Khutbah Jumat : Hidup Bersama Al-Quran

 

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA, Da’i Ponpes Al-Fatah Bogor

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالي فِي كِتَبِهِ الْكَرِيْم. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا، يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا أما بعد :

Hadirin sidang Jum’ah rahimakumullah.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang kita imani, yang berisi putunjuk hidayah kepada jalan yang lurus, jalan keselamatan, sirathal mustaqim.

Allah menyatakan di dalam ayat-Nya:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu´min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS Al-Isra’ : 9).

Di samping itu, Al-Qur’an juga merupakan petunjuk untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa khususnya dan petunjuk umum bagi seluruh manusia.

Petunjuk bagi seluruh kemaslahatan baik dunia maupun akhirat. Al-Quran merupakan sumber rujukan bagi kehidupan manusia. Tanpa Al-Quran, manusia akan menyimpang dan tersesat dari tujuan yang sebenarnya. Ini seperti Allah tegaskan di dalam ayat:

ذٰلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 2).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al-Baqarah : 185).

Hadirin yang dirahmati Allah.

Oleh karena itu, berinteraksi dengan Al Quran, hidup selalu bersama Al-Quran, dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari adalah suatu kemuliaan yang sangat besar. Membacanya adalah suatu keberuntungan yang sangat luar biasa, tiada terputus, dan tidak akan pernah merugi.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS Fathir: 29-30).

Di dalam hadits disebutkan:

مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيَ السَّائِلِينَ ، وَفَضْلُ كَلاَمِ اللهِ عَلَى سَائِرِ الكَلاَمِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang disibukkan dengan Al-Quran dalam rangka berdzikir kepada-Ku dan tidak sempat memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR At-Tirmidzi).

Selain itu, mengkaji Al-Quran adalah kemuliaan yang sangat besar untuk manusia. Allah Tuhan Yang Maha Besar, Maha Tinggi, bermaksud memberikan kepada manusia kemuliaan untuk berbicara dan berkomunikasi dengan-Nya melalui ayat-ayat Al Quran ini. Kemuliaan ini tidak diberikan kepada makhluk-makhluk yang lainnya termasuk para Malaikat.

Ibnu Shalah berkata dalam fatwanya menyebutkan:

قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ كَرَامَةٌ أَكْرَمَ اللهُ بِهَا الْبَشَرَ فَقَدْ وَرَدَ أَنَّ الْمَلَائِكَةَ لَمْ يُعْطُوْا ذَلِكَ وَأَنَّهَا حَرِيْصَةُ لِذَلِكَ عَلَى اسْتِمَاعِهِ مِنَ الْإِنْسِ.

Artinya: “Membaca Al-Quran merupakan sebuah kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Dan terdapat dalam riwayat, bahwa para malaikat tidak mendapat kemuliaan ini, tetapi mereka sangat antusias untuk mendengarkannya dari manusia.”  

Ini seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa seorang sahabat bernama Usaid bin Al-Hudhair pada suatu malam membaca Al-Quran di beranda rumahnya. Di sana tertambat seekor kuda yang siap digunakan untuk berjihad. Sedangkan anaknya tidur di samping beliau.

Ketika Usaid bin Al Hudhair membaca awal surah Al-Baqarah, kudanya berontak lari berputar-putar sampai hendak memutuskan talinya. Kejadian itu berulang berkali-kali saat Usaid melanjutkan bacaan Al-Quran-nya. Seketika Usaid memandang ke arah langit, ia melihat satu naungan awan seperti payung yang sangat mengagumkan. Payung itu sangat indah berkilatan, tergantung memenuhi ufuk dengan cahayanya yang sangat terang.

Lalu keesokan harinya, ia ceritakan kepada baginda Nabi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda: “Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Al Qur’an, wahai Usaid. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah orang banyak akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.”

Kaum Muslimin yang berbahagia

Mencintai Al-Quran, membacanya, mempelajarinya dan mengajarkannya adalah merupakan ciri orang-orang terbaik. Ini seperti disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

خَيْرُكُمْ مَن تَعَلَّمَ الْقُرْاَنُ وَعَلَّمَهُ

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

Mereka itulah orang terbaik yang memiliki keistimewaan khusus di hadapan Allah, sebagai keluarga Allah. Seperti sabdanya:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَهْلَيْنِ مِنَ النَّاسِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai keluarga dari manusia.” Ada yang bertanya, “Siapa mereka itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:

أَهْلُ الْقُرْآنِ، هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَصَّتُهُ

“Ahlul Qur’an. Mereka adalah keluarga Allah yang telah dikhususkan-Nya.” (HR Ibnu Majah).

Karena itu, kaum Muslimin muallaf di Eropa, Amerika, China, dan lainnya berbondong-bondong mendatangi Islamic Center untuk belajar membaca Al-Quran. Para qari’, Imam Masjid, pun didatangkan dari mancanagara, termasuk dari Indonesia.

Di Jakarta, kampus-kampus terkemuka, dan perkotaan, pun demikian. Para pejabat, staf instansi, karyawan, guru, dengan antusias mendatangi majelis-majelis Al-Quran, karena kecintaan mereka kepada Al-Quran.

Muncullah gerakan One Day One Juz, One Week One Juz, dsb, dalam rangka menciptakan tiada hari tanpa membaca Al-Quran.

Sebaliknya, kalau manusia berpaling dari Al-Quran, jauh dari peringatan-Nya, maka ia akan berdosa dan menghadapi kehidupan yang sempit.

Allah memperingatkan di dalam ayat:

مَّنۡ أَعۡرَضَ عَنۡهُ فَإِنَّهُ ۥ يَحۡمِلُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وِزۡرًا

Artinya: ”Barangsiapa berpaling dari Al-Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari Kiamat.” (QS Thaha: 100).

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِڪۡرِى فَإِنَّ لَهُ ۥ مَعِيشَةً۬ ضَنكً۬ا وَنَحۡشُرُهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ أَعۡمَىٰ 

Artinya: ”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124).

Semoga kita termasuk golongan yang semakin mencintai Al-Quran guna menggapai ridha-Nya. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/P1)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وِلَكُمْ

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.