Pemimpin yang Diberi Kepemimpinan

Ilustrasi seorang pemimpin (leader). (Gambar: dok. Tips Dokter Cantik)

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj News Agency (MINA)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٲمِينَ بِٱلۡقِسۡطِ شُہَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ أَوِ ٱلۡوَٲلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَ‌ۚ إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرً۬ا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِہِمَا‌ۖ فَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلۡهَوَىٰٓ أَن تَعۡدِلُواْ‌ۚ وَإِن تَلۡوُ ۥۤاْ أَوۡ تُعۡرِضُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرً۬ا

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisaa’ [4] ayat 135).

Semakin dewasa perjalanan bangsa Indonesia, serasa bukan kematangan sebagai negara besar yang terbentuk, justru yang rakyat saksikan adalah bangsa yang penuh masalah.

Permasalahan kompleks bangsa ini dari masalah kekurangan gizi di daerah, kemiskinan dan pengangguran yang terus bertambah, rawannya isu SARA, kriminal yang marak, darurat narkoba, darurat pendidikan, pergaulan bebas generasi muda, korupsi yang tetap subur, pengadilan yang tidak adil, perebutan tahta di kancah perpolitikan, hingga terpuruknya prestasi olah raga dalam negeri dan internasional.

Bangsa dan negara ini ibarat sebuah bahtera yang berlayar mengarungi lautan waktu. Baik buruknya suasana dalam bahtera hingga mampunya melewati tingginya gelombang dan dahsyatnya badai, tergantung dari kemahiran Sang Nahkoda memimpin awak dan mengendalikan laju bahtera yang bernama Nusantara.

Memang tidak bijak jika hanya menyalahkan para pemimpin dari keterpurukan suatu bangsa. Namun, pemimpin menjadi simbol yang bertanggung jawab atas segala kesalahan yang terjadi. Sebab, tangan para pemimpinlah yang memegang kunci kebijakan untuk menata wilayah dan masyarakat agar menjadi baik kondisinya, bahkan bisa menjadi percontohan bagi masyarakat dunia lainnya.

Jika melihat dari sisi cara para pemimpin menduduki kursi kepemimpinannya, tidak salah jika kita memperhatikan dan merenungi rumusan dalam Islam yang pernah disabdakan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada sahabatnya, Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu.

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

Artinya, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun, jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (Shahih Bukhari)

Termasuk ketika sahabat Abu Dzar Al-Ghifari meminta suatu jabatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan berkata, “Tidakkah engkau mengangkatku menjadi pegawai?”

Maka Rasulullah memukulkan kedua tanganya di kedua pundak Abu Dzar seraya berkata, ”Sesungguhnya engkau adalah lemah dan perihal yang engkau minta adalah amanah, dan sesungguhnya kelak di hari kiamat akan jadi kesedihan dan penyesalan, kecuali bagi orang mengembannya dengan hak dan menunaikan kewajiban dari kepemimpinannya.”

Para khalifah pemimpin umat Islam dunia, hampir semuanya menjadi pemimpin karena mereka diberi kepemimpinan itu, tidak memintanya, kecuali beberapa khalifah yang memimpin karena merebut dari pemimpin sebelumnya.

Para khalifah Khulafaur Rasyidin menjadi pemimpin karena dipilih oleh umat. Para khalifah di masa dinasti kerajaan menjadi pemimpin karena diberi tahta oleh ayahnya sebagai khalifah sebelumnya.

Memang tidak semua menuai masa kejayaan, tapi di masa kekhilafahanlah muslimin pernah memimpin dan disegani dunia.

Salah satu masa keeemasan umat Islam adalah di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Di masa Dinasti Bani Umayyah, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik tidak mengikuti tradisi tujuh khalifah Bani Umayyah sebelumnya. Ia tidak menurunkan tahta kekhalifahan kepada putranya. Menjelang wafatnya, ia justru menulis surat wasiat yang menunjuk sepupunya, Umar bin Abdul Aziz, menjadi khalifat selanjutnya.

Maka, di masa pemerintahan Khalifah Umar inilah, untuk pertama kalinya tidak ada mustahik yang bisa didapati untuk diberi pembagian zakat. Atau ketika ada seorang yang membawa banyak harta untuk dibagi-bagikan kepada orang lain, tapi tak seorang pun datang untuk mengambilnya, karena rakyat tidak ada yang merasa kekurangan harta. Kondisi di era itu menunjukkan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Muslim yang luar biasa.

Berkaca pula kepada Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Bagaimana pahlawan Indonesia tersebut berhasil membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang layak dan tampil disegani di kancah dunia internasional. Kita ketahui semua dan sejarah mencatat, Soekarno tidak meminta untuk memimpin Indonesia, tetapi ia diminta oleh para pejuang kemerdekaan untuk mengasuh bayi yang bernama Indonesia sehingga tumbuh dewasa sebagai sebuah bangsa berdaulat.

Membandingkan hari ini, para pemimpin dan penguasa yang seolah-olah merupakan pilihan hati rakyat, terbukti banyak menyakiti hati rakyat karena kebijakan mereka yang tidak pro raykat, malah pro kepada kaum kapitalis asing dan pro kepada kaum yang berkepentingan.

Dari tingkat RT hingga orang nomor 1 di Indonesia, pemimpin mana yang tidak meminta untuk dipilih.

Jabatan dan kepemimpinan adalah amanah. Jika merenungi sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, timbul pertanyaan. Apakah salah satu penyebab terpuruknya bangsa ini disebabkan para pemimpin yang menjabat karena mereka memintanya?

Jika merujuk pada hadits tersebut di awal, itu berarti, jika selama para pemimpin negeri ini adalah orang-orang yang meminta amanah, maka selama itu pula mereka tidak ditolong oleh Allah dalam menahkodai bahtera bangsa ini.

Namun demikian, kita masih bisa berharap kepada para kaum mukhlisin di negeri ini menjadi penyelamat bangsa. Doa orang-orang beriman, doa orang-orang teraniaya, doa para pengabdi bangsa yang ikhlas, dan doa para ulama.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ‌ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‌ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ

Artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 186).

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُصْعَدُ إِليَ السَّمَاءِ كَأَنَّهَا شَرَارَةٌ

Artinya, “Waspadailah doa orang yang dizalimi (teraniaya), sebab ia akan diangkat naik ke langit seakan-akan bagai percikan bunga api.” (Hadits shahih). (A/RI-1/RS1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Rate this article!

Related Posts

Comments are closed.