Atasi Kesulitan Air Bersih Myanmar, MER-C Berencana Gunakan Teknologi Ultrafiltrasi

(Foto: dokumentasi MER-C)

Yangon, MINA – Pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Myanmar menghadapi kesulitan air bersih karena tanah di sekitar lokasi Rakhine State menghasilkan air payau. Karenanya, tim kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) akan menggunakan teknologi ultrafiltrasi untuk mengolah air agar layak pakai.

Teknologi ultrafiltrasi bertujuan agar kebutuhan air bagi RS Indonesia nanti bisa disuplai dengan baik.  Selama ini warga hanya menadah air hujan untuk keperluan sehari-hari, hal ini dijelaskan salah satu tim ahli MER-C Agus Subyakto dalam wawancara dengan MINA di lokasi pembangunan RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu (9/8).

“Setelah melakukan pengecekan di lapangan, PH  air di sini  7,1 dan TDSnya rendah, hanya 2, yang berarti mineralnya rendah maka, kita akan menggunakan sistem ultrafiltrasi, nanti akan langsung jernih airnya,” terang ahli pengolahan air asal ITB tersebut.

Lebih lanjut, pria berusia 58 tahun itu menjelaskan, teknologi ultrafiltrasi ini merupakan sebuah teknologi penyaringan air dengan menggunakan membran tertentu dan dapat menyaring setiap partikel yang ada di dalam air hingga ukuran 0,01 mikron.

“Jadi ultrafiltrasi itu adalah teknologi dengan menggunakan membran dengan ukuran rembesannya 0,01 mikron. Nah dengan adanya air yang masuk melalui membran tersebut, semua kotoran akan tertahan, sehingga air itu sudah bebas dari kemungkinan bakteri dan lain-lain,” jelasnya.

Ia juga menyatakan selain perawatan yang mudah, teknologi ini pun mampu menahan virus hingga ukuran 0,5 mikron.

“Sampai dengan virus akan tertahan di membran itu, karena virus ukurannya 0,5 mikron. Teknologi ini mudah dioperasikan dengan menggunakan pompa karena tekanannya cukup rendah. Hanya membutuhkan tekanan 0,5 – 1 bar. Membersihkannya cukup mudah, dengan bayclin sudah bisa membersihkan membran,” lanjutnya.

Agus menambahkan, dengan kapasitas penampungan air yang mencapai 120 ribu meter kubik, potensi ini bisa melayani 1.000 orang selama empat bulan ke depan.

“Kapasitas penampungan air ini 120 meter kubik, bisa melayani 1.000 orang, dan jika dihitung kebutuhan air per orang 100 liter perhari, maka kapasitas air ini bisa digunakan hingga 120 hari ke depan atau empat bulan,” terangnya.

Dia juga menyatakan, air hujan yang ditampung di kolam penampungan warga sejauh ini kualitasnya sangat baik, karena tidak ada polusi udara di sekitarnya.

“Saya langsung minum air tadi, karena saya yakin air tersebut tidak berbahaya, dan airnya bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti rasa air yang punya TDS rendah. Ini karena airnya tidak tercemar oleh polusi,” ungkapnya.

Berbicara biaya, Agus menyatakan bahwa biaya yang digunakan bisa terjangkau dan tidak terlalu tinggi.

“Untuk kapasitas 3-4 meter kubik per jam jika di Jakarta bisa seharga 15 jutaan. Berarti selama satu jam air ini bisa melayani 300 orang, sehingga untuk kapasitas seribu orang, bisa beroperasi hanya 3-4 jam perhari,” katanya.

MER-C kembali membuat sebuah gebrakan besar dalam rangka membangun diplomasi kemanusiaan mereka di dunia internasional, bekerjasama dengan  Palang Merah Indonesia (PMI) dan didukung oleh pemerintah Republik Indonesia dalam membangun rumah sakit tersebut.

Keberadaan Rumah Sakit Indonesia ini diharapkan dapat menjadi salah satu perekat persatuan antara dua etnis di Myanmar sehingga bisa meredam konflik berpekanjangan yang terjadi, dan  mendorong terciptanya keadilan serta perdamaian di negara itu.

Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri 124.000.8111.982, BSM 700.1306.833, BCA 686.028.0009 semua atas nama Medical Emergency Resceu Committee. (L/KD/RE1/R01)

 

MI’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.