Dewi Inong Irana, Peduli Umat dan Bangsa

Dokter Dewi Inong Irana. (Dok. Pribadi)

Oleh: Rendy Setiawan, Mahasiswa STAI Al-Fatah Bogor

Dewi Inong Irana, sebuah nama yang cukup sering didengar oleh telinga masyarakat Indonesia. Dokter Inong, biasa ia disapa, kesehariannya sebagai aktivis profesional independen yang teguh menolak perilaku zina atau seks bebas dan hubungan sesama jenis.

Dokter Inong terus mengupayakan agar generasi muda Indonesia jauh dari perilaku buruk itu, karena setiap hari ia menghadapi dampak dari perilaku buruk itu yaitu penyakit Infeksi Menular Seks (IMS).

Dokter inong telah berpraktik sebagai dokter selama 30 tahun, termasuk sebagai Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin selama 15 tahun. Ia juga pernah bertugas di lima daerah berbeda di Indonesia. Ia lulusan Dokter Umum (S1) dan Spesialis Kulit dan Kelamin (S2) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Ia lahir di Banda Aceh tahun 1962. Kemudian tahun 1965 bersama ibunya pindah ke Jakarta. Sementara ayahnya adalah seorang sarjana lulusan salah satu universitas di Amerika Serikat (AS). Setelah pulang ke Indonesia, ayahnya kemudian membangun Pelabuhan Bebas Sabang yang ada di Aceh.

“Ketika usia saya tiga tahun, orang tua saya bercerai. Jadi saya dari keluarga broken home. Nah buat mereka yang berasal dari keluarga broken home juga, jangan jadi alasan untuk berbuat macam-macam,” katanya kepada penulis di kediamannya, Senin (22/1).

Lahir dari keluarga broken home, nyatanya tak membuatnya putus asa. Berkat kesabaran ibundanya dalam merawat, memperhatikan perkembangan dan pertumbuhannya sejak kecil, dokter Inong tumbuh menjadi sosok yang kini peduli terhadap masa depan umat dan bangsa. Wanita kelahiran tahun 1962 itu adalah lulusan Universitas Indonesia (UI) tahun 1987.

Masa kecil dokter Inong dilalui dengan tidak mudah. Tak heran mengingat pada saat itu adalah era akhir dari zaman orde lama (Orla), sering dibully, dan sering dijambak rambutnya. Berbekal ilmu yang pernah didapatkannya sewaktu sekolah di AS, keseharian ibunya mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak di rumah.

Apalagi hidup sebagai anak broken home pada waktu itu cukup berat. Banyak komentar miring dari masyarakat misalnya “wah ini dari keluarga broken home, orang tuanya bercerai”, dokter Inong tetap berusaha dengan keadaan ala kadarnya.

“Sejak kecil saya tetap berusaha menjadi yang terbaik dari sekolah-sekolah negeri terbaik. Alhamdulillah kemudian berhasil masuk UI (Universitas Indonesia) dengan keadaan seperti itu, ekonomi waktu itu juga pas-pasan,” katanya.

Dokter berhijab ini mengaku sangat meneladani sosok ibundanya. Banyak pelajaran hidup yang bisa didapatkannya seperti bangun malam untuk melaksanakan salat malam, berbagi terhadap sesama khususnya yang kurang mampu.

“Sampai saat ini saya selalu ingat amalan-amalan baik yang pernah dilakukan oleh ibu saya. Dan itu menjadi pelecut bagi saya untuk terus melakukan kebaikan hingga hari ini,” katanya mengenang masa-masa bersama ibundanya.

Sementara di bidang akademik dan idealisme, ayahnya adalah sosok yang ia contoh. Meski ia akui bahwa setiap manusia ada kelehamannya. Tapi itu yang saya ambil dari beliau, bisa dijadikan contoh idealismenya.

Selain kedua orang tuanya, ibu dua anak ini mengakui peran suaminya yang aktif sebagai dokter spesialis penyakit dalam subspesialis pencernaan dan liver sangat memengaruhi perjalanan karirnya hingga sekarang. Selama 29 tahun lamanya, suaminya dengan penuh cinta, kasih sayang dan kesabaran memberikan dukungan baik secara moril maupun materiil untuk kesuksesannya.

Mulai Berhijab

Ia mulai mengenakan hijab sejak tahun 1983. Diawali dari ikut kursus menyelenggarakan jenazah. “Waktu itu saya belum pakai hijab. Saya waktu itu ikut kursus menyelenggarakan jenazah. Oh jadi jenazah perempuan itu dipakein hijab. Saya liat itu, jadi deh saya pakai hijab,” katanya mengenang masa-masa awal mengenakan pakaian wajib bagi wanita muslim itu.

Sembari menyelesaikan gelar kesarjanaannya di UI, ia bekerja di Bursa Kedokteran Senat Mahasiswa FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) selama lima tahun dengan imbalan mendapatkan buku. Pada tahun 1987, ia menyelesaikan studinya di UI dengan tepat waktu. Kemudian pada tahun 1989, ia menikah dengan teman seangkatannya.

Di tahun itu juga, pemerintah menerapkan sistim wajib militer bagi mahasiswa yang baru lulus S1. Saat itu, ia ikut bersama suaminya yang ditugaskan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) selama tiga tahun.

