Wawancara Eksklusif MINA dengan Bupati Lombok Utara

Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar. (Foto: Rahmie/MINA)

Salah satu destinasi halal yang paling terkenal di Indonesia adalah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Popularitasnya kian melejit setelah Lombok memenangkan dua penghargaan internasional sebagai destinasi halal dunia dalam acara World Halal Travel Award 2015 di Uni Emirat Arab (UEA), yakni Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia dan Destinasi Bulan Madu Halal Terbaik Dunia.

Sementara itu dari level domestik, Lombok didaulat meraih Hotel Ramah Keluarga Terbaik Dunia. Sejak memenangkan penghargaan Wisata Halal Dunia Terbaik tersebut, nama Pulau Lombok makin dikenal di dunia, khususnya di kalangan para wisatawan mancanegara (wisman) Muslim atau Muslim Travellers.

Tak heran jika pemerintah daerah di NTB kian gencar mengembangkan wisata halal atau Moslem friendly tourism di Pulau Lombok. Moslem friendly tourism ini menjadi destinasi wisata yang ramah terhadap pelancong Muslim.

Kabupaten Lombok Utara menjadi salah satu daerah yang dicanangkan sebagai destinasi wisata dunia gencar mengembangkan wisata syariah guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Kabupaten Lombok Utara (KLU) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Tanjung. Kabupaten ini merupakan Kabupaten Termuda di NTB, pemekaran dari Kabupaten Lombok Barat yang dibentuk pada 2008 lalu.

Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU) menegaskan, modal bagi sektor pariwisata wilayah tersebut adalah kekayaan alam yang ditunjang dengan semakin banyaknya event seni dan budaya yang digelar di Lombok Utara.

Dia meyakini bahwa wisata halal menjadi industri yang terus berkembang dan sangat menjanjikan.

Keyakinan inilah menjadikan KLU dapat meraih berbagai penghargaan termasuk meraih penghargaan the real wonder of the word dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Penghargaan ini diberikan atas keunikan Gili Trawangan yang mampu mempertahankan nilai-nilai budaya lokal dan religiusitas masyarakat.

Pemerintah daerah berupaya menciptakan kawasan pariwisata yang berorientasi pada pengayaan budaya lokal berbasis budaya dan nilai religius sebagai respon pemerintah daerah yang didukung oleh segenap komponen masyarakat di Kabupaten Lombok utara.

Kota dengan seribu masjid merupakan salah satu ikon yang dibentuk untuk menarik minat para wisatawan dari timur tengah untuk dapat berkunjung di wilayah kabupaten yang berpenduduk 200 ribu jiwa ini.

Saat ini tingkat kunjungan wisatawan ke Lombok Utara mencapai 2.600 orang perhari atau naik 100 persen dibandingkan pada 2014.

Untuk menggali potensi dan keunggulan wisata syariah di KLU, Tim Mi’raj Islamic News Agency (MINA) berkesempatan mewawancarai Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU) Dr. H. Najmul Akhyar, S.H. M.H. usai menghadiri acara Seminar Nasional Islamic Economic Day (EID) yang digelar Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI di Depok, Sabtu (11/3).

Berikut hasil wawawancaranya:

Mengapa Anda mengembangkan wisata syariah di KLU?

Pertama karena kewajiban moral untuk meminimalisir dampak-dampak negatif yang ditimbulkan wisata konvensional. Selama ini kita sudah sangat welcome dengan wisata konvensional, namun kita lupa memperhatikan dampak-dampak negatifnya banyak yang muncul.

Untuk itu, di antara cara untuk mengurangi dampak-dampak negatif itu dengan memasukkan unsur-unsur syariah pada konteks pariwisata kita. Misal menyangkut pakaian, kehalalan makanan, dan ketenangan wisatawan khususnya umat Islam agar mereka dapat beribadah saat berwisata.

Kedua dalam kontkes ekonomi, kajian industri, wisata syariah. Justru pasar wisata syariah terbesar ada di Indonesia. karena Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Pada tempat-tempat pariwisata kita, selain menerima wisatawan asing, rupanya wisatawan lokal juga luar biasa.

