Sandiaga Salahuddin Uno Shalat Dhuha, Puasa dan Kerja Ikhlas

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Pergi haji ke Baitullah tahun 1998, memberi kesan spiritual mendalam bagi seorang pengusaha muda nasional, Sandiaga Salahuddin Uno.

Sandi, begitu sapaan akrabnya, saat itu menunaikan rukun Islam kelima menemani ibundanya Mien R Uno.

Kerinduan kepada Sang Khalik, membuatnya kembali menunaikan rukun Islam kelima itu, tiga tahun kemudian, tahun 2001.

Di antara pengalaman spiritual yang dirasakan, adalah saat dirinya disemprot dengan bahasa Arab oleh seorang kakek. Seperti ia ceritakan pada harian Republika.

“Ini seolah jadi peringatan, apakah saya sudah memperlakukan saudara saya sebaik mungkin di Tanah Air?”, ujarnya.

Pernah juga dia merasakan sakit karena kakinya terinjak rombongan jamaah dari Afrika, yang rata-rata berbadan tinggi besar. Seketika itu pun merenung, berusaha mengingat dan memohon ampun, “Apakah saya pernah menzalimi orang lain?” Tanyanya pada diri sendiri.

Ia juga menyebutkan, sebagai pengusaha, ia memaknai ibadah haji dengan getaran jiwa yang berbeda. Tawaf bermakna semangat untuk terus bergerak dinamis. Gerakan memutari Kabah sebanyak tujuh kali bermakna kita harus terus berusaha, tetapi dengan arah yang jelas, yaitu menjalani aturan Allah.

Tak hanya itu, haji mengajarkan sikap yang tetap rendah hati walau kesuksesan telah tercapai.

Sandiaga Uno dan isteri saat ke Baitullah (Dok Viva)

Nilai-Nilai Spiritual

Sandiaga Salahuddin Uno, kelahiran Rumbai, Pekanbaru, Riau, 28 Juni 1969, 47 tahun lalu. Kini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, mendampingi Gubernur Anies Baswedan, untuk masa bakti 2017-2022.

Terlahir dari pasangan Razif Halik Uno dan Rahmini Rachman Uno (dikenal Mien R. Uno). Sandi berada dalam lingkungan keluarga dengan anutan disiplin tinggi, ketat, tidak menyerah pada keadaan.

Karakter terbiasa menghadapi dan menuntaskan tantangan. Kalau perlu tantangan harus diciptakan. Dididik untuk tidak mencuri, tidak menipu, tidak berbohong, harus bertanggungjawab, amanah dan semacamnya, penuturan Mien, ibunya.

”Karena itu, Sandi diberi nama tengah Salahuddin, supaya mengikuti jejak Salahuddin Al-Ayyubi, salah satu pejuang muslim terkenal seantero jagad,” cerita ibunya, yang juga pakar etiket dan pengembangan diri.

Maka, Sandi yang pernah menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), periode 2005-2008, yang menikah dengan Noor Asiah, wanita asli betawi, menerapkan karakter spiritual itu dalam prinsip hidupnya.

Di antaranya, ia berkeyakinan, untuk membenahi Jakarta tidak cukup hanya dengan ilmu, pengalaman dan materi. Namun harus melibatkan “Pasukan langit”. Ia mengutip Surat Al-Fath ayat 7, yang menjelaskan bagaimana Allah memiliki pasukan langit dan bumi.

“Tentara langit itu adalah merupakan bantuan dari Allah. Dalam membangun kota Jakarta, kita tidak hanya bisa mengandalkan manusia, kita perlu doa,” kata Sandi, beberapa hari setelah pelantikannya, seperti disebutkan Kumparan.

Sandi rupanya menilai, doa yang dipanjatkan sangat penting untuk pembangunan Jakarta. Doa itu tidak hanya dipanjatkan oleh para pejabat, tapi seluruh rakyat Jakarta.

Tak heran jika shalat Dhuha pun menjadi bagian dari hidupnya setiap pagi.

“Ibadah itu kalau sudah rutin kita lakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban tapi menjadi sebuah kebutuhan. Jadi kalau aku gak shalat Dhuha seperti ada sesuatu yang hilang, aneh rasanya. Walaupun itu sunnah jadi terasa wajib. Dan aku ngerasain sekali hikmahnya. Rezki itu seperti gak aku cari, semua datang sendiri seperti dianter rezki itu kepada saya,” ujarnya, dalam dialog Strategi Manajemen.

Ia juga gemar melaksanakan puas sunah, seperti Senin Kamis dan Puasa Dawud.

Bahkan saat pelantikannya sebagai Wakil Gubernur oleh Presiden Joko Widodo, ia pun dalam keadaan berpuasa sunah.

Sandiaga Uno dan para ulama (Dok Gatra)

Kerja Keras dan Ikhlas

Menurut Wagub DKI Jakarta Sandi Uno, wagub terkaya se-Indonesia dengan total kekayaan terkini mencapai Rp 3,8 triliun. Bahwa untuk sukses, harus memiliki “Empat Kartu As”, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas.

Dalam sambutan Diskusi Publik “Melahirkan Juragan-Juragan Betawi” yang diselenggarakan Forum Jurnalis Betawi, di Gedung Pusat Kebudayaan Betawi (Eks Kodim 0505), Jatinegara, Jakarta, Jumat (27/10/2017), ia mengatakan, kerja keras, berarti untuk meraih kesuksesan, seseorang harus bekerja keras. Karena memang tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa kerja keras, ujarnya.

“Selain itu, kita juga harus kerja cerdas, yaitu dengan memanfaatkan segala kemajuan teknologi yang ada,” lanjutnya di hadapan massa yang rata-rata generasi muda, seperti dilaporkan Akademika..

Sandi menambahkan, kerja juga harus tuntas, tidak setengah-setengah.

“Yang terpenting dari semua kiat sukses itu adalah bekerja secara ikhlas karena Allah, apa pun yang kita lakukan harus didasari dengan rasa ikhlas, jangan pernah mengeluh apalagi putus asa,” imbuhnya.

“Kalau ingin sukses, perbanyaklah doa kepada  Allah,” imbuhnya.

Ia telah menggunakan rumus tersebut hingga menjadi pengusaha sukses dan kini menjadi orang kedua di Jakarta.

Sandi pernah memimpin PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, PT. iFORTE SOLUSI INFOTEK dan lainnya.

Bahkan, pada tahun 2009, Sandiaga Uno masuk dalam daftar orang terkaya ke -29 di Indonesia versi majalah Forbes.

Namun, ternyata, bagi lulusan Wichita State University, AS (tahun 1990) dan George Washington University (1992) bergelar MBA dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 4.00 itu, ternyata nilai-nilai spirituallah yang menjadikanya sukses.

Maka, ia kerap kali mengikuti kegiatan tahajud dan gerakan shubuh berjamaah. Ia juga mengajak agar para pekerja di hotel-hotel agar aktif mengikuti pengajian, untuk pembekalan jiwanya. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.