Suu Kyi Batal Hadiri Sidang Umum PBB Pekan Depan

Foto: dok. MINA

Yangon, MINA – Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, batal menghadiri Sidang Umum PBB akhir bulan ini, kata juru bicaranya pada Rabu (13/9).

Myanmar sedang dikecam luas karena penindasan warga Muslim Rohingya.

Operasi militer brutal yang dilaksanakan tentara keamanan Myanmar di Negara Bagian Rakhine, sebagai repons atas serangan militan Rohingya pada 25 Agustus lalu, menyebabkan gelombang pengungsi besar-besaran keluar dari kawasan konflik.

Zaw Htay, seorang juru bicara kantor kepresidenan Myanmar, mengatakan Suu Kyi telah membatalkan perjalanannya ke maras PBB di New York, Amerika Serikat (AS), karena dua alas an, CNN melaporkan yang dikutip MINA, Kamis (14/9).

“Salah satunya adalah situasi saat ini di Negara Bagian Rakhine. Kami menghadapi serangan teroris dan juga ada banyak pekerjaan di bidang keselamatan umum dan tugas kemanusiaan,” kata Htay dalam sebuah pernyataan.

“Dan alasan kedua adalah kami telah menerima laporan bahwa ada kemungkinan serangan teroris di negara kita,” ujarnya.

Htay mengumumkan bahwa Suu Kyi akan menyampaikan pidato kenegaraan pada hari Selasa akan datang yang akan ia gunakan untuk menjelaskan isu Rohingya secara penuh.

“Dia akan menjelaskan tentang semuanya, pidatonya tidak hanya untuk negara tapi juga untuk memberitahu dunia,” ujarnya kepada wartawan.

Suu Kyi telah berulang kali dikritik karena tanggapannya terhadap krisis tersebut, terutama mengingat pekerjaan sebelumnya sebagai pembela hak asasi manusia yang menghantarkannya memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991.

Selama pidato terakhirnya di PBB pada September 2016, Suu Kyi mengatakan bahwa pemerintahannya tidak takut pada pengawasan internasional atas penanganan Rohingya.

“Kami berkomitmen untuk solusi berkelanjutan yang akan menghasilkan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan bagi semua masyarakat di dalam negara,” ujarnya.

Dalam waktu kurang dari tiga pecan terakhir, sekitar 370.000 pengungsi Rohingya diperkirakan melintasi perbatasan ke negara tetangga Bangladesh, menurut PBB.

Operasi militer Myanmar itu mendapat kecaman internasional dan telah menyebabkan krisis kemanusiaan di kedua sisi perbatasan.

Bangladesh berjuang keras untuk melayani kedatangan pengungsi yang kelelahan dan lapar – sekitar 60 persen di antaranya adalah anak-anak.  – sementara hampir 30.000 umat Buddha Rakhine dan Hindu telah mengungsi di dalam Myanmar.

Kepala HAM PBB, Zeid Ra’ad Al Hussein, menuduh Myanmar melakukan serangan ‘sistematis’ terhadap minoritas Rohingya dan memperingatkan bahwa ‘pembersihan etnis’ tampaknya sedang berlangsung di negara itu. (T/R11/P1)

Mi’raj  News Agency (MINA)

 

Tags:

Related Posts

Comments are closed.