Kegemilangan Tentara Berjiwa Langit

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis MINA

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٌ۬ لَّكُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ شَرٌّ۬ لَّكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Artinya, “Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu. Dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 216).

Kisah-kisah berbagai peperangan yang terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, atau peperangan di masa berbagai kekhalifahan, selalu menarik untuk dibaca dan didengar. Selain memang karena pasukan Islam selalu meraih kemenangan atas orang-orang kafir, terselip pula berbagai kisah heroik para mujahid yang bisa membangkitkan semangat generasi terkini.

Hampir tidak terdengar cerita tentang adanya polisi atau tentara keamanan di masa Rasulullah dan para sahabatnya. Namun anehnya, ketika panggilan jihad untuk berperang, Rasulullah bisa memiliki pasukan yang sangat tangguh.

Sebutlah saja kisa Perang Badar yang sangat melegenda, bahkan kisahnya diabadikan di dalam Al-Quran. Bagaimana heroiknya 313 mujahid Muslim mengalahkan 1.000 pasukan kafir Quraisy. Namun, ketika mereka pulang dari perang, mereka bukan lagi tentara, tetapi tak lebih dari seorang pedagang, petani, pengajar dan profesi sipil lainnya.

Ternyata itu tidak lepas dari adanya program wajib militer yang turun dari langit dalam bentuk wahyu. Seorang Muslim tidak bisa luput dari kewajiban berjihad dalam perang yang secara langsung menjadikannya seorang tentara dengan praktik kemiliteran, sebagaimana yang Allah wajibkan melalui ayat di atas.

Ditambah adanya perintah Tuhan agar para mujahid itu mempersiapkan segala penunjang untuk berperang, baik kekuatan fisik, dana dan kendaraan untuk bertempur. Seberapa banyak jumlah laki-laki di dalam umat Islam, maka sebanyak itu pula jumlah tentaranya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Artinya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal [8] ayat 60).

Dengan menjadi tentara-tentara berjiwa langit inilah, pasukan Muslimin bisa sampai ke negeri-negeri jauh untuk mendakwahkan Islam. Hingga ke Spanyol, Afrika Utara, Suriah, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, dan Asia Tengah. Sampainya dakwah yang bisa seluas itu tak bisa lepas dari hebatnya kekuatan pasukan Muslimin.

Dengan pasukan militer berjiwa langit, benteng Konstantinopel yang merupakan sistem pertahanan paling kompleks di dunia, bisa ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih.

Tak sedikit pula pasukan berjiwa langit yang terbentuk sehingga Indonesia bisa menang perang dan merdeka, setelah lebih 3,5 abad dijajah oleh kolonial Barat.

Sebutlah mayoritas pahlawan nasional kita yang memiliki latar belakang ulama atau berakidah kuat, seperti Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sisingamangaraja XII, Sultan Hasanuddin hingga Ahmad Lussy Pattimura.

Di masa awal-awal kemerdekaan, masih banyak pula para pejuang yang berjiwa langit. Sebutlah nama Panglima TNI Soedirman, Bung Tomo, para kiayi hingga para santri, turut berjuang berperang melawan para penjajah.

Hingga di era kekinian, Republik Indonesia masih memiliki para prajurit Muslim yang berjiwa langit. Muslim yang menjadi mayoritas warga Indonesia, tentunya mendominasi pula di dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia, TNI.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kekuatan pertahanan militer Indonesia cukup disegani di dunia. Hal ini dapat dilihat dari prestasi-prestasi yang ditorehkan prajurit TNI di kancah internasional dalam beberapa ajang kompetisi.

Sejumlah prestasi TNI yang diakui oleh dunia beberapa di antaranya yaitu TNI adalah garda terdepan dalam pelaksanaan misi perdamaian di PBB. Sejak pertama kali ditugaskan dalam misi menjaga perbatasan di Mesir pada 1957, hingga kini kontingen pasukan perdamaian Indonesia telah bertugas di 70 misi perdamaian PBB di seluruh dunia.

TNI juga pernah sukses melakukan pembebasan sandera pembajakan pesawat Woyla yang dipuji dunia. Setelah empat hari dibajak lima teroris, para penumpang pesawat DC 9 milik maskapai Garuda Indonesia dapat dibebaskan melalui operasi pembebasan sandera yang berlangsung hanya dalam waktu 3 menit. Peristiwa ini terjadi pada 31 Maret 1981 di Bangkok, Thailand.

TNI Angkatan Darat dalam lomba tembak bersama 20 negara dunia lainnya yang digelar oleh Royal Australian Army menjadi juara umum sejak tahun 2008 hingga tahun 2016.

Di tahun 2008, Discovery Channel membuat daftar pasukan elit paling kuat di dunia. Kopassus dari Angkatan Darat TNI dinobatkan sebagai pasukan elit terkuat ketiga dunia setelah SAS dari Inggris dan MOSSAD dari Israel.

Laporan Global Firepower pada Mei 2017 menyebutkan, militer Indonesia menempati urutan ke-14 yang terkuat di dunia dan menjadi militer terkuat pertama di ASEAN. Militer Indonesia diperkuat oleh 435.750 pasukan tempur aktif, 540.000 tentara cadangan, 441 unit pesawat militer, 418 unit tank, 221 unit kapal perang beragam jenis.

Apabila tentara Indonesia memiliki karakter jiwa-jiwa langit sebagaimana karakter yang dimiliki oleh umat Islam di masa Rasulullah dan para sahabatnya, tentunya TNI yang sudah diakui kehebatannya di dunia, akan menjadi pasukan yang lebih dahsyat.

Di usianya yang ke-72 tahun, semoga TNI menjadi benteng negara yang semakin mantap menjaga bangsa dan rakyatnya, dari pada harus terlibat dalam kekisruhan perpolitikan kalangan elit yang justru semakin membuat  negara ini lemah. (A/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.