Ulama Mesir Jadi Pemateri Daurah Al-Quran dan Bahasa Arab di Lampung

Dr. Mahmoud Abdullah Alsyarief saat berikan materi dalam pembukaan Daurah Al-Quran dan Bahasa Arab yang diselenggarakan oleh SQAM. (Photo: MINA)

Bandar Lampung, MINA – Ulama Mesir DR. Mahmoud Abdullah Alsyarief menjadi pemateri di Daurah Al-Quran dan Bahasa Arab yang diselenggarakan Shuffah Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud (SQABM) di Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Muhajirun Lampung.

Mahmoud merupakan doktor lulusan Universitas Al-Azhar Kairo yang memiliki keahlian di bidang ekonomi syariah.

Ketua pelaksana Arif Rahman Fitriyanto saat ditemui Mi’raj News Agency (MINA) mengatakan, Mahmoud didatangkan ke Indonesia sebagai pemateri di acara tersebut, dikarenakan hafalan Al-Qurannya yang mutqin (melekat-red).

“Beliau juga seorang hafiz Quran yang memiliki dua sanad,” ujarnya, Ahad (27/8).

Selain itu, Ketua Jurusan SQABM Muflihuddin mengatakan, Mahmoud juga merupakan penulis buku. Salah satu bukunya yaitu membahas tentang wasiat atau nasehat bagi para penuntut ilmu yang merujuk pada Al-Quran dan Sunnah.

Sepuluh wasiat bagi para penuntut ilmu

Di dalam bukunya Mahmoud menjelaskan, ada sepuluh nasehat atau wasiat bagi para penuntut ilmu yang harus diingat dan diamalkan.

Yang pertama, wajib berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah serta membebaskan diri dari hawa nafsu.

Yang kedua, bagi taqlid (orang yang mengikuti) hendaknya mengikuti seorang alim yang shalih, bertaqwa dan dapat dipercaya. Sedangkan bagi para mujtahid (orang yang mengambil kesimpulan) hendaknya memadukan dalil-dalil sebelum memutuskan suatu masalah.

Yang ketiga, wajibnya berpegang teguh pada jalan hidup salafusholih dari kalangan sahabat dan tabiin.

Ke empat, berprasangka baik kepada para ulama atau orang-orang sholeh baik yang terdahulu maupun yang sekarang serta mengetahui hak-hak mereka.

Ke lima, hendaknya mencari ilmu syar’i untuk memahami hukum-hukum syariat.

Ke enam, berhati-hati dalam memberi fatwa dan tidak tergesa-gesa dalam menetapkan hukum.

Yang ke tujuh, tawadhu, hati-hati serta menjaga diri dari sifat sombong dan membanggakan diri terhadap amalannya maupun diri sendiri.

Ke delapan, wajibnya bersifat adil dan bisa mengambil jalan tengah berhukum maupun menetapkan yang benar sekalipun bersama orang yang berbeda dengan kita.

Ke sembilan, meninggalkan dan mencela sifat berlebihan dan terlalu merendahkan diri.

Yang terakhir, tidak boleh bangga dengan kezuhudan seseorang atau dengan baiknya penampilan seseorang sebelum mengetahui aqidahnya.

Tidak hanya memaparkan sepuluh wasiat, buku tersebut juga menjelaskan manfaat atau hasil yang akan didapat jika mengamalkan wasiat tersebut dan bahaya atau kerugian bagi orang yang meremehkan serta cara menanamkan dan mengajarkan sepuluh wasiat tersebut kepada orang lain.

Daurah Al-Quran dan Bahasa Arab ini diadakan selama satu bulan, 23 Agustus-20 September dengan jumlah peserta sekitar 70 orang, terdiri dari Mahasiswa SQABM dan Santri Halaqah Diniyah dan Tahfidzul Qur’an Al-Fatah.

Selain Dr. Mahmoud Abdullah Alsyarief, daurah ini juga diisi beberapa dosen SQABM lainnya seperti Hidayaturrahman, S.Pd.I, Muhammad Iqbal, S.Pd.l, Arif Rahman Fitrianto, MA, Muflihuddin, Lc., Dr. Lili Sholehudin, M.Pd.I, Harun Ar-Rasyid dan Ahmad Ubaidillah. Adapun materi yang disampaikan antara lain, Bahasa Arab, Tajwid, Tahsin dan Al-Quran. (L/ism/B01/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA).

Tags:

Related Posts

Comments are closed.