Anies Baswedan dari Syaikh As-Sudais Hingga Penghargaan Turki dan Jordan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency) 

Setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyied Baswedan mendapatkan undangan kehormatan dari Imam Besar Masjidil Haram dan Pimpinan Pengurus Dua Masjid Suci, Syaikh Abdurrahman As-Sudais pada 6 Juni 2017.

Seusai pertemuan memperbincangkan perkembangan Islam, konflik dunia dan Indonesia, yang juga dihadiri ulama terkemuka Makkah, Syaikh Khalid Al-Hamudy, Syaikh As-Sudais memberikan sebuah Mushaf Al-Quran. Pada halaman depannya, Syaikh menuliskan sebuah surat yang berisi pesan dan harapan untuk Anies.

Isi pesan tulisan tangannya, ”Hadiah. Tanda cinta, sayang, terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya serta untaian doa yang tidak terputus-putus untuk Saudaraku Dr Anies Baswedan, semoga Allah selalu menjaganya.

Ucapan selamat teruntuk beliau atas apa yang Allah Subhaanahu Wa Ta’ala anugerahkan berupa menjadikan beliau Gubernur Jakarta.

Saya berwasiat kepada beliau agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan berpegang teguh kepada Al-Quran Yang Agung ini dalam setiap hal.

Saya memohon kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala untuk beliau semoga senantiasa diberikan taufik dan bimbingan dengan doa yang tulus dari Negeri Haramain yang Mulia dan untuk Bangsa Indonesia Tercinta.

Yang mencintaimu karena Allah Taala”.

Tertanda Dr Abdul Rahman bin Abdul Aziz As-Sudais.

Kini, setelah dilantik pada 16 Oktober 2017 secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Istana Gubernur DKI Jakarta untuk masa bakti 2017-2022, Anies mulai menjalankan amanahnya sebagai orang nomor satu di ibukota Indonesia, didampingi wakilnya Sandiaga Salahudin Uno.

(Dok Liputan6)

Pidato Pertama

Setelah dilantik sebagai Gubernur DKI, Anies langsung memberikan pidato pertamanya di Balai Kota Jakarta, yang isinya menggambarkan visinya sebagai seorang gubernur.

Mulai dari ketawakkalannya pada ketetapan Allah, jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia-akhirat, mengingatkan sejarah peradaban Jakarta, menguraikan nilai-nilai Pancasila, hingga menyinggung pribumi, kutipan Bung Karno dan Tokoh Betawi Husni Thamrin.

Ia pun memperhatikan keragaman warga, mengutip pula beberapa pepatah dari berbagai daerah di Nusantara. Seperti pepatah Batak, Madura, Minang, Minahasa, Banjar sampai Aceh.

Gubernur Anies juga menyampaikan pantun sebagai bagian dari penutup pidatonya.

“Bekerja giat di Kali Anyar

Mencuci mata di Kampung Rawa
Luruskan niat teguhkan ikhtiar

Bangun Jakarta bahagiakan warganya”.

Lanjutan pantunnya:
“Cuaca hangat di Ciracas

Tidur pulas di Pondok Indah

Mari berkeringat bekerja keras

Tulus ikhlas tunaikan amanah”.

Pidatonya oleh komentator Barat, Tom Pepinski, dosen perbandingan politik program Asia Tenggara Universitas Cornell, AS, disebut sebagai layaknya pidato seorang Presiden.

Tokoh Muda Berprestasi

Sosok Anies Rasyid Baswedan, lahir pada 7 Mei 1969 di Kuningan, Jawa Barat. Anies terlahir dari keluarga akademisi dan darah pejuang. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Drs. Rasyid Baswedan,S.U. yang bekerja sebagai Dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Islam Indonesia (UII) dan Prof. Dr. Aliyah Rasyid,M.Pd. yang bekerja sebagai Guru besar dan Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Kakeknya, Abdurrachman Baswedan (AR Baswedan), merupakan salah seorang pejuang pergerakan nasional dan pernah menjadi Menteri Penerangan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Anies juga merupakan sepupu dari Novel Baswedan yang merupakan salah satu penyidik di KPK, yang menjadi korban penyiraman air keras di mukanya.

