Biarkan Anak-Anak Mencintai Masjid

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Di sebuah mushola di kawasan suatu kompleks perumahan,  Razan (7 tahun) tanpa ragu-ragu mengumandangkan qomat setelah azan magrib berselang beberapa waktu. Pemandangan di mana anak- anak di bawah umur berebut pengeras suara untuk bergantian qamat, terlihat di setiap waktu salat di sana.

Di mushola itu, anak-anak bebas bermain kapan saja. Mereka dengan sendirinya belajar mematuhi batas suci, melepas alas kaki saat mau memasuki masjid, menjaga kebersihan di lingkungan masjid. Ada juga kelompok anak-anak yang memang rutin belajar mengaji di sana.

Sayangnya, kesempatan anak- anak di bawah umur untuk belajar beribadah di masjid tidak selalu terbuka. Di banyak masjid anak-anak di bawah umur sering berisik saat berada di mesjid, karena itu pengurus masjid biasanya mengusir mereka keluar dari masjid.

Meski mungkin niat pengurus masjid baik – agar para jamaah tenang menjalankan ibadahnya – tapi tindakan itu bisa membuat anak-anak “takut” ke masjid. Padahal dari rumah  para orangtua membujuk dan mendorong anak-anak agar mereka belajar salat berjamaah, mengaji dan ibadah lainnya di masjid.

Sejatinya, jika anak-anak merasa riang gembira bisa bercanda dan tertawa lepas  dan berteriak-teriak di masjid, maka sebenarnya itulah fitrah anak-anak. Perilaku anak-anak itu seyogyanya disikapi dengan cara yang baik, bukan sebaliknya dengan hardikan dan bentakan kasar. 

Contoh terbaik diperlihatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bagaimana beliau membiarkan Hasan dan Husein naik ke punggungnya saat Nabi Muhammad sedang mengimami shalat bersama para sahabat.

Saat itu, Rasulullah sujud begitu lama, sehingga selepas shalat itu, ada sahabat yang memberanikan diri untuk bertanya. “Ya Rasulullah, mengapa engkau lama sekali sujud tadi?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menjawab, “tadi, Hasan dan Husein naik di punggungku. Aku khawatir kalau aku bangkit mereka akan terjatuh, lalu kubiarkan mereka puas bermain.”

Betapa luhurnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menyikapi kegaduhan anak-anak kecil yang tak lain cucunya sendiri saat shalat berjama’ah sedang berlangsung.

Dikisahkan oleh Syaddad bin Hadi, ketika itu Rasulullah mengimami shalat Dhuhur atau Ashar. Dalam shalatnya kala itu, beliau menyertakan salah satu cucunya –Hasan atau Husain. Syaddad kala itu turut menjadi makmum dalam shalat tersebut.

Menurut Syaddad, “Nabi SAW meletakkan cucunya di sampingnya, lalu beliau bertakbir.” Shalat pun didirikan. Kemudian, beliau melamakan salah satu sujud dalam rakaat tersebut seperti disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad,  “Beliau melamakan salah satu sujudnya, sehingga aku mengangkat kepalaku.”

Maksud Syaddad mengangkat kepala karena mengira bahwa Rasulullah sudah bangun dari sujud dengan suara yang lirih sehingga dia tidak mendengar suara Rasul. Ternyata, Rasulullah SAW masih dalam keadaan sujud. “Aku melihat anak itu (cucu Nabi) tengah berada di atas punggung Rasulullah.

Seusai shalat, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam an-Nasa’i ini, “Wahai Rasulullah, dalam salah satu sujudmu tadi, engkau sujud dengan llama, sehingga  kami mengira ada sesuatu yang terjadi. Apakah ada wahyu yang sedang diturunkan kepadamu?”

Nabi lalu menjawab dengan lugas, “semua itu tidak terjadi,” akan tetapi anakku (cucuku) ini telah menaiki punggungku, sehingga aku tidak ingin memotongnya sampai ia puas.”

Begitulah kasih sayang Rasulullah SAW. Dalam riwayat lain Rasulullah mempercepat shalatnya karena ada tangis anak kecil yang memanggil ibunya yang sedang ikut berjamaah bersama Rasulullah.

Kasih sayang Nabi kepada anak-anak

Dalam sebuah kisah lain disebutkan, di tengah khutbah, tiba-tiba Hasan datang menghampiri. Anak kecil itu pun naik ke atas mimbar. Bukan menghalau atau mengusirnya, justru Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan penuh kelembutan memeluknya dan mengusap kepalanya seraya berdoa, “Anakku (cucuku) ini adalah seorang pemimpin, mudah-mudahan kelak melalui tangannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendamaikan antara dua kelompok besar dari kaum Muslimin.” (HR. Imam Ahmad)

Bahkan posisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sangat terhormat sebagai utusan Allah dan pemimpin negara waktu itu tak mengurangi kelembutan dan keakraban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada anak kecil.

Sebagaimana ditiwayatkan oleh Salamah bin Akwa yang ketika itu menuntun keledai Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam, bahwa beliau menaiki keledai bersama Hasan dan Husein. Satu di depan, satu duduk di belakang. (HR. Muslim).

Abu Hurairah juga menceritakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menjulurkan lidahnya, bercanda dengan Hasan dari kejauhan. Hasan pun melihat merah lidah beliau, lalu segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira. Terbayangkah ini dilakukan oleh seorang pemimpin seluruh alam?

Kelembutan dan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ternyata tidak hanya dirasakan oleh putra-putri dan cucu-cucu beliau saja, tetapi juga tercurah kepada segenap anak-anak kaum Muslimin di waktu itu. Seperti Usamah bin Zaid, beliau yang pernah dipangku di salah satu paha Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian Hasan datang belakangan dipangku di paha beliau yang lain. Sembari memeluk keduanya, beliau bersabda, “Ya Allah, sayangilah keduanya. Sesungguhnya aku menyayangi mereka berdua.” (HR. Bukhari)

Seperti juga anak-anak Ja’far bin Abi Thalib ketika ayah mereka gugur di medan jihad, sebagaimana penuturan Asma’ binti ‘Umeis, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far dan mencium mereka.”

Terkait kasih sayang Nabi SAW kepada anak-anak kaum Muslimin, Bunda ‘Aisyah RA juga pernah mengisahkan, “Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu beliau mendoakan mereka. Pernah juga dibawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air, lalu memercikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR. Al-Bukhari).

Jika Nabi saja sedemikian cintanya kepada anak-anak, mengapa kita tidak meneladaninya dengan membiarkan anak-anak mencintai masjid dengan cara mereka sendiri – masuk ke masjid, bermain, melihat jamaah shalat kemudian mereka tergerak untuk ikut berjamaah. (RS3/RS1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.