Bertemu dengan “Revolusioner Makanan” di Amerika Serikat

Robert Egger, Pendiri L.A. Kitchen. (Foto: Genaro Molina / Los Angeles Times)

Anda pernah dengar ‘kan, anak muda zaman sekarang memiliki pribahasa yang menyatakan, “banyak-banyaklah makan agar kuat move on-nya”. Istilah itu merupakan representasi makanan yang dibutuhkan layaknya bahan bakar untuk membuat mesin bekerja, dalam hal ini tubuh kita. Namun berbeda artinya bagi Robert Egger yang sejak usia 24 tahun menghabiskan hidupnya sebagai relawan “pengumpul makanan” untuk gelandangan.

Bagi Robert yang kini berusia 57 tahun, panggilan hati untuk melakukan pekerjaannya sekarang bukanlah semata-mata karena ingin memberi makan yang tidak mampu. Melainkan lebih kepada dirinya ingin mengubah pemikiran masyarakat, terutama di Amerika Serikat, dalam memandang makanan. Dalam sebuah wawancara dengan media lokal, Pria kelahiran Los Angeles, California itu mengatakan, “Sangat penting melihat makanan tidak hanya sebagai bahan bakar tubuh agar kuat melanjutkan hidup. Semua program yang saya bangun justru melihat makanan sebagai alat untuk menguatkan, mendidik orang dan membuat lapangan pekerjaan.”

Barangkali kita tidak asing dengan istilah “L.A. Kitchen”. Ya! Ini adalah perusahaan non profit yang didirikan Robert sejak seperempat dasawarsa lalu. Bukan hanya perusahaan sukarela yang menyediakan makanan seperti yang Anda dengar. Memasuki tahun ke-30, Robert telah membuat lebih dari dua ribu para mantan napi dan gelandangan yang dia ajak dalam perusahaan sukarelanya bekerja. Mereka yang tidak bekerja tidak hanya mendapatkan makanan gratis, namun juga mendapatkan pelatihan intensif dan profesional untuk menjadi chef, utamanya yang mereka masak adalah  bahan makanan bekas atau “cacat”. Selanjutnya, saya akan menjelaskan arti dari kata itu, namun saya akan jelaskan terlebih dahulu upaya inovatif Robert yang saya sebut “revolusioner”.

Makanan Terbuang dan Hubungannya dengan Perubahan Iklim

Sebuah kelompok ilmuwan Dewan Pertahanan Sumber Daya Mineral (NRDC) mengeluarkan laporan mencengangkan pada 2012 silam, di mana laporan tersebut menyatakan sejumlah 40 persen makanan di Amerika Serikat (AS) terbuang, berarti setiap orang rata-rata membuang 45 kilogram makanan tiap tahunnya. Hal ini tentu akan berimbas ke banyak hal mulai dari pabrik yang memproduksi makanan, jumlah air yang digunakan untuk mengolah makanan, dan tentunya perubahan iklim!

Sementara itu, untuk menanggulangi dan memproses ulang makanan terbuang itu, pemerintah Amerika Serikat menghabiskan dana sekitar 218 dolar AS (sekira 2,8 triliun rupiah) setiap tahunnya. Luar biasa bukan? Bukan hanya itu, yang tidak kalah mencengangkan, makanan sisa juga menjadi  salah satu penyumbang utama perubahan iklim, karena menghasilkan emisi gas rumah kaca setara dengan 37 juta mobil tiap tahunnya.

Namun, dalam beberapa tahun ini, nampaknya pemerintah Amerika Serikat mulai terlihat serius menanggapi perubahan iklim. Sejak pemerintahan Barack Obama dan komitmen pada konferensi perubahan iklim di Paris, negara itu mulai melakukan perombakan dalam banyak hal. Pada September 2015, AS dan PBB menyepakati untuk memangkas angka makanan sisa hingga 50 persen hingga 2030. Jika kita mengunjungi kota-kota besar di Amerika Serikat, seperti Washington DC, Los Angeles, Philadelphia, dan lainnya, lokasi perbelanjaan, perhotelan, dan tempat-tempat publik sudah mulai menggunakan alat-alat daur ulang dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Tidak hanya itu, di tahap industri sekitar 400 pengecer dan produsen berkomitmen memotong limbah makanan mereka menjadi setengahnya pada tahun 2025.