Prestasi kepemimpinan Anies, sudah terlihat sejak kecil. Ketika berumur 12 tahun, ia membentuk kelompok anak-anak muda antara umur 7 hingga 15 tahun di kampungnya yang diberi nama ‘Kelabang’ (Klub Anak Berkembang), yang sering mengadakan berbagai kegiatan olahraga dan kesenian.

Ttingkat pendidikan formal mulai TK Masjid Syuhada di Kota Baru, Yogyakarta, SD Laboratori Yogyakarta, SMP Negeri 5 Yogyakarta hingga SMAN 2 Yogyakarta.

Jiwa kepemimpinannya kembali terlihat saat SMA, dia pernah menjadi ketua OSIS se-Indonesia ketika ia mengikuti pelatihan kepemimpinan di Jakarta pada September 1985. Ia menjadi ketua dari 300 delegasi SMA-SMA se-Indonesia, walaupun pada saat itu Anies baru berada di kelas satu.

Saat SMA pula ia terpilih sebagai peserta dalam program AFS, yaitu program pertukaran pelajar yang di diselenggarakan oleh Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (1987-1988).

Tamat dari SMA, Anies kemudian melanjutkan kuliahnya di Universitas Gajah Mada di Fakultas Ekonomi. Semasa kuliah ia aktif di gerakan mahasiswa seperti di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM.

Sewaktu menjadi mahasiswa UGM, Anies mendapatkan beasiswa Japan Airlines Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas bidang Asian Studies di Universitas Sophia di Tokyo, Jepang. Setelah lulus kuliah di UGM pada 1995, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi di UGM.

Selama bekerja di UGM, lagi-lagi Anies mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park. Sewaktu kuliah, dia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award.

Tahun 2005, Anies menjadi peserta Gerald Maryanov Fellow di Departemen Ilmu Politik di Universitas Northern Illinois sehingga dapat menyelesaikan disertasinya tentang “Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia”.

Ketika berada di Amerika Serikat, Anies aktif di dunia akademik dengan menulis sejumlah artikel dan menjadi pembicara dalam berbagai konferensi. Ia banyak menulis artikel mengenai desentralisasi, demokrasi, dan politik Islam di Indonesia.

Artikel jurnalnya yang berjudul “Political Islam: Present and Future Trajectory” dimuat di Asian Survey, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Universitas California. Sementara, artikel Indonesian Politics in 2007: The Presidency, Local Elections and The Future of Democracy diterbitkan oleh BIES, Australian National University.

(Dok IDN Times)

Pengabdian Pekerjaan

Kembali ke Indonesia, Anies bekerja sebagai National Advisor bidang desentralisasi dan otonomi daerah di Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, Jakarta (2006-2007). Selain itu pernah juga menjadi peneliti utama di Lembaga Survei Indonesia (2005-2007).

Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan dilantik menjadi rektor Universitas Paramadina Jakarta, menggantikan cendekiawan dan intelektual Muslim, Nurcholish Madjid, yang juga merupakan pendiri universitas tersebut. Saat itu ia baru berusia 38 tahun dan menjadi rektor termuda di Indonesia. Majalah Foreign Policy memasukan Anies dalam daftar 100 Intelektual Publik Dunia.

Anies juga pernah menjabat sebagai direktur riset The Indonesian Institute, sebuah lembaga penelitian kebijakan publik yang didirikan pada Oktober 2004 oleh aktivis dan intelektual muda yang dinamis.

Aktivitas menggerakkan anak-anak muda Indonesia dalam karya-karya sosial terbaik, ia gagas dengan membentuk ide besar Gerakan Indonesia Mengajar. Konstruksi dasarnya mulai terumuskan pada pertengahan 2009.

Ia menggagas dan melaksanakan visi Gerakan Indonesia Mengajar, yaitu usaha untuk mengajak semua pihak untuk ambil bagian menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Cita-citanya adalah terlibatnya seluruh lapisan masyarakat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai janji kemerdekaan. Bangsa yang dipenuhi oleh pemimpin berbagai bidang dengan kompetensi global dan pemahaman akar rumput.

