Seribu Hari Serangan Koalisi Saudi ke Yaman

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Pekan ini menandai seribu hari sejak koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan bombardir ke negeri Yaman. Yang terjadi kemudian adalah berjangkitnya epidemi kolera terburuk di dunia dan pelanggaran hak asasi manusia paling mengerikan akibat perang yang terlupakan karena sebagian besar dunia telah mengabaikannya.

Yemen Data Project yang dirilis pekan ini menunjukkan, sejak 26 Maret 2015, ketika serangan udara dimulai, sebanyak 15.489 serangan udara koalisi telah melanda negara tersebut. Hampir sepertiganya menargetkan situs-situs non-militer.

Bahkan pada paruh pertama bulan Desember 2017 saja, 33 serangan udara telah menargetkan daerah pemukiman.

Sumber PBB mengatakan, lebih dari 60.000 orang telah terbunuh atau terluka dalam perang tersebut. Sementara Unicef ​​mengkhawatirkan 150.000 anak-anak dapat meninggal pada akhir tahun 2017. Sekitar 2.200 orang lainnya telah meninggal karena kolera.

Bahkan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) melaporkan, 90 persen dari 25 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dari data itu, 17,8 juta orang kekurangan makanan dan minuman. Sementara akibat krisis itu dua juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Badan PBB untuk Urusan  Anak (UNICEF) melaporkan, tercatat lebih dari 11 juta anak-anak Yaman saat ini sangat memerlukan bantuan kemanusiaan.

Kurangnya perhatian media dan internasional terhadap situasi kemanusiaan Yaman dianggap menjadi salah satu faktor penyebab meningkatknya krisis di negara itu.

Serangan Berlanjut

Namun, walaupun krisis kemanusiaan sangat memprihatinkan, serangan koalisi Saudi terus berlanjut, bahkan menyasar ke tempat-tempat klinik kesehatan.

Sementara, beberapa orang hidup dalam satu roti dalam sehari. Yang lain, terpaksa harus berjalan beberapa mil untuk sekedar membeli sembako.

Inggris, walaupun memperingatkan Saudi bahwa serangan berlanjut itu bisa melanggar hukum internasional, karena menghalangi pengiriman makanan dan bahan bakar ke Yaman.

Namun, Inggris telah menjual 4,6 miliar dolar AS senjata ke Saudi sejak perang dimulai.

Apalagi Amerika Serikat, negara ini mengirimkan data intelijen ke pasukan koalisi perang dan suplai senjata.

Apa peran dan daya PBB? Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres walaupun sudah meminta AS untuk menekan Arab Saudi mengakhiri serangan ke Yaman. Namun tampaknya belum berbuah apa-apa.

Guterres malah menyebut, itu adalah perang yang bodoh, dan menambahkan bahwa yang dibutuhkan Yaman adalah solusi politik.

“Saya pikir perang ini bertentangan dengan kepentingan Arab Saudi dan Emirat dan rakyat Yaman sendiri,” katanya, seperti disebutkan Press TV.

Save Yaman

Dana Kemanusiaan Yaman (YHF) yang dikelola oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan, telah mengalokasikan dana US $ 70 juta (sekitar Rp947 miliar) untuk kegiatan penyelamatan krisis di seluruh Yaman saat ini.

Melalui alokasi ini, yang tentu masih jauh dari keperluan sesungguhnya, tapi paling tidak akan membantu menangani kerawanan pangan dan kekurangan gizi, memperbaiki akses terhadap layanan makanan, kesehatan, air dan sanitasi, dan menangani kolera yang sedang berlangsung, kata Jamie McGoldrick, Koordinator YHF, seperti dilansir Relief Web.

Alokasi dana juga untuk menyediakan paket bantuan minimum, termasuk tempat tinggal, barang-barang non-pangan dan layanan perlindungan kepada orang-orang yang paling rentan di antara pengungsi, serta orang-orang yang kembali dari mengungsi.

Ada 95 kabupaten di 15 provinsi di seluruh negeri telah diprioritaskan oleh YHF, termasuk Aden, Al-Bayda Al-Dhale’e, Hadramaut, Hajjah, Lahj, Sa’ada Shabwah dan Taizz.

Tentu menjadi kewajiban kita semua atas nama kemanusiaan, kebudayaan dan peradaban untuk menyelamatkan warisan peradaban dan nasib warga negeri penuh hikmah dan iman, Yaman.

Di sini hati nurani manusia sangat menentukan ke arah penghentian perang, solusi politik damai bukan senjata militer, dan aksi peduli kemanusiaan.

Maka, patut didukung dan dikampanyekan lebih luas lagi, apa yang dinyatakan Jama’ah Muslimin (Hizbullah), wadah kesatuan umat Islam berpusat di Pesantren Al-Fatah Bogor, melalui Lembaga Kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG) Sekretariat Internasional Jakarta. AWG telah menggagas membuka infaq donasi Peduli Yaman. Di samping tetap melanjutkan donasi Peduli Palestina, Suriah, Rohingya, dan lainnya yang selama ini berlangsung.

Seribu hari serangan koalisi Arab ke saudaranya Arab Yaman, ternyata bukan solusi. Ia justru semakin memperburuk dan memperparah penderitaan jutaan rakyat atas nama kepentingan politik tertentu.

Seribu hari serangan ke Yaman, kiranya segera dihentikan, agar anak-anak kembali dapat kembali bermain dengan ceria, agar para orang tua dapat menikmati sisa-sisa umurnya dengan damai, dan agar para pelajar dan mahasiswa dapat menuntut ilmu untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Juga, agar darah tidak mengalir lagi dan agar nyawa anak-anak dan warga tak berdosa, yang tak terlibat politik dan sekte apapun, dapat terselamatkan. (A/RS2/B05)

Sumber: Middle East Monitor, Relief dan Mirajnews.

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.