Masyarakat Indonesia dalam kajian pariwisata itu termasuk masyarakat yang senang berekreasi. Kita bisa lihat setiap hari besar saat hari libur mereka datang, mereka perlu fasilitas supaya mereka tenang beribadah saat berwisata.

Bagaimana potensi dan keunggulan wisata syariah di KLU sendiri? 

Potensi sangat besar karena didukung oleh masyarakat sendiri yang menjadi mayoritas beragama Islam (90 persen). Pada bidang kuliner, sudah tidak ragu lagi, karena kesadaran masyarakat KLU untuk mengonsumsi makanan halal dan kesadaran membeli kepada sesama umat Islam sendiri sangat tinggi.

Pada bidang budaya, sangat dipengaruhi oleh agama Islam, banyak sekali even-even budaya kita bisa jadikan sebagai potensi wisata syariah. Sebagai contoh, setiap tahun diselenggarakan even Isra Mi’raj dan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Aalaihi Wasallam. Budaya itu sebagai sebuah kekayaan yang bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menjadi khazanah bagi wisata syariah.

Lombok Utara sangat ramah Muslim, mereka welcome sekali.

Apa yang menjadi ikon atau identitas dari KLU sendiri?

Pemandangan Gili Trawangan di Lombok Utara. (Foto: wisatadilombok.com)

Ikon dari Lombok itu adalah kekayaan dan keindahan alamnya. Lombok Utara memiliki potensi wisata alam dan budaya yang sangat unik mulai dari destinasi wisata Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, Air Terjun Sendang Gile Bayan, Daerah Senaru, Gunung Rinjani, hingga Danau Segara Anak yang ada di puncak Rinjani .

Banyak keunikan di Lombok Utara yang tidak ditemukan di bagian dunia mana pun sehingga layak mendorong Lombok Utara sebagai destinasi wisata dunia.

Ada karang biru yang merupakan karunia luar biasa bagi Lombok Utara, karena menurut riset yang pernah dilakukan, ‘blue coral’ hanya ada dua di dunia yakni di Karibia dan Lombok Utara. Air tawar di tengah laut juga ada di sini.

Selain itu, sejumlah peninggalan sejarah perkembangan Islam, seperti masjid kuno Bayan dan Sesait di Kabupaten Lombok Utara berusia ratusan tahun serta bangunan peninggalan kesultanan di Pulau Sumbawa juga merupakan potensi wisata Islami yang juga menjadi daya tarik wisata.

Keunikan arsitektur masjid kuno di Kabupaten Lombok Utara (KLU) kerap menyedot perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Ini menjadi salah satu aset daerah untuk mengembangkan konsep wisata syariah.

Kami juga mulai mengembangkan wisata paralayang, membuka destinasi wisata yang baru seperti air terjun yang banyak sekali di Lombok Utara yang masih asri dan indah sekali.

Bagaimana Anda dapat mewujudkan ‘Good Governance’ sebagai faktor keberhasilan dalam pengembangan wisata di KLU?

Pertama niat kita melayani masyarakat. Semangat melayani itu saya tumbuhkan di setiap sektor atau institusi di Lombok Utara. Saya jarang sekali di sana itu mengatakan pejabat, tapi saya sebut sebagai pemegang amanat. Karena kalau kita bicara sebagai pejabat, maka yang dibayangkan adalah kewenangan dan kekuasaan. Jika sebagai pemegang amanah, maka yang mereka bayangkan adalah pelayanan. Jadi niat yang kuat mengawal pemerintah ini secara bersih.

Kedua transparansi. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, dengan LSM-LSM kita jalin MoU kerja sama dalam bidang kesehatan dan lain-lain. Sehingga pemerintah bisa dikontrol. Kita terbuka. Bagi kita sepanjang bisa kita buka ke publik pasti akan kita buka dalam rangka membangun semangat mempertanggungjawabkan pemerintahan ini dengan baik di tengah-tengah masyrakat kita.

Ketiga Pendalaman nilai-nilai agama. Kami setiap pekan pada Hari Jumat pasti ada hari Imtaq (Iman dan Taqwa) di tempat Muslim, Hindu maupun Buddha. Mereka boleh memakai pakaian sesuai agama masing-masing. Datang ke kantor.

