Mengenal Baing Yusuf, Ulama Pembawa Islam di Purwakarta

Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta. (Foto: MINA/Rendy Setiawan)

 

Oleh: Rendy Setiawan, Wartawan Mi’raj News Agency (MINA)

Indonesia kaya akan sejarah perjuangan yang tak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh muslim, salah satunya adalah RH Muhamad Yusup bin Djajanegara atau dikenal sebagai Baing Yusuf. Terdengar asing bagi masyarakat umum, tetapi cukup populer di tengah warga Purwakarta.

Baing Yusuf termasuk tokoh yang disegani di Purwakarta. Hal itu nampak jelas dari gelar yang disematkan masyarakat Purwakarta kepada Baing Yusuf.

RH Sanusi AS, seorang pengurus DKM Masjid Agung Baing Yusuf, Purwakarta, dalam bincang-bincang dengan penulis mengatakan, gelar “Baing” pada awal nama Yusuf memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Purwakarta. Bagi mereka, “Baing” adalah kepanjangan dari “abah aing” yang artinya “ayah saya”.

Menurutnya, penyebutan gelar “Baing” adalah sebagai bentuk penghormatan dari masyarakat Purwakarta pada Baing Yusuf dan menganggapnya sebagai seorang syaikh atau guru spiritual di wilayah itu.

Kedudukan Baing Yusuf di mata warga Purwakarta semakin tinggi lantaran ia masih memiliki ikatan darah dengan kerajaan Padjajaran. Ia merupakan putra dari Kanjeng Raden Aria Djajanegara menjabat sebagai Bupati Bogor di abad ke 17. Baing Yusuf datang ke Purwakarta sekitar tahun 1820-an saat pusat pemerintahan Karawang masih berada di Wanayasa.

“Tahun 1826 masehi, Baing Yusuf mendirikan masjid agung ini sebagai tempat memulai dakwah Islam. Ini adalah masjid kedua yang berdiri di wilayah ini setelah masjid raya,” ujar Sanusi di sela-sela tabligh akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Jabodetabek, yang dipusatkan di masjid itu, Ahad (8/10).

Alasan Baing Yusuf menjadikan masjid sebagai tempat syiar Islam di Purwakarta menurut Sanusi adalah karena ketika itu kondisi masyarakat masih sedikit yang memeluk agama Islam. Sebab itulah, masjid dianggap sebagai tempat yang cocok untuk mengenalkan Islam.

“Masjid ini didirikan di wilayah ini adalah untuk menyebarkan agama Islam,” katanya.

“Dulu belum ada nama Purwakarta. Nama Purwakarta sendiri memiliki makna purwa artinya wiwitan (mulai) dan karta artinya aman sentosa. Jadi Purwakarta adalah mulai aman sentosa,” katanya lagi.

Masyarakat setempat mengenal Baing Yusuf sebagai seorang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata orang kebanyakan. Pada usia muda, ia sudah menguasai bahasa Arab. Kemudian saat usia 12 tahun, ia sudah mampu menghafal Al-Quran. Ia juga belajar Islam di Makkah, Arab Saudi.

Meski hafal bahasa Arab, banyak kisah yang menceritakan bahwa Baing Yusuf tetap melakukan syiar di Purwakarta dengan menggunakan bahasa Sunda sebagai identitas kultural masyarakat Jawa Barat. Hal itu tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya memahami bahasa Latin, Arab atau Jawa kuno.

“Beliau menyusun kitab fikih dan tasawuf dengan bahasa Sunda, meskipun tulisannya huruf arab. Kitab itu digunakan untuk memudahkan syiar Islam karena mayoritas masyarakat (di sini) berbahasa Sunda,” ujarnya.

Setelah mempelajari ilmu agama Islam dari ulama di tanah suci, Baing Yusuf juga mempelajari ilmu agama Islam kepada salah seorang alim ulama bernama Syaikh Campaka Putih atau lebih dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

Selain menjadi murid Pangeran Diponegoro, Baing Yusuf pun memiliki santri dan murid yang salah satunya ialah pengarang kitab dari tanah Banten yaitu Syaikh Nawawi Al-Bantani. Ilmu agama yang diperoleh dari gurunya kemudian diamalkan kepada masyarakat Pasundan. Dari catatan sejarah singkatnya dituliskan bahwa beberapa kitab karyanya menjadi rujukan umat Islam saat ini di antaranya, kitab Fiqih Sunda, Tasawuf Sunda dan Tafsir Sunda.

“Muridnya banyak sekali. Salah satunya adalah Syeikh Nawawi Al-Bantani, pengarang beberapa kitab terkenal asal Banten. Dan Syaikh An-Nawawi pun memiliki murid yang menjadi tokoh di daerahnya masing-masing, seperti Syaikh Kholil Al-Bangkalani di Madura, Ahmad Dahlan di Yogyakarta yang kemudian mendirikan Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari di Jombang yang kemudian mendirikan Nahdhatul Ulama,” ujar Sanusi.

Memasuki tahun 1830-an, pusat pemerintahan dipindah dari Wanayasa ke Purwakarta—yang saat ini merupakan lokasi masjid agung. Perpindahan lokasi pusat pemerintahan pun membuat penyebaran Islam di Purwakarta mulai berkembang pesat.

“Saat pusat pemerintahan pindah, penyebaran Islam sudah berjalan. Masjid sudah berdiri,” kata Sanusi.

Melalui karya-karyanya yang kebanyakan memakai bahasa Arab, Baing Yusuf mulai mewarnai Purwakarta dengan Islam. Alasannya sederhana, pertama beliau beragama Islam, kedua kitab suci Al-Quran memakai bahasa Arab. Dalam dunia pendidikan ada yang dinamakan muatan lokal, nah identitas ini yang tidak ingin dihilangkan dari Baing Yusuf.

Selama hidupnya, Baing Yusuf tinggal di kediamannya di masjid tempatnya mengajarkan ilmu agama kepada santrinya. Masjid yang dulu menjadi tempat menimba ilmu santrinya kini menjadi makam Baing Yusuf yang terletak di belakang Masjid Agung Purwakarta. Setiap tahunnya makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah dari luar kabupaten Purwakarta. (W/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.