UMY Dirikan Halalan Thayyiban Center

(Foto: Muhammadiyah)

 

Bantul, MINA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendirikan Halalan Thayiban Center (HTC) yang diresmikan  di kampus terpadu UMY pada Sabtu sore 9 September 2017.

Wacana untuk membangun HTC tersebut sebenarnya terus muncul dalam kurun waktu lima tahun terakhir dan terus menerus didiskusikan tentang keberadaannya, demikian keterangan pers Muhammadiyah yang dikutip MINA.

Mendengar kalimat halal dan haram maka pandangan masyarakat umum akan mengarah kepada makanan dan juga agama Islam. Karena perihal halal dan haram sangat identik di dalam Islam yang merupakan perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bagi umat Islam masalah halal atau tidaknya suatu komponen merupakan sebuah hal yang krusial. Sebab halal atau tidaknya sesuatu akan berimbas pada keberkahan hidup seorang Muslim.

Selain itu, pada kesempatan peresmian HTC diadakan pula Kuliah Umum dengan tema “The Role and Responsibilty of Dakwah Muhammadiyah in Promoting Halal” yang menghadirkan Trijoko Wisnu Murti, Direktur LPPOM MUI Yogyakarta dan Winai Dahlan Direktur Halal Science Center Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand.

Iman Permana, Kepala Halalan Thayyiban Center UMY dalam sambutannya mengatakan, saat ini masih ada fenomena ayam tiren di mana ayam yang mati kemarin tapi masih diperjualbelikan dan dikonsumsi.

“Halalan Thayyiban Center ini merupakan salah satu langkah nyata dari UMY sebagai pusat akademis agar bisa ikut membantu mengedukasi masyarakat,” kata Iman.

Selain itu, Iman mengatakan bahwa halal bukan hanya untuk umat Islam. “Halal bukanlah sesuatu yang hanya ditujukan untuk umat beriman namun untuk semuanya. Serta semoga dengan adanya HTC ini bukan hanya mencari bukti ilmiah namun juga nantinya bisa disosialisasikan kepada masyarakat,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Hilman Latief, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK UMY. Dalam sambutannya Hilman mengatakan, ini merupakan sebuah kemajuan tersendiri karena halal sudah menjadi kepentingan orang banyak. Berbagai negara sudah terus mengembangkan wacana tentang halal termasuk yang paling maju adalah di Thailand.

“Saya kira ini merupakan sebuah kesempatan bagi UMY, termasuk bagi pusat studi yang baru, bagaimana kita bisa memperluas kerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi yang pernah berkolaborasi. Saya berharap HTC ini bisa besar tidak hanya sebagai dakwah Muhammadiyah tapi juga dalam konteks edukasi sebagai sebuah lembaga riset,” ujarnya.

Hilman juga menyampaikan tentang isu yang mulai beredar mengenai kantin mahasiswa apakah halal mulai dari pemotongan dan proses pengolahannya.

“Kemarin juga terdapat isu bagaimana dengan kantin kita. Apakah cara masaknya, penyimpanannya sudah sesuai dengan standar halal thayyiban atau belum. Sehingga apabila ini bisa berjalan dengan baik, maka bisa menjadi sebuah kelebihan tersendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Trijoko Wisnu Murti, menyampaikan, muslim ketika beribadah harus dalam keadaan suci atau tidak terkontaminasi najis. Maka permasalahan halal menjadi sangat penting dan perlu untuk menjadi Halalan Thayyiban Life Style.

“Jadi ketika shalat sebagai salah satu ibadah yang paling penting dari umat Islam harus dilakukan dengan keadaan suci. Kemudian di dalam kalimat perintah Allah menunjukan bahwa makanlah makanan yang halal terlebih dahulu baru setelah itu beramal sholeh. Namun bukan berarti halal hanya untuk umat Islam tapi halal adalah untuk semua orang,” terangnya. (R/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.