Julaibib, Dicibir Bumi Dirindu Langit

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Julaibib, begitu ia kerap disapa. Namanya berkesan aneh dan tak lengkap. Ia adalah seorang sahabat Rasululullah SAW yang ada dan tiadanya sama saja bagi manusia pada masanya. Mungkin karena fisiknya yang (maaf) jelek terkesan sangar, kulitnya hitam, bungkuk, fakir, pakaiannya usang, bahkan ia tak punya tempat tinggal. Hanya berkasurkan pasir dan krikil serta berbantal tangannya sendiri. Ia hadir ke dunia tanpa diketahui siapakah ayah dan bundanya, dari suku apakah dia, bagaimana nasabnya tak ada yang tahu atau sekedar ingin tahu. 

Celakanya lagi, bagi penduduk Yatsrib tak bernasab dan tak bersuku merupakan cacat sosial yang tak terampunkan. Dunia seolah tak menginginkan kehadiran Julaibib, begitu malang nasibnya. Hingga pemimpin Bani Aslam yaitu Abu Barzakh berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!” Na’udzubillah, begitu hinakah Julaibib dimatanya ?

Namun Allah takkan membiarkan hambaNya berbalut hina dihadapan manusia, Allah anugerahkan rahmat kepadanya hingga Julaibib mendapatkah hidayah. Ia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad, meski tak satu manusia pun yang ingin tahu tentang dirinya kecuali Rasulullah sang Rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu ketika ditegur oleh Rasul dengan begitu lembut, “Hai Julaibib, tidakkah engkau menikah ?”

“Siapakah orangnya yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini ya Rasulullah,” jawabnya tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri dan menyalahkan takdir Allah dari kata dan raut mukanya. Rasulullah saw juga tersenyum padanya. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan menjadikan Julaibib sebagai menantunya.

Hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah saw tetap menanyakan hal yang sama.

“Hai Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Jawaban Julaibib tetap sama, begitu, begitu, dan begitu, tiga kali dan tiga hari berturut-turut Rasulullah SAW menanyakan hal ini pada Julaibib.

Hingga pada hari ke-3 Nabi SAW menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke rumah salah seorang pemimpin kaum Anshor.
“Aku ingin, menikahkan putri kalian,” kata Rasulullah SAW kepada si empunya rumah.

“Betapa indah dan barokahnya, oh Rasulullah tentu ini akan menjadi cahaya dalam temaramnya rumah kami,” jawab si wali tadi dengan wajah yang berseri-seri mengira bahwa Rasulullah SAW akan menikahi putrinya.

“Tapi bukan untukku, kupinang putri kalian untuk Julaibib,” sanggah Rasulullah SAW tersenyum.

“Julaibib?” tukas sang ayah gadis nyaris memekik.
“Ya Julaibib.”

“Ya Rasulullah, saya akan menanyakan dengan istri saya dulu,” ujarnya dengan nada berat.

“Dengan Julaibib? Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berpangkat dan tak berharta, tidakkk, tidak akan pernah aku menikahkan putriku dengan Julaibib,” seru istrinya lantang.

Perdebatan itu berakhir dengan jawaban anggun sang gadis dari balik tirai, “Siapa yang meminta?”

Lalu sang ayah dan ibu pun menjelaskan kepada putrinya. “Apakah kalian menolak permintan Rasulullah? Demi Allah jika Rasul yang memintanya, maka kirimkan aku padanya. Demi Allah jika Rasul yang meminta, tiada akan membawa kerugian dan kecelakaan bagiku.

Lalu dengan mantap gadis sholehah itu memintir sebuah firman Allah dalam Qs. Al-Ahzab: 36. Yang artinya, “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah.”

Maka benarlah doa sang Nabi, Allah karuniakan jalan keluar baginya. Allah menakdirkan kebersamaan di dunia itu tidak terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari surga telah terlampau sangat merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak acuh padanya.

Saat syahid, Nabi SAW begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya di akhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulullah!” serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” Nabi SAW bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasulullah!” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib,” kata beliau.
Para sahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Rasulullah saw dengan tangannya sendiri mengafani sang syahid. Nabi saw menyalatkannya secara pribadi dan bergumam “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.” (RS3/P1)

(berbagai sumber)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Tags:

Rate this article!

Comments are closed.