Turki ‘Ganggu’ NATO dengan Membeli Sistem Rudal Rusia

Foto: alliance/AA/S. Karacan

Ankara, MINA – Turki mengambil risiko bisa dikecam oleh Amerika Serikat (AS) dan sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) karena menandatangani kontrak dengan Rusia untuk membeli sistem pertahanan rudal.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Selasa (12/9), Ankara telah menempatkan deposit untuk membeli sejumlah betari sistem rudal S-400 buatan Rusia. Menurut produsen, rudal S-400 dapat menembak jatuh hingga 80 sasaran pada waktu bersamaan, dan memiliki jarak tempuh 400 kilometer.

Washington telah lama memperingatkan Ankara terhadap rencana pembelian tersebut, dan melontarkan komentar diplomatik yang tidak mengenakkan tentang hal itu, Deutsche Welle melaporkannya, Rabu (13/9) waktu setempat.

Ben Cardin, politikus Partai Demokrat papan atas di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, mengatakan pembelian tersebut dapat melanggar sanksi AS terhadap Rusia.

Sementaara itu Moskow mengatakan pihak mereka sangat optimistis bahwa keputuan Moskow dan Ankara sudah sesuai dengan kepentingan strategis.

“Saya dapat meyakinkan Anda bahwa semua keputusan yang dibuat untuk kontrak ini benar-benar sesuai dengan kepentingan strategis kita,“ ujar Vladimir Kozhin, seorang ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, kepada kantor berita Rusia, TASS.

“Dalam hal ini, reaksi beberapa negara Barat yang mencoba menekan Turki benar-benar tidak bisa dimengerti oleh kami,” kata dia.

Bagi NATO, masalah dengan sistem persenjataan S-400 karena sistem ini tidak kompatibel secara teknologi dengan sistem yang ada di Turki – dengan kata lain, Erdogan tampaknya telah memutuskan untuk membangun sebuah kapasitas militer yang independen dari NATO.

“Itu masuk akal bagi pemerintah Turki,” jelas Guney Yildiz, spesialis Turki di European Council on Foreign Relations (ECFR), “karena jika semuanya terintegrasi dengan NATO, komandan NATO memiliki kendali penuh atas sistem militer Turki.”

Di sisi lain, sistem rudal Rusia bagi kekuatan Barat di NATO dipandang sebagai kontrol Rusia. “Ini adalah perkembangan yang sangat signifikan,” kata Marc Pierini, mantan diplomat dan analis Uni Eropa di Carnegie Europe.

“Ini adalah sistem pertahanan rudal yang akan diurus oleh angkatan udara Turki, dan angkatan udara Turki tidak memiliki pengalaman sistem anti-rudal, oleh karena itu akan datang sejumlah besar penasehat, pelatih, dan pelatih Rusia, dan sebagainya. Jadi di puncak arsitektur pertahanan angkatan udara Turki akan diisi orang-orang Rusia.”

Yildiz percaya sistem pertahanan yang dikendalikan secara nasional telah menjadi prioritas strategis bagi eselon atas pemerintah Turki dalam beberapa tahun terakhir.

“Mereka (Turki) berpikir mereka mungkin memerlukan sistem pertahanan udara non-NATO jika mereka diserang oleh beberapa faksi di militer mereka sendiri,” ujarnya. “Turki menjadi tempat percobaan kudeta tahun lalu, ketika jet tempur Turki mengebom institusi Turki.”

Yildiz melihat ada tanda-tanda kecemburuan AS terkait kesepakatan senjata Turki sebelumnya.

Dia ingat sebuah narasi serupa terjadi ketika Ankara berusaha untuk membeli sistem rudal Cina beberapa tahun yang lalu, ketika diplomat AS berhasil menggagalkan upaya orang-orang Turki tersebut. “Tapi sejak itu beberapa hal telah berubah,” kata Yildiz.

“AS meninggalkan kekosongan di Timur Tengah dan Turki mencoba untuk mengisinya di Suriah dan di tempat lain dengan mencoba untuk secara langsung menghadapi Rusia dan Iran, dan hal itu benar-benar gagal,” kata dia. (T/R11/R01)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.