Puslitbang Kemenag : Peran Perempuan Strategis Dalam Pencegahan Radikalisme

Balitbang Kemenag gelar Seminar “Strategi Pencegahan Radikalisme Melalui Perempuan dalam Keluarga” di Jakarta. (Foto: sugito)

 

Jakarta, MINA – Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Balitbang dan Diklat Kemenag (Puslitbang I) Muharram Marzuki menilai bahwa kaum perempuan memiliki peran strategis dalam pencegahan radikalisme, karenanya, penting untuk memberikan pemahaman kepada kaum perempuan terkait hal ini.

“Membangun pemahaman kaum perempuan, khususnya para ibu, sebagai bagian inti keluarga, sangat penting. Apalagi saat ini wacana intoleran dan faham radikal atas nama agama semakin meluas dan terinternalisasi di masyarakat,” kata Muharram saat menjadi pembicara pada Seminar Kajian Masalah Aktual yang mengangkat tema: Strategi Pencegahan Radikalisme Melalui Perempuan dalam Keluarga, di Jakarta, Selasa (10/10).

Seminar ini terselenggara hasil kerja sama Puslitbang I dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Hadir sebagai narasumber, Sekjen DMI Imam Ad-Daruqutni, Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Politik Hukum Pertahanan Keamanan dan HAM Strategis, Jaleswari Pramodhawardani, dan mantan teroris Kurnia Widodo

Seminar tersebut diikuti perwakilan organisasi perempuan dan organisasi non pemerintah lainnya. Hadir pula perwakilan dari Kemenkopolhukam dan Kemendagri.

Muharram melihat, kaum ibu mempunyai peran signifikan dan waktu lama dibanding kaum laki-laki (ayah) untuk memberi pendidikan kepada putra putrinya.

“Keluarga adalah lingkungan paling intim dan benteng pertahanan terdepan dalam mencegah masuknya paham-paham buruk. Apalagi saat ini radikalisme cenderung banyak menyerang anak muda. Keluarga, khususnya ibu, harus mempunyai bekal pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai ancaman bahaya radikalisme,” tuturnya.

Selain pengetahuan tentang bahaya radikalisme, menurut Muharram, harus ada konsep baru dalam membudayakan dan membumikan Pancasila sebagai alat untuk menanggulangi radikalisme. “Kita juga harus lebih peka terhadap lingkungan di sekitar,” tuturnya.

Hal sama disampaikan Imam Addaruqutni. Dia melihat, Ibu memberi kehangatan pada keluarga, membimbing, mendidik, mengajar, melindungi putra putrinya dengan kelembutan dan keberanian. Hal itu mempunyai pengaruh signifikan dalam menangkis paham radikalisme.

“Ibu sangat menentukan dalam menanamkan nilai dan ajaran perilaku pada putra putrinya. Seorang ibu akan sangat mampu melindungi dan mencegah putra dan putrinya dari pengaruh buruk dan berbahaya di lingkungan sekitarnya. Memahamkan akan bahaya radikalisme pada ibu sangat penting,” imbuh Imam.

Jaleswari menerangkan pentingnya pemahaman bahaya radikalisme dalam perspektif negara. Sementara Kurnia menceritakan kisah dan pengalamannya selama menjadi teroris. (R/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.