Mush’ab bin Umair Pemuda Teladan Da’i Pertama ke Madinah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA (Mi’raj News Agency)

Masa muda adalah waktu kebanyakan manusia banyak bermain, bepergian bahkan berfoya-foya dalam glamor dunia dan kesenangan semu.

Namun, tidak bagi Mush’ab bin Umair, seorang pemuda sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dia adalah anak muda idola, dari kalangan berada, berpenampilan menawan, dan terbiasa dengan pakaian serba baru dan kenikmatan dunia.

Namun, semua itu ia tinggalkan, dan lebih memilih jalan perjuangan bersama Nabinya tercinta, hingga ia menjadi duta Islam pertama yang diberangkatkan untuk misi dakwah ke Yatsrib (sebelum kemudian menjadi Madinah).

Ada kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Katanya:

رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ

Artinya: “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Masa Kecil

Mush’ab bin Umair bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy.

Mush’ab seorang pemuda tampan dan rapi dalam penampilan. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya seorang wanita yang sangat kaya.

Sehingga dikatakan, “Pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah pemuda Makkah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memberikan kesaksian dalam sabdanya:

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

Artinya: “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR Hakim).

Begitulah, Mush’ab mengambil tempat duduknya, ia senang mengikuti ta’lim. Hingga ayat-ayat Al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar.

Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.

Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam mengulurkan tangannya yang penuh berkah dan kasih sayang dan memegang dada pemuda yang sedang panas bergejolak. Hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak ubahnya bagai lautan yang teduh dan dalam.

Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas, berlipat ganda dari ukuran usianya, dan mempunyai kepekatan hati yang mampu mengubah jalan sejarah.

Masuk Islam

Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah, para penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian. Namun, kuasa Allah, Dia memberi cahaya hidayah di hatinya, hingga ia pun memeluk agama Islam.

Ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di rumah Al-Arqam dan menyatakan keimanannya, saat dakwah Nabi dilakukan sembunyi-sembunyi.

Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Namun, dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis ilmu bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk.

Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.

Menghadapi Cobaan

Akhirnya, orang tuanyapun mengetahui keislamannya. Maka, periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan itu pun dimulai.

Padahal sebelumnya, ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makanan sudah ada di hadapannya.

Mengetahui putera kesayangannya meninggalkan agama nenek moyangnya, ibu Mush’ab kecewa bukan main. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum, serta terus berdiri tanpa naungan, baik  siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.

Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habasyah. Mendengar berita hijrah ini, Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil keluar dari kurungan, untuk ikut hijrah ke Habasyah, kawasan Afrika. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin. Lalu beberapa waktu kemudian, ia pulang kembali ke Makkah.

Ali bin Abi Thalib dalam sebuah riwayat ketika Mush’ab sudah bebas dan kembali ke kaum Muslimin, ia berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang sahabatnya itu dapatkan dahulu sebelum memeluk Islam dibandingkan dengan keadaannya sekarang.

Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Makkah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya.”

Perjuangan Dakwah Mush’ab

Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat Nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib (Madinah).

Memang, Mush’ab bin Umair bukan sembarang pemuda.

Mush’ab rela menjadi seorang yang meninggalkan kebanggan palsu dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki akhirat.

Tidak mengherankan bila akhirnya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam menunjuknya untuk menjadi duta pertama Islam berda’wah ke Madinah.

Dikisahkan lagi, suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah Shallallahu ’Alaih Wasallam untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam di Bukti Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk kelak menyambut hijrah Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.

Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz.

Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Al-Quran dan As-Sunnah, dengan hidayah-Nya. Cara penyampaian dakwahnya sangat menarik dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz.

Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar, apa yang hendak aku sampaikan? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.

Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”

Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

Dalam perjuangan menghangkat senjata, Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam pada Perang Uhud.

Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi, yang mengira bahwa Mush’ab adalah Nabi Muhammad. Lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya.

Lalu Mush’ab membaca ayat:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ

Artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.” (QS Ali Imran: 144).

Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambal membaca ayat yang sama:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ

Artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS Ali Imran: 144).

Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib.

Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.

Setelah perang usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur.

Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya.

Kemudian beliau membaca ayat:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.

Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Makkah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan pakaianmu hanya kain burdah.”

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.

Kenangan Para Sahabat

Setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu ketika sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umair.

Ia berkata, “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”.

Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.

Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir.”

Penutup

Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan menjadikannya teladan bagi pemuda-pemuda Islam. Mush’ab telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah.

Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan dalam bersemangat menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.

Dialah duta Islam pertama Nabi yang dikirim ke Madinah. Semoga para pemuda Muslim dapat mengikuti jejaknya sebagai juru dawkah Al-Islam ke penjuru dunia. Aamiin. Dari berbagai sumber. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.