“Memprotes” Allah yang Menjamin Rezeki

Ilustrasi prampok. (Gambar: dok. OkeZone)

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj News Agency (MINA)

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ

Artinya, “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat [51] ayat 22)

Siapa yang berani terang-terangan memprotes Allah tentang rezeki? Akan sulit ditemukan orang yang secara terang-terangan memprotes Allah dengan lisannya bahwa dirinya tidak diberikan rezeki oleh Allah.

Kesempitan pikiran terkadang membuat seseorang hanya menilai rezeki itu hanya dalam bentuk uang atau harta kekayaan. Orang-orang yang berpikiran sempit dan merasa diabaikan oleh Allah seperti inilah yang banyak melakukan protes kepada Allah tanpa mereka sadari.

Ketika mereka merasa usaha-usaha halal tidak bisa didapat, bertahan justru membuat mereka tidak mendapatkan penghasilan apa-apa, maka mereka pun tanpa sadar memprotes Allah dengan cara melanggar larangannya. Mereka mengambil jalan dan usaha-usaha haram yang sangat jelas dilarang oleh Allah, berbagai macam bentuknya, hanya demi mencari rezeki yang mereka anggap hanya “uang” adanya.

Padahal Allah Ta’ala telah menjanjikan melalui firman-Nya,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud [11] ayat 6)

Sangat banyak fakta dalam kehidupan sehari-hari kita saksikan, orang-orang yang bekerja memburu rezeki hingga berlari, melompat, jatuh dan tersungkur, bahkan nyawa dipertaruhkan, tetapi tidak sedikit pun mereka mempedulikan siapa yang memberi mereka rezeki itu. Seolah rezeki, nasib dan kemalangan, mereka sendiri yang menentukan.

Bukannya Allah tidak memberikan rezeki bagi orang-orang yang kesulitan memperoleh uang, hanya saja, Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, untuk suatu hikmah yang hanya Allah mengetahuinya.

Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

Artinya, “Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (QS. An-Nahl [16] 71)

 

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut [29] ayat 62)

Semua makhluk diberi rezeki sesuai keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak hanya berupa uang dan harta semata, tapi segala nikmat yang Allah berikan.

Tersebutlah kisah seorang ulama saleh, yaitu Imam Al-Ashma’i di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Suatu hari, Imam Al-Ashma’i melakukan perjalanan untuk berhaji ke Baitullah di Masjidil Haram, Makkah.

Namun, di tengah perjalanan, imam dalam ilmu nahwu ini dihadang oleh seorang perampok yang sudah menghunus pedangnya dan siap membunuh. Sebelum melakukan niatnya, si perampok bertanya, “Apa pekerjaanmu?”

Imam Al-Ashma’i menjawab, “Aku mengajar anak-anakku menghafal Kitab Allah Ta’ala.”

Si perampok bertanya lagi, “Coba perdengarkan kepadaku satu ayat dari kitab itu. Aku pernah mendengarnya, akan tetapi tidak pernah kubaca.”

Pada saat-saat seperti itu, terlihatlah kecemerlangan Imam Al-Ashma’i dalam memilihkan ayat yang menyentuh lubuk hati si perampok. Imam Al-Ashma’i membacakan QS. Adz-Dzariyat [51] ayat 22, yang artinya, “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.”

Setelah perampok itu mendengarkan ayat tersebut, air matanya menetes, hatinya langsung tergetar mendengar alunan merdu ayat Allah yang demikian agungnya. Saat itu pula ia menyadari dan menyesali semua perbuatan dosanya yang lalu. Pedang yang sudah terhunus ke arah Imam Al-Ashma’i tidak terasa terjatuh ke tanah.

“Ya Rabbi, Mahasuci Engkau, Ya Allah. Engkau telah menjamin rezekiku di langit, tapi aku masih saja melanggar-Mu. Wallahi (demi Allah)! Sejak kini aku akan menghentikan pekerjaan hinaku ini untuk selama-lamanya. Aku bertobat kepada-Mu, ya Allah,” ratap si perampok menyesal kepada Allah.

Kemudian si perampok berkata kepada Imam Al-Ashma’i, “Waha Fulan, silakan engkau pergi ke mana pun kau mau dengan bebas!”

Setelah dibebaskan oleh si perampok, Imam Al-Ashma’i melanjutkan perjalanannya menuju Makkah.

Di Masjidil Haram, ketika ia sedang berkeliling tawaf di Ka’bah, ia mendengar tangisan dan rintihan seorang jama’ah di depan pintu Ka’bah. Sambil menangis orang itu memohon, “Ya Ilahi, inilah aku sedang bersimpuh di depan pintu rumah-Mu untuk memohon ampunan-Mu. Janganlah aku diusir dari rahmat-Mu dan jangan Engkau biarkan aku kembali dengan tangan hampa dari hadapan-Mu, ya Allah.”

Imam Al-Ashma’i berhenti sejenak dari ibadahnya untuk mendengarkan keluhan orang tersebut. Setelah diamati baik-baik wajahnya, kini dia tahu bahwa orang yang sedang berdoa itu ternyata perampok yang bertobat di hadapannya tempo hari.

Demikianlah kisah contoh bahwa orang yang kesempitan dalam hal rezeki harta, tidak perlu memprotes Allah dengan melanggar aturan-Nya.

Wajib disimak sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Artinya, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram.” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani mensahihkannya). (A/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.