Begitu juga, tahun ini (2017) NRDC mengeluarkan laporan makanan terbuang kedua mereka yang tidak hanya melaporkan perkembangan terkini mengenai makanan sisa di AS, namun juga perkembangan upaya progresif yang dilakukan AS dalam menanggulangi hal yang mereka sebut sebagai “makanan sebagai sumber daya”.

Rumah dan tempat makan komersial (restoran, kafe, dll) menjadi salah satu penyumbang makanan terbuang di AS. Sebuah studi tahun 2014 yang dilakukan oleh Aliansi Pengurangan Limbah Pangan menemukan bahwa 84,3% makanan restoran di AS terbuang, sementara 14,3% berhasil didaur ulang, dan hanya 1,4% yang disumbangkan.

Para relawan L.A. Kitchen. (Foto: Genaro Molina / Los Angeles Times)

Memutar otak

Angka menyedihkan ini dirasakan Robert yang pernah menjalankan bisnis klub malam dan restoran di Washington DC selama beberapa tahun. Di kota “serba mahal” inilah awal mula Robert “memutar otaknya” dan membuat sebuah ide cemerlang yang kini menjadi sistem raksasa, hingga terbentuklah DC Central Kitchen.

Apa yang dilakukan Robert di Washington DC bisa digambarkan secara sederhana. Dia  mengumpulkan makanan terbuang yang masih layak makan atau sayur mayur dan buah-buahan tidak layak jual dari petani untuk diolah kembali menjadi sebuah makanan baru di dapurnya dan memberikannya kepada para gelandangan, mantan napi dan lainnya. Tidak hanya itu, program yang semula kecil ini, dilakukan tidak hanya oleh Robert sendirian, melainkan dikerjakan oleh para mantan napi dan gelandangan itu. Mereka diberi pelatihan secara intensif dan berkala sampai ribuan dari mereka kini bekerja sebagai tukang masak di banyak tempat, mulai dari restoran, hotel dan lain-lain.

Hingga pada 2013, Robert memutuskan pindah ke kampung halamannya di Los Angeles hingga terbentuklah nama L.A. Kitchen yang kini bertempat di sebuah gudang seluas 1858 meter persegi atas bantuan dana sebesar 1 miliar dolar AS dari Asosiasi Pensiunan Amerika (AARP). Dana hibah itu merupakan dana terbesar yang pernah disedekahkan dalam sejarah AS.

L.A. Kitchen kini bertugas pada tiga hal penting; daur ulang makanan, pelatihan intensif kuliner, dan produksi makanan ringan yang bermerek Strong Food. Makanan ringan ini datang dari petani yang memberikan buah “cacat” mereka secara percuma kepada L.A. Kitchen untuk dibuat menjadi semacam keripik buah. Hingga saat ini, dapur tersebut memperkerjakan puluhan relawan.

Uniknya, dapur ini terbuka untuk umum. Siapa pun bisa masuk dan membantu untuk memasak, sesuai arahan sang chef tentunya. Mayoritas tukang masak yang ada di perusahaan ini adalah mantan napi, makanya tidak aneh jika banyak dari mereka bertato. Meskipun begitu, para chef dengan lihai bisa melayani setidaknya 2-3 ribu warga tunawisma dan miskin dengan masakan mereka setiap pekan.

Saat mengobrol dengan Robert, dia menceritakan kebiasaan warga AS, khususnya di L.A. yang merupakan rumahnya para artis Holywood. Robert mengaku, mendapatkan makanan sisa di kota macet ini jauh lebih mudah di banding kota lainnya, pasalnya warga lebih senang mengonsumsi buah dan sayuran yang tidak terlihat ada cacatnya. Jadi para petani biasanya membuang buah dan sayuran yang seperti itu. Kini sayuran dan buah itu tidak lagi mubazir berakhir di tempat yang mengkhawatirkan karena L.A. Kitchen hadir menjadi solusi.

Robert sudah puluhan kali mendapatkan penghargaan atas idenya yang revolusioner tersebut, mulai dari Yayasan Kemanusiaan James Beard pada 2004 hingga yang terbaru, 50 Pemimpin Sukarela yang Berpengaruh pada 2009, Robert terus melaju harapannya di dapur komunitas yang dia bangun.(A/RE1/R01)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Comments are closed.