Sewaktu tinggal di Maros, dokter Inong bekerja di Puskesmas Daya. Banyak cerita menarik yang kelak mengubahnya menjadi sosok seperti saat ini. Di sana setiap musim kering tiba, air sangat susah didapatkan.

Di puskesmas itu, dokter Inong berusaha memberikan yang terbaik di bidang kesehatan bagi masyarakat setempat. Ia selalu memeriksa para pasiennya secara gratis, mengingat kehidupan di sana yang cukup sulit dan masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Biasanya setelah pasien sembuh, mereka membayar dengan pisang satu tandan, singkong, hingga ikan hasil tangkapan laut.

“Di sana saya bekerja di salah satu puskesmas. Kalau mau pergi kemana-mana, kita harus jalan kaki dulu ke depan untuk mencari mikrolet. Termasuk pergi ke posyandu menggunakan kereta kuda. Tapi masyarakat di sana sangat menghargai sekali perbedaan,” ujarnya.

Dokter Inong pernah merawat seorang pasien yang mengidap penyakit pempighus. Sebuah penyakit yang sekujur tubuhnya dipenuhi bentol bernanah dan bau tak sedap menyengat hidung dalam jarak beberapa meter dari pasien. Ia mengaku belum pernah melihat penyakit seperti itu selama belajar di UI.

Setelah tiga tahun di Maros, dokter Inong ikut bersama suaminya yang dipindahtugaskan ke Madiun. Di tempat barunya itu, kondisinya tak jauh berbeda dari apa yang pernah dialaminya selama di Maros, yaitu kesulitan hidup masyarakat.

Tinggal di Madiun, dokter Inong juga bekerja di salah satu puskesmas di sana. Di pelosok Kabupaten Madiun, listrik tidak ada. Padahal lokasinya tak jauh dari Ibukota Jawa Timur, Surabaya. Air juga terkadang sulit didapatkan.

Selama di Madiun, ia bekerja di puskesmas Jiwan dan memegang lokalisasi WTS (Wanita Tuna Susila). Dari pengalamannya di dua daerah itu, ia ingin menjadi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. “Makanya saya mesti kasih semangat anak-anak yang terlahir dari keluarga broken home. Jangan patah arang. Tetap semangat,” katanya.

Tahun 1993, kasus HIV/AIDS pertama di Kabupaten Madiun ada di lokalisasi binaannya, karena banyak lelaki berzina. Korban pertamanya berjumlah satu orang, kemudian menyebar dengan sangat cepat. Penyebabnya adalah karena banyak lelaki yang bermain serong di tempat itu.

Ia sendiri sebagai dokter mengaku sangat tidak setuju dengan lokalisasi. Menurut dia, lokalisasi seperti sebuah keputusan yang melegalkan perzinahan. “Buktinya kasus pertama ada di situ (lokalisasi WTS),” katanya.

Dokter Inong menjelaskan, orang yang terkena penyakit HIV/AIDS pada awalnya seperti orang sehat, tetapi bisa menularkan penyakitnya, apalagi seks bebas, baik melalui mulut, kelamin, dan dubur. Gejala penyakit ini baru nampak setelah lima tahun terkena infeksi.

“Penularan termudah penyakit HIV/AIDS melalui dubur. Waktu itu kita belum ada pemeriksaan. Karena waktu itu kan pemeriksaan masih tergolong mahal,” katanya.

Pada tahun 2003-2004, dokter Inong bersama suami bertugas di Aceh yang kala itu dalam situasi darurat militer. Dengan membawa kedua buah hatinya, dokter Inong tinggal di sebuah barak berpapan triplek. Satu tujuannya kala itu, ingin meredam dan mendinginkan suasana yang sedang mencekam di Aceh.

Mengutip salah satu potongan ayat di dalam Alquran “quu anfusakum wa ahlikum naaro…” (Jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka), dokter Inong berpesan kepada masyarakat untuk menjaga diri dan orang-orang terkasihinya dari penyakit mematikan dengan cara menjauhi perilaku zina atau seks bebas, baik sesama jenis maupun lain jenis.

“Data dari CDC (Departemen Kesehatan AS) menyebutkan, menggunakan pengaman saat berhubungan badan, tingkat keamanannya hanya 26 sampai 80 persen saja. Tidak sampai 100 persen. Dan pencegahan terbaik untuk para pemuda pemudi adalah menjauhi perilaku zina dan seks bebas. Ini bukan saya yang bilang ya. Ada datanya,” katanya.

Ia mengaku akan terus mengedukasi masyarakat dengan informasi dan data mengenai bahaya zina dan perilaku seks bebas ini. Kita tidak membenci orangnya, tetapi kita tidak setuju perilakunya karena tidak sesuai dengan kepribadian bangsa yang berlandaskan Pancasila.

“Kalau mau aman, hindari seks bebas di luar pernikahan yang sah secara hukum agama dan hukum negara. Ini untuk masa depan umat dan bangsa Indonesia. Sebab jika sudah terkena penyakit HIV/AIDS, mereka bisa membebani ekonomi negara. Padahal pemuda seharus menjadi pelopor masa depan bangsa,” katanya. (A/R06/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.