Jihad Meninggikan Kalimat Allah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA (Mi’raj News Agency)

“Kalimatullah hiyal ‘ulya” kalimat Allah yang mulia hanya bisa ditegakkan dengan jihad di jalan Allah yang tidak boleh putus. Karena jihad merupakan puncak amal ibadah setiap Muslim kepada Allah.

Jihad bukanlah perkara yang menakutkan atau menyeramkan. Juga tidak identik dengan kekerasan dan ekstremisme.

Kata “jihad” berasal dari akar kata jahada, yujahidu, jihad, yang artinya bekerja keras, berikhtiar dan mengusahakan sesuatu sekuat tenaga dan maksimal.

Seorang prajurit disebut mujahid karena ia berjuang sekuat tenaga mengorbankan waktu, pikiran, keluarga bahkan jiwa demi melaksanakan tugas maha berat di medan pertempuran. Di sisi lain jihad juga merupakan akar kata “ijtihad dan mujtahid”. Bahkan antara “mujahid” dan “mujtahid” hanya berbeda satu huruf “t” saja.

Seseorang disebut “mujtahid” karena ia bekerja keras seoptimal mungkin untuk memahami nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah dengan mengaplikasikannya terhadap segenap fenomena sosial, ekonomi, budaya dan persoalan lain yang muncul dari waktu ke waktu.

Kata “jihad” juga dapat berasal dari akar kata jahd yang berarti letih atau sukar.

Dalam praktiknya, memang demikianlah, secara nafsu, jihad memang penuh dengan kesulitan, keletihan, dan kesukaran. Tetapi secara iman, tentu saja jihad walau bagaimanapun merupakan kenikmatan dan kebahagiaan.

Jihad merupakan puncak perkara perjuangan hidup, seperti disebutkan dalam hadits Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhu:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

Artinya: Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.” (HR Ay-Tirmidzi).

Termasuk dari bagian jihad adalah membebaskan saudara-saudara kita di Palestina yang masih terjajah Zionis Israel. Juga saudara-saudara kita yang memerlukan pertolongan, mereka yang tertawan, mereka yang di pengungsian, dan mereka yang terzalimi.

Banyak dari saudara-saudara kita yang memerlukan jihad kita, seperti mereka yang terkepung di Jalur Gaza, mereka yang di daerah konflik Suriah dan Irak, serta mereka yang tertindas seperti Muslim Rohingya.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 فُكُّوا الْعَانِيَ وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا الْمَرِيضَ

Artinya : “Bebaskan orang yang sedang tertawan, berikanlah makan kepada orang yang sedang kelaparan, dan jenguklah orang sedang sakit”. (HR Bukhari).

Dan, kalau sampai seorang Muslim meninggalkan jihad karena takut ekonomi, waktu dan jiwa, maka justru kefakiranlah akibatnya.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalkam menyatakan:

لاَ يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ ضَرَبَهُمُ الله بِالْفَقْرِ

Artinya : “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fie sabilillah, melainkan Allah timpakan kefakiran terhadap mereka.” (HR Ibnu ‘Asakir).

Termasuk jihad yang sangat penting pada era informasi adalah menjadi jurnalis Muslim yang membawa misi keadilan, menyampaikan kebenaran, menyebarkan kebaikan dan melawan segala kemungkaran.

Semoga kita termasuk dalam barisan jihad di jalan Allah, dan menjadi bagian dari meninggikan kalimat Allah, semaksimal mungkin yang bisa kita kerjakan. Aamiin. (A/RS2/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.