Misi Indonesia Mengajar yang ia jalankan adalah menciptakan dampak yang berkelanjutan dari kehadiran Pengajar Muda di desa dan kabupaten, membangun jejaring pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman akar rumput dan membangun gerakan sosial pendidikan di Indonesia.

Indonesia Mengajar memiliki kegiatan utama yaitu merekrut, melatih dan mengirimkan anak muda Indonesia yang merupakan lulusan terbaik perguruan tinggi untuk bertugas selama satu tahun di berbagai daerah di Indonesia sebagai guru sekolah dasar. Di luar tugas dasarnya sebagai guru, para Pengajar Muda memiliki mandat untuk menggerakkan perubahan perilaku di tempatnya bertugas.

Dunia Politik

Memasuki tahun 2013, Anie Baswedan resmi terjun ke dunia politik setelah lama bergelut di dunia pendidikan dan sosial. Ia kemudian menjadi peserta konvensi capres dari partai demokrat.

Namun tahun 2014, Anies kemudian resmi bergabung dalam tim pemenangan Capres Jokowi-Jusuf Kalla, sebagai Juru Bicara.

Setelah Jokowi-JK ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2014, Jokowi kemudian menunjuk Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun ia menjabat sebagai menteri pendidikan hanya sampai pertengahan tahun 2016, karena Presiden Jokowi menggantinya dengan Muhadjir Effendy.

Tidak lama setelah dicopot dari jabatannya sebagai Mendikbud, Anies Baswedan berpasangan dengan Sandiaga Uno diajukan oleh Partai Gerindra, PAN dan PKS untuk maju sebagai bakal cagub-cawagub Jakarta.

Sampai kemudian menang dan resmi menjadi Gubernur-Wakil Gubernbur DKI Jakarta periode 2017-2022.

(Dok Hipwee)

Penghargaan Tingkat Dunia

Anies Rasyid Baswedan, suami dari Fery Farhati Ganis, dan ayah dari anak-anaknya: Mutiara Annisa Baswedan, Mikail Azizi Baswedan, Kaisar Hakam Baswedan dan Ismail Hakim Baswedan. Pernah meraih berbagai penghargaan tingkat nasional hingga dunia.

Di tingkat nasional di antaranya The Golden Awards Rakyat Merdeka, Anugerah Integritas Nasional, Dompet Dhuafa Award 2013 dan Anugerah Hari Sastra Indonesia.

Pada tingkat internasional antara lain : Gerald Maryanov Award (Departemen Ilmu Politik Universitas Northern Illinois), 100 Intelektual Publik Dunia, Young Global Leaders (Swiss), World’s 20 Future Figure (Foresight Magazone, Jepang), PASIAD Education Award (Pemerintah Turki) dan Nakasone Yasuhiro Award (Jepang).

Bahkan, Royal Islamic Strategic Centre, Yordania menempatkan Anies Baswedan sebagai salah satu dari 500 orang di seluruh dunia yang dianggap sebagai Muslim berpengaruh.

Sederet latar pendidikan, pengalaman pekerjaan dan pengabdian, hingga penghargaan prestasi itu tak membuat Anies Baswedan mnerasa takabur. Ia tetap menghaturkan doa dan pengharapannya hanya kepada Allah.

Ini seperti ia ucapkan dalam akhir pidatonya sesaat setelah pelantiklannya, “Tuhan menciptakan alam, manusia membentuk kota. Bagaimana kota kita sepenuhnya kembali pada diri kita semua. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membantu ikhtiar kita, melindungi ibukota, menjadikannya wilayah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, serta menurunkan keberkahan bagi setiap warganya.”

Ia menambahkan lagi keyakinanya dengan kalimat, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Tiada usaha, kekuatan,dan daya upaya selain dengan kehendak Allah. Wallahu muwafiq ila aqwamith thoriq”. (A/RS2/RS3)

Referensi :

-Biografiku.

-Indonesia Mengajar.

-Jakarta Maju Bersama.

-The 500 Most Influential Muslims.

-Today Line.

-Wikipedia.

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.