Nenek Palestina 82 Tahun, 70 Tahun Terusir dari Kampung Halaman

 

Fadila Al-Ashi (MEE)

Jalur Gaza, MINA – Pada kursi kayu kecil di depan rumahnya di lingkungan Al-Nasr kota Gaza utara, duduk dengan mata menerawang jauh ke seberang sana, seorang nenek Fadila al-Ashi berusia 82 tahun.

Ia masih tetap bersemangat untuk mendiskusikan topik favoritnya, yaitu masa lalu penuh kenangan dan rumahnya di kampung halamannya, Beersheba, yang saat ini dalam pendudukan Zionis Israel.

“Masih terbayang”, ujarnya lirih. Saat itu, nenek itu bersama warga lainnya terbangun suatu hari oleh pasukan Israel yang telah menyerbu lingkungan kampung mereka tinggal.

Seluruh warga dipaksa meninggalkan rumah dan kampung halaman tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Saya duduk di sini ketika cucu saya bertanya tentang kampung halaman saya. Saya masih ingat semuanya seolah-olah itu terjadi kemarin,” kata Fadila kepada wartawan Middle East Eye.

“Saya lahir dan tinggal di Beersheba selama 12 tahun. Ayah saya adalah pemilik toko kecil, dan meskipun kami tidak punya banyak uang saat itu, tapi kami jauh lebih bahagia daripada sekarang,” lanjutnya.

Namun kebahagiaan masa kecil bersama keluarga tercintanya akhirnya punah porak poranda oleh kejahatan pasukan Zionis Israel. Hingga ia pun bersama orang tua dan beberapa tetangganya mengungsi ke Jalur Gaza.

Fadila Al-Ashi adalah salah satu dari lebih dari 750.000 warga Palestina yang dipaksa mengungsi dari kota-kota dan desa-desa mereka di wilayah Palestina yang diduduki.

“Masih terbayang, kami berjalan berjam-jam lamanya sampai akhirnya kami tiba di Jalur Gaza ini. Situasinya waktu itu tidak lebih baik daripada di sana. Kami tidur selama beberapa hari di kandang kuda dan berpikir kami akan segera kembali ke desa kami, tetapi itu tidak pernah terjadi, sampai saat ini.”

Ia kini berusia 82 tahun, saat dulu ia seoang anak berusia 12 tahun. Tak terasa 70 tahun sang nenek mengembara dipaksa meninggalkan masa kecilnya, saat bermainnya, kampung halamannya, tumpah darahnya.

Menurutnya, ia masih memendam rasa optimis, kelak impian kembali bagi para pengungsi Palestina hanyalah masalah waktu.

“Kami masih memiliki kunci rumah kami yang tergantung di dinding kami selama bertahun-tahun. Kami meminta ayah kami untuk menyingkirkannya, tetapi dia selalu menolak dan mengatakan akan segera kembali suatu saat nanti,” katanya.

Kini, hampir 70 tahun kemudian, jumlah pengungsi Palestina di seluruh dunia sudah mencapai lebih dari 5,34 juta orang, menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).

Nenek Fadila, juga warga Palestina lainnya di Jalur Gaza, dan di seluruh pengungsian di dunia, berharap impian itu dapat terwujud dengan adanya gerakan akbar kembali ke tanah air ”The Great Return March”.

Jaringan besar aktivis Palestina yang didukung seluruh faksi Palestina mempersiapkan aksi massal 46 hari untuk menuntut hak mereka kembali, sejak Jumat 30 Maret. Gerakan massif yang berlangsung di beberapa daerah termasuk Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem. Penyelenggara juga menyerukan protes dan pawai di Yordania, Suriah dan Lebanon.

Aksi itu, yang mempersembahkan 18 gugur sebagai syuhada, dan 1.416  korban luka, dilaksanakan bertepatan dengan apa yang disebut Palestina sebagai Hari Tanah. Hari menandai pasukan Israel saat menewaskan enam orang Palestina selama protes terhadap penyitaan tanah pada tahun 1976.

Ya, 70 tahun bukan waktu yang sebentar. Sebuah ketabahan bercampur kerinduan yang memuncak itu hendak menemui hasilnya. Kita doakan dan dukung bersama. (A/RS2/P1)

Sumber : Middle East Eye.

Mi’raj News Agency (MINA)

Tags:

Related Posts

Comments are closed.