslim apalagi wanita (muslimah) untuk mempelajari sebab-sebab yang dapat menumbuhkan rasa malu dan menjadi wanita yang berhias dengan rasa malu baik dalam lisan dan perbuatan, wallahua’lam.(R09/RS3)

(Berbagai sumber)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.