Sehubungan kunjungan Raja Salman baru-baru ini. Tentunya ada komitmen Arab Saudi untuk berinvestasi di Indonesia. Kira-kira untuk Kabupaten Lombok Utara apa yang bisa dikonversikan?

Utusan Raja Salman sebenarnya sudah datang ke Lombok untuk berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah. Mereka juga berminat untuk berinvestasi di Kabupaten Lombok Utara. Investasi besar di Lombok Utara saat ini adalah pendirian Global Hub dengan membangun pelabuhan laut internasional. Desain dan leading dari pemerintah pusat. Ini butuh investasi besar perlu dana sekitar 350 triliun rupiah. Ini tentunya cocok jika Raja Salman yang berinvestasi karena jumlahnya sangat besar. Saat ini sedang berproses adalah investor dari Belanda.

Letak Kabupaten Lombok Utara sangat strategis yaitu terletak pada daerah tujuan pariwisata sedangkan jalur perhubungan laut dengan Selat Lombok sebagai jalur perhubungan laut yang semakin ramai, dari arah timur tengah untuk lalu lintas bahan bakar minyak dan dari Australia berupa mineral logam ke Asia Pasifik.

Untuk itu, Global Hub merupakan proyek besar sekali. Proyek pemerintah pusat di Lombok Utara ini pada posisi puncak memerlukan 300 ribu tenaga kerja. Sekarang kita sedang membebaskan tanah seluas 7.000 hektare untuk tahap awal di sekitar daerah Kayangan dan Bayan. Sehingga nama megaproyek ini adalah Proyek Kota Baru Bandar Kayangan untuk Pelabuhan Laut Internasional.

Global Hub yang akan dibangun di Kabupaten Lombok Utara mengusung visi mewujudkan kota baru sebagai pusat industri, perdagangan, energi, dan maritim dunia.

Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak. (Foto: Disbudpar Lombok Utara)

Bagaimana langkah-langkah pengembangan wisata syariah di KLU?

Tahapan saat ini adalah menertibkan kafe-kafe yang melanggar di kawasan Gili Terawangan. Saya bersyukur dalam pembongkaran itu tidak ada kekerasan atau bentrokan fisik. Karena setelah kita memberikan pengertian, mereka membongkarnya sendiri. Bahkan sempat diapresiasi oleh pemerintah pusat.

Dikenal masyarakat dunia dengan Gili Terawangan. Sudah memulai dari hal-hal yang menurut kita mendasar. Seperti bagaimana makanan . Minuman berakohol diberikan penjelasan. Penyediaan sarana ibadah di setiap hotel.

Kita sedang memulai, mudah-mudahan pelaksanaannya dilakukan dengan baik.Pengembangan wisata syariah ini juga didukung dengan regulasi yang baik dari pemerintah Provinsi. Kita sedang menyusun Rencana Induk Pengembangan Wisata Daerah (RIFwda) yang sedang dibahan di dewan.

Pesan Bupati soal wisata syariah?

Jangan ragu terhadap pengembangan wisata syariah ini. Konsep syariah adalah konsep yang datang dari Allah, pasti lebih baik dari konsep konvensional. Konsep syariah juga pasti menguntungkan dari sisi apa pun.

Dari sisi hukum umpama, ada kepastian hukum dari orang untuk merasa yakin terhadap apa yang dia lakukan. Jika kita bicara undang-undang perlindungan konsumen juga konsep syariah ini lah sejatinya undang-undang perlindungan konsumen itu. Dengan konsep syariah semua terlindungi. Jangan ragu, karena dari sisi industri pariwisata, pasar wisata syariah ini sungguh luar biasa. Insya Allah, jangan ragu mengembangkan konsep yang bersumber dari agama ini karena kita harus berkeyakinan konsep ini pasti lebih baik dari konsep yang bersumber dari manusia. (L/R01/RS1)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Tags:
author

Author: 

Wartawan Kantor Berita Islam Mi’raj (Mi’raj Islamic News Agency – MINA) dapat dihubungi via :

Related search

Related Posts

Comments are closed.