Menanam Biji Keikhlasan Dalam-Dalam

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA

Biji tanaman jika ingin tumbuh menjadi tunas, lalu menjadi pohon yang kuat, hendaknya ditanam ke dalam tanah.

Jika biji itu dibiarkan saja di atas tanah, maka kemungkinan sulit tumbuh. Walaupun ada beberapa biji yang bisa tumbuh juga di atas tanah seperti biji kelapa.

Namun pada umumnya adalah ditanam ke dalam tanah.

Sama halnya dengan amal. Jika kita beramal, maka tanamlah dalam-dalam dengan biji keikhlasan. Artinya, harus benar-benar ikhlas, terkubur ke dalam sehingga tidak diketahui orang lain. Tidak riya (pamer) yang justru berpotensi menggugurkan amal kita.

Tentu beda dengan yang bersifat berita atau informasi yang memang harus disiarkan dan disyi’arkan ke khalayak umat. Sebab memang menyangkut kepentingan umat.

Tapi amal pribadi, seperti shalat malam, memberi shadaqah, membantu sesama. Tidak perlulah dicerita-ceritakan. Bahwa dirinya sudah membantu si fulan si fulanah. Masjid itu khan “Saya yang paling banyak bantu”. “Dia khan berhasil karena saya”.

Bahkan ada satu golongan di akhirat kelak yang Nabi gambarkan akan mendapatkan perlindungan Allah tatkala tidak ada perlindungan selain-Nya, salah satunya adalah orang yang bershadaqah dengan tangan kanannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Bisa dibayangkan, tangan kirinya saja tidak tahu. Apalagi tangan orang lain, mata orang lain, penglihatan orang lain.

Itulah nilai keikhlasan. Allah menyebut di dalam ayat:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَالِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (QS Al-Bayyinah [98]: 5).

Untuk itu, marilah kita “Menanam Biji Keikhlasan Dalam-Dalam”. Biarlah hanya Allah Yang Maha Tahu. Karena kita berjuang, beribadah dan beramal adalah karena Allah bukan karena yang lain.

Maka dipastikan kita tidak akan kecewa, tidak akan melemah, tak kan mundur dari perjuangan atau lari dari beramal karena Allah.

Semoga kita dapat mengamalkannya. Walllahu a’lam bish shawwab. Astaghfirullaahal ‘adziim…. (A/RS2/R01)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.